Menyibak Kelamnya Pandemi Bayangan Kekerasan Berbasis Gender
CNN Indonesia
Kamis, 25 Nov 2021 07:20 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Kekerasan berbasis gender (KBG) menjadi fenomena shadow pandemic alias pandemi bayangan saat pandemi Covid-19. Di masa pandemi angkanya meningkat pesat.(Istockphoto/iweta0077)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kekerasan terhadap perempuan memang sudah acap kali terjadi di Indonesia. Namun dalam beberapa tahun belakangan, kekerasan berbasis gender juga makin marak terjadi.
Kekerasan berbasis gender (KBG) ditengarai jadi efek samping penanganan pandemi Covid-19. Bahkan KBG sendiri bisa dibilang fenomena shadow pandemic alias pandemi bayangan. Terbukti dari penelitian yang dilakukan Jakarta Feminist akhir 2020 lalu.
Satu hal yang mengejutkan, ternyata rumah, yang dianggap sebagai lokasi paling aman, malah jadi lokasi di mana kekerasan terjadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hasil survei Jakarta Feminist akhir 2020, jumlah laporan kekerasan berbasis gender naik signifikan, termasuk kekerasan berbasis gender (yang terjadi secara) online," ujar Yoane Salim, salah satu pengurus Jakarta Feminist dalam konferensi pers Feminist Festival, Kamis (18/11).
Penelitian dengan metode survei ini melibatkan 315 responden korban KBG dari 25 provinsi di Indonesia. Hasilnya, lebih dari separuh responden (52,2 persen) mengalami KBG selama pandemi dengan mayoritas korban merupakan perempuan (55 persen). Kemudian jenis kekerasan yang paling sering dialami adalah kekerasan verbal (79 persen) mulai dari caci maki, diremehkan, dipanggil dengan sebutan kasar, ancaman juga gaslighting (diberitahu bahwa yang dialami cuma bayangan saja). Selain itu ada yang mengalami kekerasan psikis (77 persen), kekerasan seksual (65 persen), kekerasan online (48 persen), kekerasan fisik (39 persen) dan kekerasan ekonomi (24 persen).
Dari survei terlihat sebanyak 22 persen responden merupakan korban 'baru' kekerasan di mana kekerasan baru terjadi selama pandemi.
Sedangkan mayoritas responden sudah pernah mengalami kekerasan sebelum pandemi. Angka 22 persen korban 'baru' ini jelas menunjukkan peningkatan. Pandemi pun membawa perubahan pada frekuensi maupun intensitas (tingkat keparahan) kekerasan. Sebanyak 24 persen responden melaporkan peningkatan kekerasan, sedangkan 44 persen melaporkan peningkatan intensitas kekerasan.
Sementara itu, rumah atau tempat tinggal jadi lokasi paling sering terjadi KBG. Sebanyak 56 persen responden mengaku mengalami kekerasan di rumah mereka masing-masing.
"Lebih dari separuh korban mengalami kekerasan di tempat tinggal, yang artinya kebanyakan korban mengenal pelaku kekerasan. Dan 38 persen mengatakan banyak mereka mengalami kekerasan lewat media sosial," imbuh Yoane.
Dalam penelitian disebutkan, mayoritas responden mengenal pelaku (74 persen), bahkan pelaku kekerasan merupakan orang terdekat termasuk pasangan (27 persen).
Mencari bantuan
Jakarta Feminist menangkap mayoritas korban KBG tidak melapor. Hal ini bisa dipahami sebab tentu ada kebingungan mau lapor ke mana, rasa takut apalagi jika pelaku merupakan orang terdekat dan serumah juga alasan-alasan lain.
Oleh karena itu, ada inisiatif untuk menginisiasi situs carilayanan.com sebagai situs di mana siapapun bisa mendapat informasi mengenai lembaga layanan terdekat. Noval Auliady dari Jakarta Feminist menjelaskan jika korban ingin melapor tetapi khawatir ketahuan pelaku karena serumah, bisa menggunakan domain berbeda yakni, belipotbunga.com.
Situs layanan ini sudah aktif sejak soft-launching pada Februari 2021 lalu. Di sini pengunjung situs bisa menelusuri lembaga layanan berdasar kategori maupun lokasi. Kemudian terdapat tombol keluar cepat di tiap halaman dan membawa pengguna ke situs-situs lain yang netral misal, YouTube atau Google.
"Situscarilayanan.comtidak menerima pelaporan secara langsung, namun langsung memberikan informasi lembaga layanan agar mengurangi proses pelaporan yang panjang dan pengulangan cerita yang menambah beban korban. Hal ini juga dilakukan untuk mengurangi risiko kebocoran data karena keamanan dan privasi korban adalah prioritas kami," jelas Noval dalam kesempatan serupa.
Sementara itu, Anda pun bisa berpartisipasi untuk mencegah KBG. Menurut Noval cara paling sederhana adalah tidak menormalisasi kekerasan dalam bentuk apapun dan di manapun.
"Dan sebenarnya kita semua yang melihat, sebagai saksi punya tanggung jawab untuk mengintervensi karena korban bebannya sudah sangat besar sekali dan tidak adil untuk kita berharap mereka menghentikan kekerasan yang terjadi pada dirinya," kata dia.
