Ilustrasi. Gendongan ayah bisa membangun hubungan batin yang kuat dengan anak. (PublicDomainPictures/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --
Bayu Septianto senang bukan main mendengarkan cerita-cerita Yasmin (5). Buah hatinya satu itu sering bercerita tentang kegiatan di sekolah padanya.
"Dia enggak sungkan cerita ke ayahnya. Enggak ada rasa kalau cerita ke ayah itu takut atau gimana," kata Bayu saat bercerita pada CNNIndonesia.com tentang kedekatannya dengan anak semata wayangnya.
Kebahagiaan yang didapat Bayu saat ini tak muncul ujug-ujug. Kedekatannya dengan Yasmin saat ini bisa jadi buah hasil dari kebiasaannya menggendong si kecil sejak bayi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menggendong, menurut Bayu, membuahkan kedekatan antara ayah dan anak. Hasil manisnya, Yasmin jadi tak segan berbagi dengannya.
Apa yang disampaikan Bayu memang tidak salah. Psikolog Nisfie M Hoesein mengatakan bahwa menggendong jadi satu dari sekian banyak hal yang bisa dilakukan untuk mewujudkan peran ayah.
"Itu jadi pintu awal bayi merasa aman, sesuai fungsi ayah yang pertama," ujar Nisfie.
Fungsi itu adalah pemberi rasa aman dan perlindungan untuk anak. Dengan digendong ayah, anak akan merasa aman.
Menggendong, lanjut dia, merupakan aktivitas fisik yang mengeratkan hubungan batin antara ayah dan anak.
Tak cuma itu, menggendong juga bisa menanamkan figur ayah yang penyayang di alam bawah sadar anak. Lewat aktivitas ini, anak merekam banyak hal, termasuk ketenangan, aroma tubuh yang familiar, dan kalimat-kalimat lembut yang dikeluarkan sang ayah saat menggendong.
Misalnya saja, kalimat 'anak pintar, sini sama ayah' yang diucapkan dengan halus seraya menggendong. Meski belum dimengerti, namun kalimat-kalimat lembut seperti itu akan tertanam pada benak bayi.
"Kata-kata, kan, doa. Kalimat afirmasi ini seperti hipnosis. Dan itu hanya bisa terjadi saat menggendong," ujar Nisfie.
Ilustrasi. Menggendong jadi salah satu cara untuk menanam rasa aman anak pada ayah. (iStock/MaximFesenko)
Selain bermanfaat untuk hubungan batin antara anak dan orang tua, menggendong juga membawa aneka manfaat yang mendasar, utamanya pada bayi.
Konsultan menggendong dan menyusui Ayu Andriani mengatakan menggendong jadi salah satu cara untuk membantu bayi beradaptasi dengan dunia luar.
Ibarat di dalam rahim, menggendong memberikan rasa nyaman pada bayi. Hasilnya, bayi bisa jadi lebih tenang.
"Ketika kulit nempel, ini membantu suhu tubuh dia [bayi] lebih stabil, pernapasan, denyut jantung. Sebab, dia merasakan irama napas dan denyut jantung si penggendongnya," ujar perempuan yang akrab disapa Aan ini.
Sayangnya, tak semua ayah terbiasa menggendong anaknya sejak dini. Salah satu pemicunya adalah rasa takut sebagaimana yang dialami Rayyan Firdaus saat menggendong buah hatinya, Raza Abram, pertama kali.
Pengalaman pertama menggendong bayi itu masih tersimpan di benak Rayyan. Kala itu, didorong tanggung jawab yang besar sebagai ayah, ia mengalahkan rasa takut saat menggendong Raza.
"Anak bayi itu, kan, ringkih banget, takut salah. [Namun] saya, kan, Muslim. Anak bayi dilahirkan itu harus diazanin. Mau enggak mau saya harus berani pegang," ujar Rayyan.
Aan mengamini apa yang dialami Rayyan. Pengalaman pertama menggendong buah hati memang membawa rasa cemas pada ibu baru. Namun, kecemasan bisa jadi berlipat ganda pada ayah.
"Gimana ya caranya? Bisa enggak, ya? Merasa khawatir, jangan-jangan salah posisi, salah pegang. Kulitnya [bayi], kan, masih empuk, masih kemerahan. Semua [ketakutan] itu wajar," kata Aan.
