Coba Tanya Kurma Muda dan Zuriat: 'Kok Belum Ada Anaknya?'
CNN Indonesia
Minggu, 13 Nov 2022 10:42 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Berbagai cara dilakukan Mar demi bisa mendapatkan kehamilan. (CNNIndonesia/Astari Kusumawardhani)
'Pacaran' lagi
Selepas usaha hamil lewat jalur alternatif, kami belum mencoba cara lain. Kalau ingin kembali ke jalur medis, biayanya tidak murah sementara kebutuhan masih banyak.
Aku sangat bersyukur memiliki suami yang santai dan tidak menuntut ini itu. Sebenarnya aku sih yang lebih tertekan menyoal momongan ini, tapi karena suami bisa membawa suasananya jadi santai, aku jadi ikut santai. Justru kalau ditanya teman-temannya, dia lugas saja menjawab memang belum dikasih anak.
"Pacaran dulu, dinikmati waktu buat berdua."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia bilang seperti itu, ya pacaran dulu saja. Omongan dia itu yang menenangkanku. Toh kalau dipikir-pikir, memiliki anak tanggung jawabnya besar. Biaya pendidikan rasanya makin tidak masuk kantong.
Hal itu pula yang membuat kami yakin dan berani untuk berkata 'Enggak apa-apa kalau belum dikasih'.
Kamu tidak perlu memikirkan pacaran romantis ala drama Korea. Kami berdua sama-sama pribadi yang cuek dan tidak romantis. Aku dan suami suka musik dan kerap main gitar berdua. Kami enggak bingung mencari aktivitas berdua karena punya minat yang kurang lebih serupa. Bosan main gitar? Nonton serial saja di Netflix. Tidak ribet lah.
Aku juga punya kesibukan yang mampu mengalihkan fokus memiliki anak, bisa merasa tetap bisa waras dengan pekerjaan dan penghasilan yang kuperoleh. Pekerjaan jadi ladang pelampiasan emosi atau boleh dibilang energi untuk berpikir aneh-aneh berubah jadi energi untuk sesuatu yang produktif.
Pernah suatu ketika aku bilang ke suami seandainya saya seorang ibu rumah tangga dan tidak punya penghasilan. Aku bakal stres karena sibuk memikirkan cara gimana punya anak.
Hanya saja, proses berdamai dengan kondisi sekarang ini memang perlu waktu. Ada kalanya muncul keinginan besar untuk punya anak, tapi ya tidak sebesar dua atau tiga tahun lalu.
Meski sudah 4 tahun menikah dan belum diberi momongan, aku dan suami pun belum memikirkan kemungkinan terburuk. Untuk saat ini, kami hanya menikmati apa yang ada sembari mengumpulkan dana untuk kembali berusaha punya momongan. Usia rasanya juga masih ideal untuk hal tersebut aku baru 31 tahun dan suami 32 tahun.
Ada atau tidak ada anak, ku rasa tidak apa-apa. Toh pada akhirnya kami tinggal berdua kala anak tumbuh dewasa dan membangun kehidupannya sendiri.
Doakan kami ya, semoga bisa punya momongan. Dan bagi pejuang dua garis biru, semangat berjuang dan jangan putus asa, yang paling penting jangan dengarkan omongan miring orang lain soal anak.
Coba kalau kamu ketemu saya tiga atau empat tahun lalu, kamu akan menemukan seorang Mar (bukan nama sebenarnya) lengkap dengan muka muram dan tensi tinggi gara-gara tidak kunjung hamil dan punya momongan.
Pertanyaan soal momongan rasanya sudah bikin saya kenyang sejak usia pernikahan baru hitungan bulan. Pertanyaan itu pun datangnya dari keluarga suami. Keluarga saya terbilang santai dan tidak terlalu ikut campur urusan rumah tangga.
Dari sekian banyak pertanyaan yang datang, ada satu yang membuat saya sakit hati. Dia sepupu suami yang jarang kami temui. Sekali ketemu, bukan kabar yang ditanya dulu melainkan mana anak kami.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Gimana sih, mana, kok belum ada anaknya?"
Dia bertanya sambil tertawa. Mungkin niatnya bercanda, basa-basi, tapi,buat saya itu menyebalkan. Sangat menyebalkan malah. Sudah uring-uringan masalah pribadi, karena omongan miring keluarga suami, ini lagi ditambah dengan dark jokes macam itu.
Mereka seolah menuding bahwa sayalah yang bertanggung jawab akan penyebab kami belum memiliki keturunan. Wis lah, makin stres aku. Serasa tak ada yang membantu mendukungku dalam hal ini, semua menuntut anak, anak, dan anak.
Aku beruntung karena suamiku tak termasuk dalam 'kelompok penuntut anak.' Gak kebayang kalau dia juga termasuk salah satunya.
