Dipakai Erina Gudono, Apa Beda Paes Ageng Yogya dan Solo?
CNN Indonesia
Senin, 12 Des 2022 09:11 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Riasan paes kini memiliki dua versi, yakni Yogyakarta dan Solo. Apa beda di antara keduanya? (Tangkapan layar youtube Presiden Joko Widodo)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kaesang Pangarep dan Erina Gudono resmi jadi pasangan suami istri pada 10 Desember 2022. Erina tampil ayu dengan riasan khas pengantin Jawa, yakni paes.
Pernikahan keduanya seolah mempertemukan dua budaya berbeda yakni Solo dan Yogyakarta. Baik Solo maupun Yogya, pengantin perempuan mengenakan paes sebagai riasannya.
Paes tak sekadar pulasan berwarna hitam di area wajah. Lebih dari itu, paes mengandung makna sekaligus harapan terhadap mempelai perempuan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Paes hadir dalam bentuk menyerupai lukisan berwarna hitam pada bagian kening mempelai wanita. Motifnya sendiri khas dan tak pernah berubah dari waktu ke waktu.
"Orang dulu bangga [ada motif paes di wajah] kelihatan itu sudah jadi pengantin, sudah jadi milik orang lain," jelas Sumaryono, dari Bidang Pendidikan DPD Himpunan Rias Pengantin Indonesia (HARPI) Melati Yogyakarta, pada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.
Paes sendiri merupakan riasan khas yang dulunya hanya digunakan oleh kalangan ningrat di Kesultanan Mataram. Namun, setelah kesultanan ini pecah, paes pun jadi hadir dalam dua versi: Yogyakarta dan Solo.
Di Yogyakarta, riasan ini dikenal dengan istilah Paes Ageng. Sementara di Solo dikenal dengan sebutan Solo Basahan.
Dari segi riasan, Yono menjelaskan bahwa baik paes Solo maupun Yogyakarta memiliki dasar dan filosofi yang sama. Namun, ada sedikit perbedaan pada istilah yang digunakan dan bentuk ujung godeg atau polesan di pelipis.
Untuk mengetahuinya lebih lanjut, berikut perbedaan dan persamaan paes Yogyakarta dan Solo dilihat dari unsur-unsur yang hadir di dalamnya.
1. Penunggul (Jogja) - Gajahan (Solo)
Salah satu perbedaan paes Jogga dan Solo adalah penggunaan istilah penunggul dan gajahan. Penunggul dan gajahan merupakan istilah yang disematkan pada area paes paling besar dan terletak di tengah dahi.
Yono menjelaskan, filosofi penunggul dan gajahan sebenarnya sama, yakni melambangkan kebesaran. Gajahan diambil dari kata gajah, yakni hewan yang besar dan kuat.
"Penunggul ini paling besar, lambang kebesaran bahwa perempuan itu dihormati, dijunjung tinggi dalam rumah tangga," katanya.
Simak beda paes Yogya dan Solo di halaman berikutnya..
2. Pengapit
Disebut pengapit karena fungsinya mengapit penunggul. Pengapit mengandung filosofi bahwa istri senantiasa mendampingi suami dalam suka maupun duka.
3. Penitis
Penitis memiliki bentuk hampir sama seperti penunggul, tetapi ukurannya lebih kecil. Jika penunggul berukuran tiga ruas jari, penitis sekitar satu setengah ruas jari.
"Penitis itu pratitis, titis [dalam bahasa Jawa berarti] tepat sasaran. Istri diharapkan bisa mengelola [keuangan] dengan baik, membangun rumah tangga dengan kearifan, kebijaksanaan, sehingga tujuan tepat dalam berkeluarga," jelas Yono.
Pada paes Solo, ujung penitis dibuat bulat menyerupai telur, sedangkan ujung penitis pada paes Yogyakarta cenderung agak bersudut atau runcing.
Godeg pada paes Solo dan paes Jogja memiliki bentuk ujung cukup berbeda meski memiliki makna serupa.
Terdapat pada area pelipis, godeg paes Jogja memiliki bentuk mirip pangot atau pisau yang digunakan untuk mencungkil daging kelapa. Hal ini memunculkan istilah godeg mangot klapa atau bentuk godeg yang menyerupai pangot kelapa.
Sementara itu, godeg pada paes Solo juga memiliki bentuk lancip tetapi menyerupai kuncup bunga turi sehingga muncul istilah godeg ngudup turi. Ujung bunga turi yang belum mekar agak bulat.
Yono menjelaskan godeg mengandung makna perempuan harus selalu ingat sangkan paraning dumadi atau asalnya. Ia dituntut untuk selalu mawas diri dalam melangkah.
"Sisi ujung godeg tadi, kan, lancip, melambangkan perempuan selalu mengasah diri sehingga lancip ing panggrahita atau cerdas dan tanggap dalam segala keadaan," imbuhnya.
