Pantai Pasir Putih Pangandaran adalah satu dari sekian banyak tempat wisata di Pangandaran, yang sangat populer, dan hits di kalangan wisatawan. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --
Malam pukul 11.00 pada akhir Maret, gerimis tak berkesudahan menyambut kami saat sampai di Kabupaten Pangandaran. Wilayah yang menawarkan puluhan tempat wisata ini menjadi salah satu persinggahan tim CNNIndonesia.com saat menyusuri jalur mudik pantai selatan (Pansela), dari Jakarta menuju Yogyakarta.
Pangandaran jadi titik pemberhentian kami yang keempat setelah Ciwidey, Cianjur, dan Garut.
Kota ini lebih ramai dibanding Garut dan Cianjur saat malam hari. Meski lampu jalanannya sama-sama minim, ingar bingar dari kafe, resto dan tempat wisata malamnya cukup menerangi jalanan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nuansa Pangandaran sebagai tempat pelesir jelas lebih kentara.
Sayangnya, malam itu kami ingat harus mengurus penginapan dulu agar bisa beristirahat untuk menjajal Pangandaran keesokannya.
Kami memilih penginapan yang berlokasi di Jalan Kidang Pananjung. Jaraknya hanya 750 meter dari Pantai Barat Pangandaran.
Sampai di penginapan, kami langsung bergegas tidur. Tak sabar menyambut hari esok.
Body Rafting di Green Canyon
Kami bangun sekitar pukul 06.00 pagi dan langsung bersiap-siap sampai pukul 07.00 WIB. Tujuan pertama adalah Green Canyon, salah satu destinasi wisata andalan Pangandaran.
Tak ingin kesiangan, kami pun sarapan di penginapan. Menyantap nasi kuning dengan irisan telur dadar sambil membicarakan rencana perjalanan sehari itu.
Usai sarapan kami meluncur ke lokasi tujuan yang jaraknya sekitar 28 km. Waktu tempuh dari penginapan ke Green Canyon sekitar 40 menit.
Tiba di sana kami istirahat sejenak memesan teh di warung persis di depan pintu masuk Green Canyon. Meluruskan kaki sambil mempersiapkan diri untuk dibawa oleh arus Green Canyon.
Kami ambil paket body rafting untuk tiga orang dengan trip pendek hingga ke dalam gua. Trip itu kemungkinan memakan waktu 2-3 jam. Kami pilih paket itu agar bisa menjajal destinasi wisata lainnya.
Kocek yang harus dikeluarkan Rp1.000.000 sudah plus dua pemandu. Kami juga tetap bisa membawa alat-alat elektronik seperti handphone dan kamera. Semuanya aman, dimasukkan dry bag dan dibawakan oleh pemandu.
Bagi yang hanya tertarik menaiki kapal hingga ke mulut Green Canyon, ada juga opsi sewa kapal Rp200 ribu atau Rp400 ribu dengan jarak dan waktu sewa berbeda berbeda.
Body rafting sendiri dimulai dari Guha Bahu. Untuk sampai sana, kami menaiki mobil pikap selama 15 menit dan memasuki hutan lindung yang rimbun. Belum mulai mengayuh saja sudah asyik.
Setelah berjalan cukup jauh akhirnya kami tiba di titik awal. Kami langsung loncat menceburkan diri ke sungai itu. Arus langsung membawa badan kami dari satu titik ke titik lain.
Cukang Taneuh atau Green Canyon adalah salah satu objek wisata di Jawa Barat yang terletak di Desa Kertayasa Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran. Objek wisata ini berjarak ± 31 km dari Pangandaran. (CNN Indonesia/ Adi Maulana Ibrahim)
Pemandu selalu memberi arahan dan mengawasi kami. "Badan harus terlentang, kaki di depan dan jangan panik," begitu kata mereka.
Pemandu juga menjelaskan alasan mengapa kaki harus di depan bukan kepala. Green Canyon, selain dipagari oleh tebing, banyak juga bebatuan yang bisa saja membuat kita terbentur jika lalai.
Sesekali kami juga memanjat bebatuan dan melewatinya. Petualangan air yang menyenangkan. Belum lagi mandi di Pemandian Kolam Putri. Kolam ini berada di atas batu tinggi dan diguyur oleh air terjun dari atas tebing.
Turun dari Kolam Putri, kami kembali menyusuri sungai, menyaksikan arus air berputar seperti blender, sampai meloncat dari batu jamur dengan ketinggian 8 meter.
