Jakarta, CNN Indonesia -- Hubairah bin Abi Wahab merupakan salah satu musuh Nabi Muhammad dari kalangan Suku Quraisy. Ia merupakan kerabat dekat Nabi dan Ali bin Abi Thalib.
Hubairah dikenal sebagai seorang pria kaya sekaligus penyair berbakat di kalangan Suku Quraisy. Selain kaya raya, ia juga berasal dari kabilah Bani Makhzum.
Hubairah menikah dengan saudara Ali bin Abi Thalib, Ummu Hani. Dari pernikahan tersebut, Hubairah dikaruniai empat anak yaitu Ja'da, Yusuf, Umar, dan Hani.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski kerabat dekat, namun Hubairah menolak dakwah yang disampaikan Nabi Muhammad. Selama mengikuti Perang Uhud, ia bahkan membunuh Khaitsamah bin al-Harits, salah satu pemeluk Islam pada masa-masa awal.
Tak hanya itu, Hubairah juga ikut serta dalam Perang Khandaq sebagai sekutu Suku Quraisy.
Dalam perang tersebut, Hubairah tergabung dalam pasukan kavaleri dan menjadi pemimpin pasukan tersebut. Selama masa pengepungan, ia bertugas mencari parit yang galiannya dapat diseberangi.
Selama Perang Khandaq, Hubairah juga melakukan patroli harian secara bergantian dengan Abu Sufyan, Khalid bin Walid, Amru bin Ash, Ikrimah bin Abu Jahal, dan Dhirar Ibnul Khattab.
Merebut cinta Rasulullah SAW
Dikisahkan, Hubairah menikahi Fakhitah binti Abi Thalib atau yang dikenal dengan Ummu Hani, seorang wanita yang sempat membuat Rasulullah jatuh hati.
Ummu Hani dikenal sebagai seorang perempuan mulia yang menolak cinta Rasulullah.
Mengutip berbagai sumber, Rasulullah menyukai dan sempat meminang Ummu Hani melalui pamannya Abi Thalib. Namun sayang, sang ayah justru telah berencana menikahi putrinya dengan Hubairah.
Hubairah rupanya telah meminang Ummu Hani terlebih dahulu. Ummu Hani pun menerima pinangannya.
Demi menjaga hubungan baik, Abi Thalib pun menjelaskan penolakannya.
"Wahai Muhammad, putriku telah kujodohkan dengan kabilah Makhzum sebagaimana kabilah itu menikahkan putrinya dengan kabilah kita, yaitu orang tuamu Abdullah dan Aminah."
Tak berselang lama, Muhammad mendapatkan gelar kenabiannya. Hal ini pula yang membuat Hubairah berpisah dengan sang istri. Pasalnya, Hubairah enggan memeluk Islam, sementara Ummu Hani memeluk Islam.
Simak kisah musuh nabi Hubairah bin Abi Wahab selengkapnya di halaman berikutnya..
Menentang Rasulullah
Ilustrasi. Selain dikenal sebagai penyair yang menentang dakwah Nabi Muhammad, Hubairah juga pernah membuat Rasulullah patah hati dengan menikahi wanita yang dicintainya. (CNNIndonesia/Basith Subastian)
Usai Nabi memulai seruannya kepada Islam, Hubairah menjadi salah satu penentangnya yang paling menonjol.
Dia berperang melawan tentara Muslim dalam Perang Badar. Ia juga menulis puisi yang mencemarkan seruan Nabi kepada Islam dan mendesak suku-suku Arab untuk bersatu menentangnya.
Dia tidak malu untuk menunjukkan kegembiraannya yang besar atas kematian Hamzah, paman Nabi, dalam Perang Uhud.
Setelah Ummu Hani memeluk Islam, Hubairah kemudian melarikan diri dari sang istri ke Najran karena takut akan hukuman dari umat Islam. Ia diketahui tinggal di sana hingga napas terakhirnya.
Dalam bukunya Al-Tawabin (1424 H), Ibnu Qudamah mengungkapkan bahwa Hubairah adalah salah satu dari dua orang yang melarikan diri dari kota pada hari penaklukan.
Dia ditemani oleh Abdullah bin al-Zabari dari Najran. Akan tetapi, al-Zabari meninggalkannya dan kembali ke Rasulullah, di mana dia juga ikut memeluk Islam.
Langkah ini mengejutkan Hubairah. Sebelum al-Zabari pergi, ia berkata, "Aku berharap telah menemani orang lain selain engkau. Demi Tuhan, aku tak pernah berpikir bahwa kau akan mengikuti Muhammad."
Sementara itu, Muhammad al-Amin al-Shinqiti mengungkapkan dalam bukunya Al-Athab Al-Namir (1426 H) bahwa Hubairah membenarkan pelariannya yang cepat dari istrinya dalam sebuah puisi:
"Demi nyawamu, aku tidak berpaling dari Muhammad dan para sahabatnya karena pengecut, atau karena takut dibunuh.
Tapi aku melihat ke dalam diriku sendiri dan tidak menemukan penggunaan pedang atau tombakku jika aku menyerang.
Aku mengambil sikap, dan ketika aku takut akan hilang dalam kesia-siaan aku mundur seperti singa yang letih."
Menurut tafsir Al-Qur'an al-Thalabi, tafsir Al-Qur'an al-Kashf wa al-Bayān (1422 H), ketika berita tentang mantan istrinya yang memeluk agama Islam sampai kepadanya, ia menulis sebuah puisi yang mengkritiknya, yang berbunyi:
"Engkau telah mengikuti agama Muhammad dan memutuskan hubungan darah (dengan kerabatmu)."