Budaya Sunat Perempuan di Penjuru Dunia, Didominasi Negara Afrika
Tiara Sutari | CNN Indonesia
Selasa, 31 Jan 2023 10:30 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Tradisi sunat perempuan tak cuma ada di Indonesia, tapi juga menjadi bagian dari budaya di berbagai negara. (iStock/Moussa81)
Jakarta, CNN Indonesia --
Tradisi sunat perempuan tak cuma ada di Indonesia, tapi juga menjadi bagian dari budaya di berbagai negara. Tengok saja Halima, wanita asal Somalia, yang harus memiliki kenangan masa kecil yang kecut gara-gara sunat perempuan.
Saat masih kanak-kanak, Halima harus menjalani prosedur sunat sebagaimana anak perempuan lain di komunitasnya. Pengalaman menyakitkan ini terus terpatri di benaknya meski telah terjadi bertahun-tahun yang lalu.
"Prosedurnya menyakitkan. Saya berdarah selama berhari-hari," ujar Halima bercerita, menukil laman United Nation News.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Betapa tidak, prosedur sunat perempuan yang dilakoni Halima dilakukan tanpa anestesi. Ia juga terpaksa berada di tempat tidur selama lebih dari tiga bulan akibat prosedur sunat yang dijalaninya.
"Ketika buang air kecil, itu [efek sunat] juga akan menimbulkan masalah," tambahnya.
Meski rasa sakit yang harus ditanggung seumur hidup terus menghantui, Halima tetap melakukan praktik yang sama pada putrinya. Ketika menjadi seorang ibu, Halima tetap melepas putrinya untuk disunat, sama seperti yang dilakukannya di masa lalu.
"Putri saya menjalani sunat FGM (female genital mutilation), dan dia merasakan sakit yang saya alami," kata Halima.
Female genital mutilation merupakan prosedur pengangkatan sebagian atau seluruh klitoris. Di komunitas Halima, anak perempuan yang tidak menjalani sunat akan dihina, dianggap najis dan tidak bersih.
Prosedur sunat perempuan di Somalia memang tergolong tinggi. Bahkan, merujuk Survei Kesehatan dan Demografi Somalia pada 2020, 99 persen wanita berusia 15 hingga 49 tahun telah melakukan prosedur sunat. Mayoritas anak perempuan harus disunat pada usia sembilan tahun.
Survei tersebut juga melaporkan bahwa 72 persen wanita percaya, sunat adalah persyaratan Islam. Padahal, beberapa pemimpin agama mengatakan Islam tidak mewajibkan sunat terhadap perempuan.
Banyak versi asal usul sunat perempuan
Ilustrasi. Asal muasal munculnya budaya sunat perempuan di dunia tak diketahui dengan pasti. (AFP/ADEK BERRY)
Sunat perempuan bukan cuma terjadi di Somalia. Nyatanya, berdasarkan data United Nation Population Fund, prosedur ini dilakukan di hampir 52 negara di dunia.
Sebagian masyarakat di beberapa negara meyakini sunat sebagai sesuatu yang sakral karena berhubungan dengan adat kepercayaan dan agama. Sebagian lainnya melakukan sunat perempuan tanpa alasan pasti.
Sunat pun dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari menggores, memotong sedikit bagian klitoris, memotong sebanyak mungkin klitoris hingga ke labia mayora dan labia minora. Yang paling ekstrem, sunat dilakukan dengan menutup lubang senggama wanita melalui cara menjahit dan menghilangkannya.
Menatap ke belakang, sejarah sunat perempuan tak diketahui dengan pasti. Namun, mengutip catatan FGM National Clinical Group, kemungkinan praktik sunat terhadap perempuan sudah dilakukan sejak 200 tahun lalu. Sebagian orang meyakini, sunat perempuan dipraktikkan pertama kali oleh orang-orang Mesir kuno sebagai tanda perbedaan di antara aristokrasi.