Kaesang Pangarep dan Erina Gudono resmi jadi pasangan suami istri pada 10 Desember 2022. Erina tampil ayu dengan riasan khas pengantin Jawa, yakni paes.
Pernikahan keduanya seolah mempertemukan dua budaya berbeda yakni Solo dan Yogyakarta. Baik Solo maupun Yogya, pengantin perempuan mengenakan paes sebagai riasannya.
Paes tak sekadar pulasan berwarna hitam di area wajah. Lebih dari itu, paes mengandung makna sekaligus harapan terhadap mempelai perempuan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Paes hadir dalam bentuk menyerupai lukisan berwarna hitam pada bagian kening mempelai wanita. Motifnya sendiri khas dan tak pernah berubah dari waktu ke waktu.
"Orang dulu bangga [ada motif paes di wajah] kelihatan itu sudah jadi pengantin, sudah jadi milik orang lain," jelas Sumaryono, dari Bidang Pendidikan DPD Himpunan Rias Pengantin Indonesia (HARPI) Melati Yogyakarta, pada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.
Paes sendiri merupakan riasan khas yang dulunya hanya digunakan oleh kalangan ningrat di Kesultanan Mataram. Namun, setelah kesultanan ini pecah, paes pun jadi hadir dalam dua versi: Yogyakarta dan Solo.
Di Yogyakarta, riasan ini dikenal dengan istilah Paes Ageng. Sementara di Solo dikenal dengan sebutan Solo Basahan.
Dari segi riasan, Yono menjelaskan bahwa baik paes Solo maupun Yogyakarta memiliki dasar dan filosofi yang sama. Namun, ada sedikit perbedaan pada istilah yang digunakan dan bentuk ujung godeg atau polesan di pelipis.
Untuk mengetahuinya lebih lanjut, berikut perbedaan dan persamaan paes Yogyakarta dan Solo dilihat dari unsur-unsur yang hadir di dalamnya.
1. Penunggul (Jogja) - Gajahan (Solo)
Salah satu perbedaan paes Jogga dan Solo adalah penggunaan istilah penunggul dan gajahan. Penunggul dan gajahan merupakan istilah yang disematkan pada area paes paling besar dan terletak di tengah dahi.
Yono menjelaskan, filosofi penunggul dan gajahan sebenarnya sama, yakni melambangkan kebesaran. Gajahan diambil dari kata gajah, yakni hewan yang besar dan kuat.
"Penunggul ini paling besar, lambang kebesaran bahwa perempuan itu dihormati, dijunjung tinggi dalam rumah tangga," katanya.
Simak beda paes Yogya dan Solo di halaman berikutnya..
Beda Paes Yogya dan Solo, Masing-masing Punya Ciri Khas
Foto: Tangkapan layar youtube Presiden Joko Widodo
2. Pengapit
Disebut pengapit karena fungsinya mengapit penunggul. Pengapit mengandung filosofi bahwa istri senantiasa mendampingi suami dalam suka maupun duka.
3. Penitis
Penitis memiliki bentuk hampir sama seperti penunggul, tetapi ukurannya lebih kecil. Jika penunggul berukuran tiga ruas jari, penitis sekitar satu setengah ruas jari.
"Penitis itu pratitis, titis [dalam bahasa Jawa berarti] tepat sasaran. Istri diharapkan bisa mengelola [keuangan] dengan baik, membangun rumah tangga dengan kearifan, kebijaksanaan, sehingga tujuan tepat dalam berkeluarga," jelas Yono.
Pada paes Solo, ujung penitis dibuat bulat menyerupai telur, sedangkan ujung penitis pada paes Yogyakarta cenderung agak bersudut atau runcing.
Godeg pada paes Solo dan paes Jogja memiliki bentuk ujung cukup berbeda meski memiliki makna serupa.
Terdapat pada area pelipis, godeg paes Jogja memiliki bentuk mirip pangot atau pisau yang digunakan untuk mencungkil daging kelapa. Hal ini memunculkan istilah godeg mangot klapa atau bentuk godeg yang menyerupai pangot kelapa.
Sementara itu, godeg pada paes Solo juga memiliki bentuk lancip tetapi menyerupai kuncup bunga turi sehingga muncul istilah godeg ngudup turi. Ujung bunga turi yang belum mekar agak bulat.
Yono menjelaskan godeg mengandung makna perempuan harus selalu ingat sangkan paraning dumadi atau asalnya. Ia dituntut untuk selalu mawas diri dalam melangkah.
"Sisi ujung godeg tadi, kan, lancip, melambangkan perempuan selalu mengasah diri sehingga lancip ing panggrahita atau cerdas dan tanggap dalam segala keadaan," imbuhnya.