BBLR dan Stunting Menghantui Bumil yang Kurang Gizi

tim | CNN Indonesia
Jumat, 17 Jun 2022 17:58 WIB
Selama hamil dan menyusui, ibu membutuhkan nutrisi ekstra agar janin bisa tumbuh dengan baik. Jika tak dicegah bisa menyebabkan stunting dan BBLR. Selama hamil dan menyusui, ibu membutuhkan nutrisi ekstra agar janin bisa tumbuh dengan baik. Jika tak dicegah bisa menyebabkan stunting dan BBLR.( iStockphoto/FatCamera)
Jakarta, CNN Indonesia --

Selama hamil dan menyusui, ibu membutuhkan nutrisi ekstra agar janin bisa tumbuh dengan baik. Tak dimungkiri, Kualitas hidup manusia ditentukan sejak awal janin bertumbuh di dalam kandungan seorang ibu, yaitu di masa 1000 hari pertama kehidupan (HPK).

Hanya saja sayangnya, tak semua ibu hamil memiliki kecukupan nutrisi yang tepat. Selain kebutuhan makronutrien seperti protein, lemak atau karbohidrat, ibu hamil juga wajib memenuhi asupan mikronutrien seperti asam folat, zat besi, yodium, kalsium, dan juga minyak ikan yang merupakan sumber DHA.

Salah satu sumber DHA yang baik adalah melalui konsumsi ikan. Untuk itu, Food and Drug Administration (FDA) memberikan rekomendasi kepada wanita hamil untuk mengonsumsi ikan sebanyak 225- 350 gram ikan per minggu atau 300mg DHA setiap harinya.


Sayangnya berdasarkan survei terakhir, 21 persen wanita hamil tidak mengkonsumsi ikan selama kehamilan dan 75 persen wanita hamil hanya mengonsumsi kurang dari 115 gram selama seminggu.

Apa efek kekurangan DHA pada janin? DHA dinilai mampu memberikan hasil yang positif selama masa kehamilan seperti mencegah kelahiran prematur, menurunkan risiko Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), hingga perkembangan jangka panjang anak.

"DHA merupakan salah satu mikronutrien yang penting karena defisiensi DHA selama kehamilan dapat menimbulkan beberapa resiko. Biasanya sering dihubungkan dengan kelahiran prematur, risiko preeklampsia, dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)," ucap Boy Abidin, Dokter Spesialis Kandungan dalam pernyataan Blackmores Pregnancy & Breast-Feeding Gold yang diterima CNNIndonesia.com. 

"Sayangnya, masih banyak ibu hamil yang belum teredukasi untuk memenuhi asupan nutrisi mikronutriennya termasuk DHA. Padahal salah satu cara mudah untuk mendapatkan asupan DHA bisa melalui minyak ikan sebagai sumber utamanya."

Apa itu Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)?

Seorang bayi dikatakan mengalami BBLR jika saat lahir berat badannya kurang dari 2,5 kg. Studi WHO bekerja sama dengan UNICEF dan London School of Hygiene & Tropical Medicine ini menganalisis data milik 148 negara antara tahun 2000 hingga 2015.

Dalam penelitian yang baru saja dipublikasikan dalam The Lancet Global Health, terdapat 20,5 juta atau sekitar 14,6 persen bayi lahir dengar berat badan rendah pada 2015. Jumlah ini hanya sedikit membaik dari tahun 2000, yakni sebanyak 22,9 juta atau 17,5 persen bayi yang lahir dengan berat badan rendah.

Dibandingkan dengan kota lain di Jawa Tengah, kasus BBLR yang terjadi di Kota Solo tergolong tinggi.

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah 2020 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah menjelaskan bahwa setidaknya terdapat 17,59 persen kasus bayi lahir BBLR di Kota Solo.

"Kasus BBLR menjadi perhatian kita bersama untuk bisa memberikan edukasi kepada para ibu hamil, khususnya di Kota Solo. Kasus BBLR seringkali disebabkan karena kurangnya asupan mikronutrien yang dibutuhkan ibu hamil, salah satunya DHA. BBLR menimbulkan keprihatinan bagi kami dan jumlah angka tersebut harus terus ditekan," ujar Reni Andri Lestari Kabid Pemerintahan dan Pembangunan Manusia BAPPEDA Kota Surakarta dalam pernyataan Blackmores Peduli Nutrisi Bunda. 

Berat badan rendah saat lahir dapat terjadi ketika bayi lahir prematur atau lahir cukup bulan tetapi mengalami pembatasan pertumbuhan di dalam rahim. Bayi yang lahir dengan berat badan rendah memiliki risiko pertumbuhan terhambat, keterlambatan perkembangan, dan kondisi penyakit kronis saat dewasa seperti diabetes dan penyakit kardiovaskular.

Berat badan saat lahir ini penting untuk kesehatan di masa depan.

"Berat badan adalah satu-satunya faktor terpenting tentang Anda saat lahir yang memprediksi kesehatan Anda di masa depan," kata peneliti Joy Lawn dari London School of Hygiene & Tropical Medicine, dikutip dari CNN.

Di negara berkembang seperti di Asia, berat bayi lahir rendah umumnya terjadi karena pertumbuhan yang terhambat di dalam rahim akibat gizi buruk pada ibu.

Fakta ini membuat WHO meminta negara-negara di seluruh dunia untuk fokus mencegah bayi lahir dengan berat badan rendah dan meningkatkan perawatan untuk bayi yang lahir dengan berat badan rendah.

Imbauan ini dilancarkan guna mencapai target mengurangi 30 persen angka berat badan lahir rendah pada 2025, sesuai dengan perjanjian yang diikuti oleh 195 negara anggota WHO.

Stunting juga masih jadi masalah

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER