Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah negara di dunia seperti China, Jepang, hingga Amerika Serikat tengah menghadapi 'resesi seks'. Fenomena ini dikhawatirkan bisa menimbulkan masalah demografi yang serius dan berdampak pada berbagai aspek kehidupan.
Istilah 'resesi seks' sendiri merujuk pada keinginan generasi muda di zaman kiwari akan aktivitas seks yang menurun. Di China, angka kelahiran yang terus menurun dari waktu ke waktu menjadi indikatornya.
Banyak faktor yang bisa mendorong penurunan angka kelahiran dari waktu ke waktu. Salah satunya adalah keengganan generasi muda untuk menikah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Oktober lalu, Liga Pemuda Komunis China merilis survei yang dilakukan pada wanita yang tinggal di perkotaan China. Ditemukan, 50 persen di antaranya menyatakan enggan menikah. Bahkan, sepertiga dari responden mengaku tidak percaya akan pernikahan hingga tidak pernah merasakan jatuh cinta.
Menurunnya daya tarik pernikahan di kalangan anak muda ini sebenarnya bukan perkara baru. Laporan Pew Research Center pada 2017 menemukan 1 dari 7 orang tak ingin menikah.
Dua tahun setelahnya, laporan yang sama menemukan hanya 17 persen orang yang menganggap pernikahan sebagai sesuatu yang penting. Sebanyak 3 dari 10 orang partisipan bahkan berpikir pernikahan bukan perkara penting yang patut direncanakan.
Pertanyaannya kemudian, mengapa banyak orang di zaman kiwari yang justru ogah untuk menikah? Mengutip Mind Body Green, berikut beberapa alasan terkuat banyak orang yang memilih tidak menikah yang telah diulas oleh seksolog Kristie Overstreet.
1. Terlalu fokus terhadap karier
Beberapa orang umumnya lebih berorientasi pada karier. Pernikahan dan hubungan komitmen jangka panjang dapat memakan banyak waktu dan perhatian. Beberapa orang tak tertarik untuk membagi energi mereka antara karier dan asmara.
Namun, bukan berarti pernikahan dan karier tak bisa berjalan beriringan. Keduanya sebenarnya bisa berjalan berbarengan.
2. Pengalaman akan kegagalan hubungan
Hubungan tentunya dapat menjadi tantangan tersendiri. Bagi sebagian orang, kegagalan dalam hubungan jangka panjang bisa membuat komitmen pada pasangan seumur hidup jadi tak lagi menarik.
Sementara beberapa lainnya enggan menikah karena terlalu banyak menyaksikan kegagalan pernikahan. Misalnya saja perceraian orang tua.
Simak alasan orang enggan menikah lainnya di halaman berikutnya..
Diduga Sebabkan 'Resesi Seks', Ini 6 Alasan Umum Orang Enggan Menikah
Ilustrasi. Keengganan untuk menikah menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya 'resesi seks'. (Istockphoto/franckreporter)
3. Alasan keuangan
Pernikahan itu mahal, begitu juga perceraian. Beberapa orang tak mampu menanggung risiko keuangan yang terkait dengan pernikahan.
Ada juga contoh dimana beberapa orang merasa tidak nyaman menyatukan keuangan pribadinya dengan orang lain, yang dalam hal ini adalah pasangan.
4. Merasa pernikahan terlalu banyak aturan dan harapan
Beberapa orang merasa takut pernikahan akan menghilangkan kebebasan yang sebelumnya dimiliki. Klise, meski benar adanya.
Beberapa orang juga mengaku tak siap terbebani oleh harapan-harapan pernikahan. Terikat dan bertanggung jawab atas orang lain selama sisa hidup mungkin dirasa tak menarik.
5. Memandang pernikahan sebagai institusi patriarki
Pernikahan kerap dianggap sebagai institusi patriarki. Budaya ini menempatkan pria atau suami sebagai pemegang kekuasaan yang utama.
Dalam pernikahan, wanita beralih dari 'milik' ayahnya menjadi 'milik' suaminya. Dalam beberapa pernikahan modern, unsur patriarki ini masih kentara terlihat. Mulai dari tradisi ayah yang menyerahkan pengantin wanita hingga pernikahan yang dianggap sebagai penanda kesuksesan wanita.
Bagi sebagian orang, sejarah yang rumit ini membuat pernikahan menjadi tidak menarik.
6. Menikah bukan prioritas
Beberapa orang terbuka untuk menikah walaupun tidak secara aktif untuk mencari pasangannya.
Bukannya tak mau menikah, mereka mungkin saja sebenarnya menginginkan pernikahan. Namun, pernikahan tak menjadi prioritasnya.
Artinya, jika mereka merasa mendapatkan hubungan yang bermakna dengan seseorang, maka mereka akan bersedia unutk menikah. Hanya saja, menikah tak menjadi tujuan utamanya.