Jakarta, CNN Indonesia --
Kekerasan terhadap perempuan memang sudah acap kali terjadi di Indonesia. Namun dalam beberapa tahun belakangan, kekerasan berbasis gender juga makin marak terjadi.
Kekerasan berbasis gender (KBG) ditengarai jadi efek samping penanganan pandemi Covid-19. Bahkan KBG sendiri bisa dibilang fenomena shadow pandemic alias pandemi bayangan. Terbukti dari penelitian yang dilakukan Jakarta Feminist akhir 2020 lalu.
Satu hal yang mengejutkan, ternyata rumah, yang dianggap sebagai lokasi paling aman, malah jadi lokasi di mana kekerasan terjadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hasil survei Jakarta Feminist akhir 2020, jumlah laporan kekerasan berbasis gender naik signifikan, termasuk kekerasan berbasis gender (yang terjadi secara) online," ujar Yoane Salim, salah satu pengurus Jakarta Feminist dalam konferensi pers Feminist Festival, Kamis (18/11).
Penelitian dengan metode survei ini melibatkan 315 responden korban KBG dari 25 provinsi di Indonesia. Hasilnya, lebih dari separuh responden (52,2 persen) mengalami KBG selama pandemi dengan mayoritas korban merupakan perempuan (55 persen). Kemudian jenis kekerasan yang paling sering dialami adalah kekerasan verbal (79 persen) mulai dari caci maki, diremehkan, dipanggil dengan sebutan kasar, ancaman juga gaslighting (diberitahu bahwa yang dialami cuma bayangan saja). Selain itu ada yang mengalami kekerasan psikis (77 persen), kekerasan seksual (65 persen), kekerasan online (48 persen), kekerasan fisik (39 persen) dan kekerasan ekonomi (24 persen).
Dari survei terlihat sebanyak 22 persen responden merupakan korban 'baru' kekerasan di mana kekerasan baru terjadi selama pandemi.
Sedangkan mayoritas responden sudah pernah mengalami kekerasan sebelum pandemi. Angka 22 persen korban 'baru' ini jelas menunjukkan peningkatan. Pandemi pun membawa perubahan pada frekuensi maupun intensitas (tingkat keparahan) kekerasan. Sebanyak 24 persen responden melaporkan peningkatan kekerasan, sedangkan 44 persen melaporkan peningkatan intensitas kekerasan.
Sementara itu, rumah atau tempat tinggal jadi lokasi paling sering terjadi KBG. Sebanyak 56 persen responden mengaku mengalami kekerasan di rumah mereka masing-masing.
"Lebih dari separuh korban mengalami kekerasan di tempat tinggal, yang artinya kebanyakan korban mengenal pelaku kekerasan. Dan 38 persen mengatakan banyak mereka mengalami kekerasan lewat media sosial," imbuh Yoane.
Dalam penelitian disebutkan, mayoritas responden mengenal pelaku (74 persen), bahkan pelaku kekerasan merupakan orang terdekat termasuk pasangan (27 persen).
Mencari pertolongan
Kekerasan berbasis gender (KBG) menjadi fenomena shadow pandemic alias pandemi bayangan saat pandemi Covid-19. Di masa pandemi angkanya meningkat pesat. (iStockphoto/iweta0077)
Mencari bantuan
Jakarta Feminist menangkap mayoritas korban KBG tidak melapor. Hal ini bisa dipahami sebab tentu ada kebingungan mau lapor ke mana, rasa takut apalagi jika pelaku merupakan orang terdekat dan serumah juga alasan-alasan lain.
Oleh karena itu, ada inisiatif untuk menginisiasi situs carilayanan.com sebagai situs di mana siapapun bisa mendapat informasi mengenai lembaga layanan terdekat. Noval Auliady dari Jakarta Feminist menjelaskan jika korban ingin melapor tetapi khawatir ketahuan pelaku karena serumah, bisa menggunakan domain berbeda yakni, belipotbunga.com.
Situs layanan ini sudah aktif sejak soft-launching pada Februari 2021 lalu. Di sini pengunjung situs bisa menelusuri lembaga layanan berdasar kategori maupun lokasi. Kemudian terdapat tombol keluar cepat di tiap halaman dan membawa pengguna ke situs-situs lain yang netral misal, YouTube atau Google.
"Situscarilayanan.comtidak menerima pelaporan secara langsung, namun langsung memberikan informasi lembaga layanan agar mengurangi proses pelaporan yang panjang dan pengulangan cerita yang menambah beban korban. Hal ini juga dilakukan untuk mengurangi risiko kebocoran data karena keamanan dan privasi korban adalah prioritas kami," jelas Noval dalam kesempatan serupa.
Sementara itu, Anda pun bisa berpartisipasi untuk mencegah KBG. Menurut Noval cara paling sederhana adalah tidak menormalisasi kekerasan dalam bentuk apapun dan di manapun.
"Dan sebenarnya kita semua yang melihat, sebagai saksi punya tanggung jawab untuk mengintervensi karena korban bebannya sudah sangat besar sekali dan tidak adil untuk kita berharap mereka menghentikan kekerasan yang terjadi pada dirinya," kata dia.