Jakarta, CNN Indonesia -- Banyak orang merasa terhubung dengan kisah Aris, Kinan dan Lydia dalam serial 'Layangan Putus'. Hubungan yang sudah dibangun lama, rusak karena selingkuh.
WIA pernah mengalami hal yang serupa. Hubungan yang dibangun lima tahun lamanya ternyata kandas karena orang ketiga. Namun, WIA merasa dirinya beruntung sebab perselingkuhannya dulu tidak dilakukan saat sudah menikah seperti tokoh Aris.
"Bandel sebelum nikah. Kan kalau di 'Layangan Putus' [Aris selingkuhnya] pas sudah nikah, wah [bahaya]," ujar WIA saat berbincang dengan CNNIndonesia.com lewat sambungan telepon, Jumat (14/1).
Bagi WIA, perselingkuhan terjadi karena sang pacar yang selingkuh lebih dulu. Perempuan yang dipacarinya hampir 5 tahun ternyata bergandengan tangan mesra dengan laki-laki lain. Karena lingkaran pertemanan yang sama dengan sang pacar, WIA mendapat bukti berupa foto saat keduanya di bioskop.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Long distance relationship (LDR) beda kota membuat WIA dan sang pacar hanya bertemu sebulan dua kali. Dia memilih untuk tidak menindaklanjuti laporan sang kawan. Justru, saat kunjungan mendadak ke rumah sang pacar, ia mendapati ada laki-laki lain.
Tidak ada adegan 'labrak-melabrak' layaknya sinetron atau pertengkaran hebat. WIA memilih untuk ambil sikap bodo amat dan mendengarkan argumen sang pacar.
"Dari situ, ya sudah, saya mulai dekat sama teman-teman cewek tapi tetap jalan sama dia. Dia di sana ngapain, saya di sini ngapain. Dekat sama satu, dua, tiga teman cewek. Kalau ditanya 'Kita gimana?', saya tuh tipe yang 'Emang harus banget pakai status? Enggak zaman deh nembak'. Yah jalan aja terus cocok," tutur WIA.
Hubungan dengan sang pacar tetap berjalan meski rasanya tidak seperti dulu lagi. Obrolan seperti tanpa isi, layaknya permainan drama semata. Setelah shampir 2 tahun berjalan demikian, sang pacar akhirnya menemukan sesuatu yang tidak beres.
"Dia ngomong juga, 'Kok kita gini-gini aja?', saya bilang 'Kamu jalan sama orang, aku enggak masalahin'. Kaget dia, pura-pura bego. Saya perlihatkan foto 2 tahun lalu. Mungkin orang lain lihatnya 'gemes' mending diputusin. Saya klise juga sih, enggak bisa lepasin, ya sudah jadi teman aja," katanya.
Setelah 6 tahun berlalu, WIA pun menemukan perempuan yang akhirnya kini jadi istrinya. Cerita aksi balas dendam dan perselingkuhan pun ia bagikan ke sang istri. Beruntung, tak ada cekcok berarti.
"Saya 6 tahun kosong, [cuma jalan, tanpa komitmen]. Setelah menemukan yang ini, nanemin ke diri sendiri, ya sudah, hidup ya biasa-biasa aja [enggak usah aneh-aneh]," imbuhnya.
Simak fenomena 'Layangan Putus' di halaman berikut.
Fenomena 'Layangan Putus', Saat Selingkuh Merusak Hubungan
Banyak orang merasa terhubungan dengan kisah Aris, Kinan dan Lydia di 'Layangan Putus'. Hubungan yang sudah dibangun rusak karena selingkuh.(Foto: iStockphoto)
Kenapa selingkuh?
psikolog klinis Naomi Soetikno menuturkan salah satu hal yang mendasari pernikahan adalah kejujuran.
"Begitu mulai tidak jujur, mulai selingkuh, jadi ada perasaan dibohongi. Ini yang menyulitkan pasangan untuk memaafkan," kata Naomi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (13/1).
Selingkuh itu pilihan, bukan 'kecelakaan' atau terjebak situasi. Naomi menegaskan bicara isu perselingkuhan berarti bicara tentang manusia dewasa baik secara moral maupun psikologis. Jika seseorang tanpa masalah kesehatan mental, punya pemikiran normatif termasuk membedakan mana baik mana buruk, selingkuh jelas sebuah pilihan sadar.
Jika tahu mana baik dan mana buruk, kenapa orang tetap memilih selingkuh?
"Orang mungkin dipenuhi perasaan kecewa, perasaan kesepian, tidak sejahtera secara psikologis, lalu dia tahu ada orang lain yang mampu memberikan sesuatu [yang dicari]," kata psikolog yang juga dosen tetap di Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara ini.
Tidak sejahtera secara psikologis ini misalnya, merasa kurang disayang, diperhatikan kebutuhannya. Kemudian bisa karena faktor kesibukan, komunikasi kurang, belum lagi hal-hal kecil yang memicu pertengkaran sehingga rumah terasa tidak nyaman lagi.
Apa dampak dari perselingkuhan?
Ini bisa dilihat dari dua sisi yakni sisi korban dan sisi pelaku. Dari sisi korban, lanjut Naomi, tentu merasa disakiti, dibohongi sehingga timbul rasa curiga. Ke depan saat bertemu orang baru, korban perselingkuhan juga akan terus merasa curiga sebab ada trauma. Korban bisa generalisasi bahwa semua laki-laki berpotensi selingkuh.
Sedangkan dampak buat pelaku, sepanjang perselingkuhan tidak diketahui pasangan tentu ini seperti petualangan. Namun saat ketahuan, ditambah ada pertengkaran hebat, pernikahan bisa berujung perceraian. Jika terlalu keras hati dan tidak mau belajar dari kesalahan, pelaku bisa mengulangi pola yang sama.
"Kalau dalam praktik, saya bisa tanya, 'Apa sih yang menyebabkan Bapak selingkuh?'. Kalau dia bisa melihat masalah dalam rumah tangganya dari kedua belah pihak, tandanya dia sadar. Dari situ kita bantu dia agar lebih berdaya dan ambil keputusan yang baik," kata Naomi.