Kami menghabiskan waktu hampir empat jam di Green Canyon. Lebih lama dari yang kita targetkan. Sekaligus mengubah agenda jajal hari itu.
Beberapa destinasi wisata lain dengan berat hati kami coret karena harus berpacu waktu. Tapi kami tak begitu menyesali. Bermain dengan arus, dibasuh hujan abadi sampai memanjakan mata dengan panorama tebing yang indah sudah cukup membuat bahagia.
Berkuda Menjemput Saat Senja
Dari Green Canyon kami bergegas balik kanan ke arah penginapan. Driver membawa kami ke destinasi wisata lainnya, Pantai Pangandaran.
Kami tiba di sana pukul 16.00 WIB, saat matahari mulai turun.
Sore itu pantai ramai pengunjung. Ada yang duduk di bibir pantai melihat ombak, ada yang berjalan jalan sambil bercengkerama. Anak-anak kecil berlarian sambil meniup balon air. Ada juga kuda hilir mudik dengan atau tanpa penunggangnya.
Rekan saya menyarankan untuk mencoba menikmati pantai berbeda dari biasanya. Saya pun menyewa kuda dan berkeliling di sepanjang pantai sambil menikmati mega langit yang orens.
Sebelum matahari benar-benar tenggelam, saya turun dari kuda dan memutuskan untuk menaiki sampan, berkeliling di laut Pangandaran.
Jejak Susi hingga Menyusuri Pasir Putih dan Gua Jepang
Kami mengeluarkan uang Rp100 ribu untuk berkeliling. Tujuan akhirnya Cagar Alam Laut Pananjung.
Sebelum menyeberang mata kami tertumbuk bangkai raksasa yang teronggok di perairan dangkal. Itulah bangkai MV King, kapal besar dari Norwegia yang terguling kaku di Pangandaran.
MV King adalah salah satu jejak keberanian Susi Pudjiastuti kala menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan.
Kapal besar itu diledakkan sampai terguling. Bangkainya dibiarkan terbujur di perairan dangkal seolah sengaja untuk tontonan siapa saja yang hendak menikmati suasana Pangandaran.
Pendayung sampan membawa kami lebih dekat dengan kapal itu. Kapal itu terguling menyamping. Badannya sudah rusak dan berkarat. Keropos di mana-mana.
Pendayung melanjutkan perjalanan ke Cagar Alam Laut Pananjung. Zona healing di sini terbagi dua. Di bagian bawah ada hamparan pasir putih, banyak batu karang, pepohonan dan hewan liar seperti monyet. Naik ke atas sedikit, ada hutan dan gua peninggalan jepang.
Sebelum langit gelap kami memutuskan kembali menyebrang ke Pantai Pangandaran. Ratusan lampu menyala dari kejauhan. Pendayung memberi tahu kami bahwa ratusan lampu itu berasal dari kampung turis.
Wisata Malam dan Kuliner Kampung Turis
Di Kampung Turis ada 12 restoran berjajar. Yang khas, hampir semua bangunannya dari bambu dan penuh dengan lampu.
Dinamakan Kampung Turis karena dulunya, sebelum pandemi Covid-19, kampung itu dipenuhi turis.
Kami pun berniat ke sana. Namun, sebelum ke sana kami menyewa motor listrik untuk berkeliling kota di sekitar Pantai Pangandaran.
Harga sewa motor Rp50.000 per jam. Rencananya, kami ingin ke Kampung turis menggunakan motor itu. Namun, karena takut lupa waktu di Kampung Turis, kami pun mengembalikan motor dan pergi menggunakan mobil.
Kami sampai di Kampung Turis sekitar pukul 08.00 malam. Dari luar keramaian sudah terasa. Lampu di mana-mana dan orang berlalu lalang.
Kami memilih untuk duduk di meja luar sambil mendengar desiran ombak. Ada puluhan meja di sana, ada juga bean bag dan tikar menghadap ke pantai.
Angin laut malam itu berhembus. Sesekali semilir datang. Meja kami menyajikan seafood beragam jenis. Ada lobster, cumi, udang dalam satu piring. Kami juga memesan kelapa muda dan bamboo cocktail.
Semakin malam, Kampung Turis semakin ramai. Volume musik dari restoran mulai meninggi, bersahutan dengan suara ombak.
Orang-orang mulai sibuk dengan diri sendiri, hanyut dengan suasana malam Pangandaran.