Meski tergolong masih pengantin baru dan tak selayaknya pusing seperti dikejar target punya anak karena tuntutan sosial, akhirnya aku mulai membulatkan tekad mencari jalan lain demi demi punya anak.
Kami pun memutuskan untuk menjalani program kehamilan di rumah sakit. Program kehamilan ini bukan program kehamilan seperti artis-artis itu, melainkan konsultasi, pemberian obat dan vitamin.
Selama program, ternyata dokter memvonisku dengan PCOS (Polycystic ovarian syndrom). Masalah ini yang membuat sel-sel telur sulit matang. Berbagai cara, obat, dan konsultasi dengan ahlinya untuk mengobati PCOS ini pun kulakoni. Akhirnya sel telur berhasil matang sempurna, ini harusnya jadi hari yang sempurna juga buat hari pembuahan.
Tapi mimpi indah tak terjadi semudah itu. Saat sel telur matang, aku justru menstruasi. Gagal sudah.
Kegagalan ini sempat bikin saya makin stres. Kami memutuskan tak lagi menjajal proses program kehamilan secara medis. Menyerah? Tidak juga, cuma coba cara lain. Banyak cara menuju Roma kan.
Kami memutuskan untuk ambil jalur alternatif atau herbal. Berangkat dari saran teman dan kerabat serta mencari informasi via internet,aku mencoba mengonsumsi kurma muda dan air rebusan buah zuriat yang katanya ampuh untuk kehamilan.
Dengan penuh harapan dan juga doa, rebusan buah zuriat dan kurma muda ini ku minum setiap hari. Sekitar 3-4 bulan minum air rebusannya, aku tak juga hamil. Nihil. Aku lelah.
Bukan nyerah tapi pasrah.
'Pacaran' lagi
Ilustrasi. Berbagai cara dilakukan Mar demi bisa mendapatkan kehamilan. (CNNIndonesia/Astari Kusumawardhani)
'Pacaran' lagi
Selepas usaha hamil lewat jalur alternatif, kami belum mencoba cara lain. Kalau ingin kembali ke jalur medis, biayanya tidak murah sementara kebutuhan masih banyak.
Aku sangat bersyukur memiliki suami yang santai dan tidak menuntut ini itu. Sebenarnya aku sih yang lebih tertekan menyoal momongan ini, tapi karena suami bisa membawa suasananya jadi santai, aku jadi ikut santai. Justru kalau ditanya teman-temannya, dia lugas saja menjawab memang belum dikasih anak.
"Pacaran dulu, dinikmati waktu buat berdua."
Dia bilang seperti itu, ya pacaran dulu saja. Omongan dia itu yang menenangkanku. Toh kalau dipikir-pikir, memiliki anak tanggung jawabnya besar. Biaya pendidikan rasanya makin tidak masuk kantong.
Hal itu pula yang membuat kami yakin dan berani untuk berkata 'Enggak apa-apa kalau belum dikasih'.
Kamu tidak perlu memikirkan pacaran romantis ala drama Korea. Kami berdua sama-sama pribadi yang cuek dan tidak romantis. Aku dan suami suka musik dan kerap main gitar berdua. Kami enggak bingung mencari aktivitas berdua karena punya minat yang kurang lebih serupa. Bosan main gitar? Nonton serial saja di Netflix. Tidak ribet lah.
Aku juga punya kesibukan yang mampu mengalihkan fokus memiliki anak, bisa merasa tetap bisa waras dengan pekerjaan dan penghasilan yang kuperoleh. Pekerjaan jadi ladang pelampiasan emosi atau boleh dibilang energi untuk berpikir aneh-aneh berubah jadi energi untuk sesuatu yang produktif.
Pernah suatu ketika aku bilang ke suami seandainya saya seorang ibu rumah tangga dan tidak punya penghasilan. Aku bakal stres karena sibuk memikirkan cara gimana punya anak.
Hanya saja, proses berdamai dengan kondisi sekarang ini memang perlu waktu. Ada kalanya muncul keinginan besar untuk punya anak, tapi ya tidak sebesar dua atau tiga tahun lalu.
Meski sudah 4 tahun menikah dan belum diberi momongan, aku dan suami pun belum memikirkan kemungkinan terburuk. Untuk saat ini, kami hanya menikmati apa yang ada sembari mengumpulkan dana untuk kembali berusaha punya momongan. Usia rasanya juga masih ideal untuk hal tersebut aku baru 31 tahun dan suami 32 tahun.
Ada atau tidak ada anak, ku rasa tidak apa-apa. Toh pada akhirnya kami tinggal berdua kala anak tumbuh dewasa dan membangun kehidupannya sendiri.
Doakan kami ya, semoga bisa punya momongan. Dan bagi pejuang dua garis biru, semangat berjuang dan jangan putus asa, yang paling penting jangan dengarkan omongan miring orang lain soal anak.