Tak cuma itu, sebagian orang juga percaya sunat perempuan dimulai selama perdagangan budak, ketika wanita budak kulit hitam memasuki masyarakat Arab kuno. Beberapa lainnya percaya sunat perempuan justru dimulai saat kedatangan Islam di beberapa negara Afrika.
Selain itu, ada juga yang meyakini ritual ini muncul dengan sendirinya di masyarakat Afrika sebagai bagian dari ritual menuju pubertas.
Terlepas dari mana asal muasalnya, hampir semua meyakini bahwa sunat bisa mengurangi hasrat seksual perempuan.
Simak negara yang mempraktikkan sunat perempuan di halaman berikutnya..
Meski telah dilarang oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sunat terhadap perempuan masih terus dilakukan.
Sunat perempuan paling banyak dipraktikkan di negara-negara Afrika dan Asia. Di Indonesia, misalnya, sunat perempuan dianggap sebagai tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi.
Sunat perempuan juga dianggap sebagai cara membuat agama Islam yang dipeluk seorang anak perempuan jadi lebih sahih.
Di Afrika, banyak yang meyakini bahwa praktik sunat berkembang dari pemikiran ingin membangun kendali atas perilaku seksual perempuan. Di Kenya dan Sierra Leone, sunat perempuan dilakukan sebagai ritus peralihan kewanitaan.
Sementara di Sudan, Mesir, hingga Somalia, sunat dilakukan untuk menjaga keperawanan seorang gadis hingga waktunya menikah. Dengan kata lain, sunat dilakukan dengan keyakinan agar wanita tidak memiliki hasrat seksual yang tinggi.
Tapi, bukan cuma Afrika atau Asia, beberapa negara di Timur Tengah juga melakukan sunat terhadap perempuan. Bahkan Unicef mencatat, hampir 50 juta anak perempuan dan perempuan dewasa yang tersebar di Timur Tengah dan Afrika mengalami sunat atau mutilasi pada alat kelamin mereka.
Dari hasil penelitian yang dilakukan The Borgen Project, sunat perempuan di Timur Tengah paling banyak terjadi di Yordania Selatan, Irak, dan wilayah utara Arab Saudi.
Meski demikian, beberapa negara lain di Timur Tengah telah melarang praktik ini dilakukan dengan prosedur medis. Salah satunya di Yaman yang melarang praktik sunat dilakukan di fasilitas medis.
Mengutip United Nation Population Fund, saat ini ada sekitar 52 negara yang masih melakukan praktik sunat perempuan. Untuk lebih jelasnya, berikut negara-negara yang masih melakukan praktik sunat perempuan.
1. Afrika
Sebagian besar sunat perempuan dipraktikkan di negara-negara Afrika. Berikut beberapa negara Afrika yang menjalani praktik FGM:
- Benin - Burkina Faso - Kamerun - Republik Afrika Tengah - Chad - Pantai Gading - Republik Demokratik Kongo - Jibuti - Mesir - Eritrea - Ethiopia - Gambia - Ghana - Guinea - Guinea-Bissau - Kenya - Liberia - Malawi - Mali - Mauritania - Niger - Nigeria - Senegal - Sierra Leone - Somalia - Afrika Selatan - Sudan Selatan - Sudan - Tanzania - Togo - Uganda - Zambia - Zimbabwe
2. Asia
Meski tidak semua, tapi kelompok etnis tertentu di sejumlah negara Asia masih melakukan praktik sunat perempuan. Berikut di antaranya:
- India - Indonesia - Malaysia - Maladewa - Pakistan - Sri Lanka
Di Timur Tengah, sunat perempuan juga masih terjadi. Berikut di antaranya:
- Oman - Uni Emirat Arab - Yaman - Irak
- Iran - Yordania - Palestina
4. Eropa Timur
Meski tidak banyak, ada komunitas tertentu yang masih melakukan sunat perempuan, yakni di negara:
- Rusia - Georgia
5. Amerika Selatan
Sunat perempuan juga terjadi di Amerika, yakni di negara:
- Kolombia - Ekuador - Panamá - Peru
Jika praktik ini terus berlanjut, diperkirakan akan ada 68 juta anak perempuan yang akan menjalani sunat perempuan selama 2015 hingga 2030 mendatang.
