7 Alasan Orang Berpura-pura Bahagia, Tak Mau Terlihat Lemah

CNN Indonesia
Kamis, 26 Mei 2022 19:34 WIB
Seseorang yang mengalami smiling depression akan berusaha terlihat bahagia atau berpura-pura bahagia meski hatinya merasa tertekan. Mengapa demikian? Ilustrasi. Seseorang yang mengalami smiling depression akan berusaha terlihat bahagia atau berpura-pura bahagia meski hatinya merasa tertekan (iStock/Prostock-Studio)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sedih tak selalu diekspresikan dengan nelangsa. Beberapa orang justru berusaha menyembunyikan kesedihannya dan mencoba terlihat bahagia di depan orang lain.

Kondisi ini umum dikenal dengan istilah smiling depression. Dalam kondisi ini, seseorang akan berpura-pura bahagia dengan berbagai alasan meski merasakan kesedihan yang sangat dalam.

Seseorang yang mengalami smiling depression akan terlihat bahagia di luar. Namun di dalam lubuk hatinya, mereka mengalami kesedihan yang begitu intens.


Alasan Orang Pura-pura Bahagia

Ada beberapa alasan yang umumnya membuat seseorang memilih untuk tetap terlihat bahagia. Kondisi ini biasa terjadi pada orang yang mengalami smiling depression.

Berikut di antaranya, melansir Verywell Mind.

1. Takut membebani orang lain

Depresi dan rasa bersalah cenderung berjalan beriringan. Akibatnya, banyak individu yang tak ingin membebani orang lain dengan masalah dan kesedihan yang mereka hadapi.

Alasan ini umumnya terjadi pada orang yang terbiasa membantu orang lain daripada menerima bantuan.

Mereka umumnya tak tahu bagaimana caranya meminta bantuan. Dengan begitu, mereka memilih untuk menyimpan kesedihannya seorang diri.

2. Malu

Ilustrasi menangisIlustrasi. Rasa malu menjadi salah satu alasan orang berpura-pura bahagia. (Milada Vigerova)

Beberapa orang menganggap depresi sebagai sebuah kelemahan. Mereka percaya bahwa mereka harus melepaskannya.

3. Penolakan

Smiling depression mungkin berasal dari penyangkalan seseorang akan perasaan tertekan yang dialaminya. Mereka berpikir bahwa tersenyum akan meringankan perasaan tertekan.

4. Takut ditolak

Beberapa orang khawatir terhadap konsekuensi yang bakal didapat saat lingkungan sosialnya mengetahui kondisi depresi yang dialaminya.

Misalnya, takut dianggap tidak bisa bekerja dengan baik di kantor atau takut ditinggalkan oleh pasangan yang tak bisa menerima kondisinya. Alih-alih dihakimi, mereka lebih memilih untuk bersembunyi di balik senyuman.

5. Tak mau terlihat lemah

Orang dengan smiling depression umumnya khawatir mereka akan terlihat lemah di depan banyak orang. Tak cuma itu, mereka juga khawatir orang-orang di lingkungannya menjadikan kondisi tersebut untuk menekannya.

Pada akhirnya, mereka lebih suka menunjukkan sisi diri yang keras dan tangguh, daripada mengakui kelemahannya dan meminta bantuan.

6. Pandangan kebahagiaan yang tidak realistis

Di zaman kiwari, media sosial menggambarkan kebahagiaan dengan cara yang tidak realistis. Banyak orang mengunggah momen-momen bahagianya.

Akibatnya, orang dengan smiling depression percaya bahwa hanya mereka-lah yang berjuang dengan masalah kesehatan mental. Rasa terisolasi membuat mereka menyembunyikan emosi diri yang sebenarnya.

7. Perfeksionis

Beberapa orang punya karakter perfeksionis yang kuat. Di satu sisi, perfeksionis bisa menjadi kelebihan. Namun, di sisi lain, perfeksionis bisa jadi bumerang.

Salah satunya adalah berusaha menghadirkan kehidupan yang sempurna di depan lingkungan sosialnya, meski hati sangat tertekan.

Orang-orang perfeksionis umumnya berpikir bahwa depresi membuat kehidupan menjadi kurang sempurna.

(tim/asr)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER