Apakah Burnout Termasuk Gangguan Kesehatan Mental?
CNN Indonesia
Minggu, 22 Agu 2021 11:30 WIB
Bagikan:
url telah tercopy
Istilah burnout semakin populer di kalangan pekerja untuk menggambarkan stres dan lelah. Apakah burnout termasuk gangguan kesehatan mental?(Foto: iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --
Di masa pandemi Covid-19 ini, istilah burnoutsemakin populer di kalangan pekerja. Burnout jadi kata-kata yang menggambarkan stresdan lelah tak berkesudahan karena pekerjaan.
Apakah burnout termasuk gangguan kesehatan mental?
Psikolog Rena Masri menyatakan burnout tidak termasuk dalam gangguan kesehatan mental. Rena menjelaskan burnout merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi tertekan atau stres berkepanjangan yang dipicu pekerjaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Burnout ditandai dengan motivasi kerja yang menurun, rasa lelah walau pekerjaan tak banyak, dan timbul rasa tidak suka pada pekerjaan sehingga performa pun menurun.
"Burnout sendiri tidak termasuk di gangguan kesehatan mental. Ini lebih ke kondisi psikologis karena tekanan dalam pekerjaan," kata Rena melalui pesan singkat pada CNNIndonesia.com, Jumat (20/8).
Burnout dapat Menyebabkan Gangguan Kesehatan Mental
Namun, saat burnout tidak diatasi dan terus dibiarkan dalam waktu lama, kondisi ini dapat mengarah ke gangguan kesehatan mental.
Psikolog Firman Ramdhani mengatakan burnout tidak boleh dianggap remeh. Menurut Firman, burnout tidak bisa dilihat sebagai dampak pekerjaan saja tetapi ada faktor risiko lain.
Mulai dari karakter kepribadian yang mudah cemas sehingga lebih rentan burnout, tidak memiliki kemampuan mengendalikan stres yang baik, gaya hidup berisiko seperti sering begadang, makan junk food, dan konsumsi alkohol berlebih.
Firman menambahkan baik burnout dan depresi memang memiliki kemiripan. Namun, yang membedakan keduanya adalah burnout berkaitan dengan pekerjaan, sedangkan depresi timbul belum tentu karena pekerjaan.
Seorang yang mengalami burnout terus-menerus, tanpa ada penanganan baik bisa mengarah pada depresi. Namun seorang yang depresi belum tentu berawal dari stres pekerjaan dan burnout.
"Burnout ini terlihat saat performa kerja turun, mulai enggak fokus, pekerjaan enggak selesai-selesai padahal biasanya cepet, lelah secara fisik dan emosional, tidak termotivasi, mirip dengan gejala depresi. Orang yang depresi kan lelah banget," kata Firman.
Dia berkata penegakan diagnosis depresi akan menggunakan daftar cek tambahan termasuk rentang waktu keluhan.
Di sisi lain, Firman mengatakan stres justru dapat membawa manfaat jika takarannya pas.
Jika digambarkan dalam kurva, saat stres berada di kurva normal (titik tertinggi dan posisi di tengah), orang bisa mencapai puncak performa. Di sini, stres tidak terlalu rendah dan tidak terlalu tinggi. Sedangkan saat stres terlalu rendah (berada di sisi kiri kurva), justru timbul rasa bosan.
"Enggak ada tantangan lagi, semua sudah dikuasai jadi bosan. Bosan itu stres yang paling rendah. Nah kalau kurvanya di ujung [kanan], itu bahaya, ya burnout tadi," kata Firman.
Pada beberapa orang, stres yang tinggi hingga burnout bisa menimbulkan gejala fisik seperti sakit kepala, migrain, vertigo bahkan GERD atau masalah pencernaan lain.
Jika Anda mengalami burnout, segera atasi penyebab stres dan kelola stres dengan baik. Jika burnout tak membaik, konsultasikan dengan ahli seperti psikolog.