Jakarta, CNN Indonesia --
Tradisi sunat perempuan tak cuma ada di Indonesia, tapi juga menjadi bagian dari budaya di berbagai negara. Tengok saja Halima, wanita asal Somalia, yang harus memiliki kenangan masa kecil yang kecut gara-gara sunat perempuan.
Saat masih kanak-kanak, Halima harus menjalani prosedur sunat sebagaimana anak perempuan lain di komunitasnya. Pengalaman menyakitkan ini terus terpatri di benaknya meski telah terjadi bertahun-tahun yang lalu.
"Prosedurnya menyakitkan. Saya berdarah selama berhari-hari," ujar Halima bercerita, menukil laman United Nation News.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Betapa tidak, prosedur sunat perempuan yang dilakoni Halima dilakukan tanpa anestesi. Ia juga terpaksa berada di tempat tidur selama lebih dari tiga bulan akibat prosedur sunat yang dijalaninya.
"Ketika buang air kecil, itu [efek sunat] juga akan menimbulkan masalah," tambahnya.
Meski rasa sakit yang harus ditanggung seumur hidup terus menghantui, Halima tetap melakukan praktik yang sama pada putrinya. Ketika menjadi seorang ibu, Halima tetap melepas putrinya untuk disunat, sama seperti yang dilakukannya di masa lalu.
"Putri saya menjalani sunat FGM (female genital mutilation), dan dia merasakan sakit yang saya alami," kata Halima.
Female genital mutilation merupakan prosedur pengangkatan sebagian atau seluruh klitoris. Di komunitas Halima, anak perempuan yang tidak menjalani sunat akan dihina, dianggap najis dan tidak bersih.
Prosedur sunat perempuan di Somalia memang tergolong tinggi. Bahkan, merujuk Survei Kesehatan dan Demografi Somalia pada 2020, 99 persen wanita berusia 15 hingga 49 tahun telah melakukan prosedur sunat. Mayoritas anak perempuan harus disunat pada usia sembilan tahun.
Survei tersebut juga melaporkan bahwa 72 persen wanita percaya, sunat adalah persyaratan Islam. Padahal, beberapa pemimpin agama mengatakan Islam tidak mewajibkan sunat terhadap perempuan.
Banyak versi asal usul sunat perempuan
Ilustrasi. Asal muasal munculnya budaya sunat perempuan di dunia tak diketahui dengan pasti. (AFP/ADEK BERRY)
Sunat perempuan bukan cuma terjadi di Somalia. Nyatanya, berdasarkan data United Nation Population Fund, prosedur ini dilakukan di hampir 52 negara di dunia.
Sebagian masyarakat di beberapa negara meyakini sunat sebagai sesuatu yang sakral karena berhubungan dengan adat kepercayaan dan agama. Sebagian lainnya melakukan sunat perempuan tanpa alasan pasti.
Sunat pun dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari menggores, memotong sedikit bagian klitoris, memotong sebanyak mungkin klitoris hingga ke labia mayora dan labia minora. Yang paling ekstrem, sunat dilakukan dengan menutup lubang senggama wanita melalui cara menjahit dan menghilangkannya.
Menatap ke belakang, sejarah sunat perempuan tak diketahui dengan pasti. Namun, mengutip catatan FGM National Clinical Group, kemungkinan praktik sunat terhadap perempuan sudah dilakukan sejak 200 tahun lalu. Sebagian orang meyakini, sunat perempuan dipraktikkan pertama kali oleh orang-orang Mesir kuno sebagai tanda perbedaan di antara aristokrasi.