Jakarta, CNN Indonesia --
Malam pukul 11.00 pada akhir Maret, gerimis tak berkesudahan menyambut kami saat sampai di Kabupaten Pangandaran. Wilayah yang menawarkan puluhan tempat wisata ini menjadi salah satu persinggahan tim CNNIndonesia.com saat menyusuri jalur mudik pantai selatan (Pansela), dari Jakarta menuju Yogyakarta.
Pangandaran jadi titik pemberhentian kami yang keempat setelah Ciwidey, Cianjur, dan Garut.
Kota ini lebih ramai dibanding Garut dan Cianjur saat malam hari. Meski lampu jalanannya sama-sama minim, ingar bingar dari kafe, resto dan tempat wisata malamnya cukup menerangi jalanan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nuansa Pangandaran sebagai tempat pelesir jelas lebih kentara.
Sayangnya, malam itu kami ingat harus mengurus penginapan dulu agar bisa beristirahat untuk menjajal Pangandaran keesokannya.
Kami memilih penginapan yang berlokasi di Jalan Kidang Pananjung. Jaraknya hanya 750 meter dari Pantai Barat Pangandaran.
Sampai di penginapan, kami langsung bergegas tidur. Tak sabar menyambut hari esok.
Body Rafting di Green Canyon
Kami bangun sekitar pukul 06.00 pagi dan langsung bersiap-siap sampai pukul 07.00 WIB. Tujuan pertama adalah Green Canyon, salah satu destinasi wisata andalan Pangandaran.
Tak ingin kesiangan, kami pun sarapan di penginapan. Menyantap nasi kuning dengan irisan telur dadar sambil membicarakan rencana perjalanan sehari itu.
Usai sarapan kami meluncur ke lokasi tujuan yang jaraknya sekitar 28 km. Waktu tempuh dari penginapan ke Green Canyon sekitar 40 menit.
Tiba di sana kami istirahat sejenak memesan teh di warung persis di depan pintu masuk Green Canyon. Meluruskan kaki sambil mempersiapkan diri untuk dibawa oleh arus Green Canyon.
Kami ambil paket body rafting untuk tiga orang dengan trip pendek hingga ke dalam gua. Trip itu kemungkinan memakan waktu 2-3 jam. Kami pilih paket itu agar bisa menjajal destinasi wisata lainnya.
Kocek yang harus dikeluarkan Rp1.000.000 sudah plus dua pemandu. Kami juga tetap bisa membawa alat-alat elektronik seperti handphone dan kamera. Semuanya aman, dimasukkan dry bag dan dibawakan oleh pemandu.
Bagi yang hanya tertarik menaiki kapal hingga ke mulut Green Canyon, ada juga opsi sewa kapal Rp200 ribu atau Rp400 ribu dengan jarak dan waktu sewa berbeda berbeda.
Body rafting sendiri dimulai dari Guha Bahu. Untuk sampai sana, kami menaiki mobil pikap selama 15 menit dan memasuki hutan lindung yang rimbun. Belum mulai mengayuh saja sudah asyik.
Setelah berjalan cukup jauh akhirnya kami tiba di titik awal. Kami langsung loncat menceburkan diri ke sungai itu. Arus langsung membawa badan kami dari satu titik ke titik lain.
Cukang Taneuh atau Green Canyon adalah salah satu objek wisata di Jawa Barat yang terletak di Desa Kertayasa Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran. Objek wisata ini berjarak ± 31 km dari Pangandaran. (CNN Indonesia/ Adi Maulana Ibrahim)
Pemandu selalu memberi arahan dan mengawasi kami. "Badan harus terlentang, kaki di depan dan jangan panik," begitu kata mereka.
Pemandu juga menjelaskan alasan mengapa kaki harus di depan bukan kepala. Green Canyon, selain dipagari oleh tebing, banyak juga bebatuan yang bisa saja membuat kita terbentur jika lalai.
Sesekali kami juga memanjat bebatuan dan melewatinya. Petualangan air yang menyenangkan. Belum lagi mandi di Pemandian Kolam Putri. Kolam ini berada di atas batu tinggi dan diguyur oleh air terjun dari atas tebing.
Turun dari Kolam Putri, kami kembali menyusuri sungai, menyaksikan arus air berputar seperti blender, sampai meloncat dari batu jamur dengan ketinggian 8 meter.
Kami menghabiskan waktu hampir empat jam di Green Canyon. Lebih lama dari yang kita targetkan. Sekaligus mengubah agenda jajal hari itu.
