Jakarta, CNN Indonesia -- Di tahun ini, Sandi Alfian (32) resmi satu tahun meninggalkan kebiasaan merokoknya. Bukan apa-apa, semuanya dilakukan karena alasan kesehatan.
Menahan godaan kepulan asap rokok bukan perkara mudah bagi Sandi, apalagi saat berkumpul dengan teman-teman sejawat yang hampir semuanya merupakan perokok aktif.
Meski godaan itu selalu muncul, Sandi mencoba melawannya dengan mengingat momen menakutkan yang bikin berdebar-debar pada awal 2021 lalu kala dirinya terinfeksi virus corona penyebab Covid-19. Penyakit yang menyerang organ pernapasan itu bahkan membuatnya harus menjalani perawatan di rumah sakit hingga hampir dijemput ajal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Godaan berat, apalagi saya ini baru satu tahunan berhenti. Masih suka mikir, aduh asem, enak nih ngerokok. Tapi balik lagi, saya takut mati," kata Sandi saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Senin (30/5).
Angka perokok aktif di Indonesia terbilang cukup tinggi. Hingga 2021, angka perokok aktif mencapai 69,1 juta orang. Sebelum memutuskan berhenti merokok, Sandi boleh jadi salah satunya.
Pada momen peringatan Hati Tanpa Tembakau Sedunia yang jatuh pada Selasa (31/5), apa yang dialami Sandi menjadi salah satu contoh kisah orang-orang yang memutuskan untuk berhenti merokok.
Sandi adalah mantan perokok berat. Rokok telah dikenalnya sejak usianya baru menginjak 16 tahun. Mulanya, hanya ikut-ikutan, tapi lama-kelamaan malah jadi kebiasaan.
Sandi ketagihan. Bahkan, setelah lulus kuliah dan mulai bekerja, dia bisa menghabiskan dua bungkus rokok dalam sehari. Jika sebungkus rokok berisi 12 batang, maka berarti Sandi menghisap 24 batang rokok setiap harinya.
"Dulu, tuh, mending tidak makan, deh, daripada tidak merokok," kata Sandi.
Sandi pernah menjajal jenis rokok apa saja. Dia pernah mencoba rokok linting atau bako yang dirakit sendiri. Pernah juga mencoba cerutu. Tak lupa juga rokok elektrik, meski menurutnya kurang nampol.
 Ilustrasi. Beberapa orang memilih berhenti merokok untuk alasan kesehatan. (CNN Indonesia/ Adi Maulana) |
Kebiasaan merokok ini pun berdampak buruk pada kesehatan. Batuk, napas pendek, badan kurus kering, bibir hitam, dan gigi kuning jadi masalah sehari-harinya.
Tapi, Sandi tak peduli, hingga akhirnya SARS-CoV-2 menginfeksi tubuhnya pada Februari 2021 lalu.
Gejala Covid-19 yang dialami tergolong buruk. Saturasi oksigennya sempat menurun rendah beberapa kali. Bahkan, Sandi sempat pasrah jika memang harus meninggal saat itu juga.
"Saya Covid-19, tuh, parah karena merokok, aduh sakit banget. Kaya udah, nih, mati nih, mati nih saya. Takut banget, terus ingat kalau saja saya enggak merokok, enggak mungkin separah ini," kata Sandi.
Simak kisah mereka yang berhenti merokok di halaman berikutnya..
Mereka yang Berhenti Merokok, Untuk Diri Sendiri dan Orang Lain
Ilustrasi. Hari Tanpa Tembakau mengajak masyarakat untuk menyetop kebiasaan merokok. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Dilalahnya, kondisinya mulai membaik setelah satu bulan kurang lebih terpapar Covid-19. Total dia menjalani perawatan kurang lebih dua minggu. Habis uang, habis tenaga dan juga rasa bersalah kepada orang tua.
"Keluar dari rumah sakit saya langsung mikir, enggak bisa, nih, saya gini terus. Udah, deh, saya harus berhenti. Enggak bisa saya mati konyol gara-gara rokok, kasihan orang tua," katanya.
"Ya, doain saja konsisten, karena tidak mudah, tapi harus. Bahaya, lho, rokok, saya merasakan sendiri."
Rasa Bersalah pada Orang Lain
Hal serupa juga dialami Ramadhan (29). Pria kelahiran Cimahi, Bandung ini berhenti merokok sejak empat tahun lalu.
Ramadhan merokok sejak kuliah. Tak terlalu banyak, Ramadhan biasanya hanya menghabiskan satu bungkus rokok dalam dua hingga tiga hari.
Banyak faktor yang membuatnya berhenti merokok. Mulai dari kesehatan, rasa bersalah ke orang yang tidak merokok, masalah ekonomi, hingga kekasih saat itu yang tak menyukai kebiasaannya merokok.
"Alasan utama, sih, kesehatan ya. Soalnya jalan sedikit sesak, gampang capek. Sadar, tuh, kayaknya tidak beres, nih, gara-gara rokok," kata Ramadhan.
Dia juga sadar, kepulan asap rokok yang keluar dari mulutnya bisa menghantui orang lain di sekitarnya yang bukan perokok aktif. Ibaratnya, melalui kebiasaan merokok, dia berbagi penyakit dengan orang lain.
"Kasihan juga sama yang pasif, kan. Merokok enggak, kena penyakitnya iya," selorohnya.
Tak sulit untuk memutuskan berhenti. Keinginan yang muncul dari dalam dirinya membuat proses berhenti merokok jadi lebih mudah.
Hingga saat ini, dia juga tidak pernah tergoda untuk kembali merokok saat berkumpul dengan teman-teman perokok aktifnya.
"Hilang saja gitu keinginan merokok. Malah kadang suka pengin ngasih tahu ke orang [kalau] berhenti merokok lebih enak," katanya.