Tak cuma itu, sebagian orang juga percaya sunat perempuan dimulai selama perdagangan budak, ketika wanita budak kulit hitam memasuki masyarakat Arab kuno. Beberapa lainnya percaya sunat perempuan justru dimulai saat kedatangan Islam di beberapa negara Afrika.
Selain itu, ada juga yang meyakini ritual ini muncul dengan sendirinya di masyarakat Afrika sebagai bagian dari ritual menuju pubertas.
Terlepas dari mana asal muasalnya, hampir semua meyakini bahwa sunat bisa mengurangi hasrat seksual perempuan.
Simak negara yang mempraktikkan sunat perempuan di halaman berikutnya..
Negara yang menjalani praktik sunat perempuan
Ilustrasi. Ada sekitar 92 negara di dunia yang menjalankan praktik sunat perempuan. (CNN Indonesia/Astari Kusumawardhani)
Meski telah dilarang oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sunat terhadap perempuan masih terus dilakukan.
Sunat perempuan paling banyak dipraktikkan di negara-negara Afrika dan Asia. Di Indonesia, misalnya, sunat perempuan dianggap sebagai tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi.
Sunat perempuan juga dianggap sebagai cara membuat agama Islam yang dipeluk seorang anak perempuan jadi lebih sahih.
Di Afrika, banyak yang meyakini bahwa praktik sunat berkembang dari pemikiran ingin membangun kendali atas perilaku seksual perempuan. Di Kenya dan Sierra Leone, sunat perempuan dilakukan sebagai ritus peralihan kewanitaan.
Sementara di Sudan, Mesir, hingga Somalia, sunat dilakukan untuk menjaga keperawanan seorang gadis hingga waktunya menikah. Dengan kata lain, sunat dilakukan dengan keyakinan agar wanita tidak memiliki hasrat seksual yang tinggi.
Tapi, bukan cuma Afrika atau Asia, beberapa negara di Timur Tengah juga melakukan sunat terhadap perempuan. Bahkan Unicef mencatat, hampir 50 juta anak perempuan dan perempuan dewasa yang tersebar di Timur Tengah dan Afrika mengalami sunat atau mutilasi pada alat kelamin mereka.
Dari hasil penelitian yang dilakukan The Borgen Project, sunat perempuan di Timur Tengah paling banyak terjadi di Yordania Selatan, Irak, dan wilayah utara Arab Saudi.
Meski demikian, beberapa negara lain di Timur Tengah telah melarang praktik ini dilakukan dengan prosedur medis. Salah satunya di Yaman yang melarang praktik sunat dilakukan di fasilitas medis.
Mengutip United Nation Population Fund, saat ini ada sekitar 52 negara yang masih melakukan praktik sunat perempuan. Untuk lebih jelasnya, berikut negara-negara yang masih melakukan praktik sunat perempuan.
1. Afrika
Sebagian besar sunat perempuan dipraktikkan di negara-negara Afrika. Berikut beberapa negara Afrika yang menjalani praktik FGM:
- Benin - Burkina Faso - Kamerun - Republik Afrika Tengah - Chad - Pantai Gading - Republik Demokratik Kongo - Jibuti - Mesir - Eritrea - Ethiopia - Gambia - Ghana - Guinea - Guinea-Bissau - Kenya - Liberia - Malawi - Mali - Mauritania - Niger - Nigeria - Senegal - Sierra Leone - Somalia - Afrika Selatan - Sudan Selatan - Sudan - Tanzania - Togo - Uganda - Zambia - Zimbabwe
2. Asia
Meski tidak semua, tapi kelompok etnis tertentu di sejumlah negara Asia masih melakukan praktik sunat perempuan. Berikut di antaranya:
- India - Indonesia - Malaysia - Maladewa - Pakistan - Sri Lanka