Beberapa destinasi wisata lain dengan berat hati kami coret karena harus berpacu waktu. Tapi kami tak begitu menyesali. Bermain dengan arus, dibasuh hujan abadi sampai memanjakan mata dengan panorama tebing yang indah sudah cukup membuat bahagia.
Berkuda Menjemput Saat Senja
Dari Green Canyon kami bergegas balik kanan ke arah penginapan. Driver membawa kami ke destinasi wisata lainnya, Pantai Pangandaran.
Kami tiba di sana pukul 16.00 WIB, saat matahari mulai turun.
Sore itu pantai ramai pengunjung. Ada yang duduk di bibir pantai melihat ombak, ada yang berjalan jalan sambil bercengkerama. Anak-anak kecil berlarian sambil meniup balon air. Ada juga kuda hilir mudik dengan atau tanpa penunggangnya.
Rekan saya menyarankan untuk mencoba menikmati pantai berbeda dari biasanya. Saya pun menyewa kuda dan berkeliling di sepanjang pantai sambil menikmati mega langit yang orens.
Sebelum matahari benar-benar tenggelam, saya turun dari kuda dan memutuskan untuk menaiki sampan, berkeliling di laut Pangandaran.
Monumen Keberanian Susi
Wisatawan yang tengah berkunjung ke Pantai Pasir Putih di Kab. Pangandaran (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Jejak Susi hingga Menyusuri Pasir Putih dan Gua Jepang
Kami mengeluarkan uang Rp100 ribu untuk berkeliling. Tujuan akhirnya Cagar Alam Laut Pananjung.
Sebelum menyeberang mata kami tertumbuk bangkai raksasa yang teronggok di perairan dangkal. Itulah bangkai MV King, kapal besar dari Norwegia yang terguling kaku di Pangandaran.
MV King adalah salah satu jejak keberanian Susi Pudjiastuti kala menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan.
Kapal besar itu diledakkan sampai terguling. Bangkainya dibiarkan terbujur di perairan dangkal seolah sengaja untuk tontonan siapa saja yang hendak menikmati suasana Pangandaran.
Pendayung sampan membawa kami lebih dekat dengan kapal itu. Kapal itu terguling menyamping. Badannya sudah rusak dan berkarat. Keropos di mana-mana.
Pendayung melanjutkan perjalanan ke Cagar Alam Laut Pananjung. Zona healing di sini terbagi dua. Di bagian bawah ada hamparan pasir putih, banyak batu karang, pepohonan dan hewan liar seperti monyet. Naik ke atas sedikit, ada hutan dan gua peninggalan jepang.
Sebelum langit gelap kami memutuskan kembali menyebrang ke Pantai Pangandaran. Ratusan lampu menyala dari kejauhan. Pendayung memberi tahu kami bahwa ratusan lampu itu berasal dari kampung turis.
Wisata Malam dan Kuliner Kampung Turis
Di Kampung Turis ada 12 restoran berjajar. Yang khas, hampir semua bangunannya dari bambu dan penuh dengan lampu.
Dinamakan Kampung Turis karena dulunya, sebelum pandemi Covid-19, kampung itu dipenuhi turis.
Kami pun berniat ke sana. Namun, sebelum ke sana kami menyewa motor listrik untuk berkeliling kota di sekitar Pantai Pangandaran.
Harga sewa motor Rp50.000 per jam. Rencananya, kami ingin ke Kampung turis menggunakan motor itu. Namun, karena takut lupa waktu di Kampung Turis, kami pun mengembalikan motor dan pergi menggunakan mobil.
Kami sampai di Kampung Turis sekitar pukul 08.00 malam. Dari luar keramaian sudah terasa. Lampu di mana-mana dan orang berlalu lalang.
Kami memilih untuk duduk di meja luar sambil mendengar desiran ombak. Ada puluhan meja di sana, ada juga bean bag dan tikar menghadap ke pantai.
Angin laut malam itu berhembus. Sesekali semilir datang. Meja kami menyajikan seafood beragam jenis. Ada lobster, cumi, udang dalam satu piring. Kami juga memesan kelapa muda dan bamboo cocktail.
Semakin malam, Kampung Turis semakin ramai. Volume musik dari restoran mulai meninggi, bersahutan dengan suara ombak.
Orang-orang mulai sibuk dengan diri sendiri, hanyut dengan suasana malam Pangandaran.