Aan sendiri kerap memberikan pelatihan untuk menggendong dan menyusui secara privat. Tak sedikit ibu yang membawa serta pasangannya untuk ikut belajar.
Dalam pengamatannya selama memberikan pelatihan, Aan menemukan masih banyak ayah yang merasa takut saat menggendong bayi.
"Di situ saya temui, ayah dengan bayi baru lahir 3 bulan ke bawah masih agak takut untuk menggendong," ujar Aan.
Simak selengkapnya tentang manfaat ayah menggendong anak di halaman selanjutnya..
Tak cuma rasa takut, budaya di tengah masyarakat Indonesia soal pembagian peran antara ayah dan ibu juga turut berpengaruh. Hal ini diamini oleh sosiolog Universitas Nasional, Jakarta Nia Elvina.
Nia mengatakan, ilmu sosiologi mengenal istilah pembagian peran dalam keluarga.
"Ayah cenderung masuk dalam ranah publik (pencari nafkah), sedangkan ibu dalam ranah domestik (rumah tangga," jelas Nia.
Pembagian peran ini mau tak mau berdampak pada kebiasaan yang dilakukan orang tua. Akhirnya, peran parenting kerap dilekatkan dengan sosok ibu, bukan ayah.
Jangan heran jika kemudian seorang anak kerap merasa segan dan takut pada sosok ayah. Misalnya saja seperti yang dialami oleh Inaya Salsabila (34).
Inaya tak merasa tak begitu dekat dengan sang ayah. Untuk mengucapkan rasa sayang saja, rasanya sulit.
"Kayaknya seumur-umur cuma satu kali bilang sayang ke papa. Itu pun waktu momen saya menikah," ujar Inaya.
Tak cuma itu, semasa bertumbuh juga Inaya hanya berani bicara pada sang ibu. Segala apa yang dibutuhkan disampaikan Inaya pada sang ibu, hampir tak pernah pada ayahnya.
Salah satu pasalnya bisa jadi karena sejak bayi Inaya tinggal jauh dari sang ayah yang bekerja di luar kota. Gendongan ayah mungkin hanya didapat Inaya di akhir pekan. Hal ini berlangsung selama delapan tahun pertama kehidupan Inaya.
"Rasanya kayak canggung aja kalau ingin bermanja-manja dengan papa," kata Inaya.
Ayah dan ibu berbagi peran
Ilustrasi. Tumbuh kembang anak bukan cuma jadi tugas ibu, tapi juga ayah. (Istockphoto/ Fizkes)
Di tengah masyarakat, sosok ibu seolah-olah memiliki andil besar dalam hal mengurus anak. Padahal, menurut Nisfie, parenting sendiri berarti andil kerja sama antara ayah dan ibu.
Nisfie sendiri menemukan banyak riset yang bermuara pada simpulan bahwa peran ayah jadi penyeimbang peran ibu.
Ibu, lanjut Nisfie, menumbuhkan lima aspek pada anak. Di antaranya aspek fisik (makanan, ASI, dan nutrisi), motorik (permbuhan badan sesuai asia, aktivasi panca-indera, kemampuan motorik), kognitif (kecerdasan), sosial emosional (mengelola emosi dan cara berinteraksi dengan orang lain), dan moral.
"Tapi, anak itu, kan, enggak cukup ditumbuhkan saja. Tumbuh itu ibarat baru potensi dan akan mewujud jadi kompetensi kalau sudah berkembang. Tugas mengembangkan ini tugas ayah," jelas Nisfie.
Artinya, ayah juga jelas punya peran besar dalam tumbuh kembang anak. Setidaknya ada lima peran yang diemban seorang ayah untuk tumbuh kembang si buah hati.
Selain sebagai pemberi rasa aman yang telah dijelaskan sebelumnya, ayah juga berperan sebagai teladan, motivator, pembuat aturan, dan membantu membangun logika berpikir anak.
"Dari banyak studi, ayah yang punya kelimanya. Dia [juga] berkontribusi pada kecakapan kognitif, sosial emosional, prestasi akademis, dan membentuk harga diri anak," jelas Nisfie.
Interaksi antara ayah dan si kecil juga mampu meningkatkan kecerdasan anak. Hal ini ditemukan Nisfie dalam sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti di University of New Jersey, Amerika Serikat.
Ditemukan bahwa anak yang lebih banyak berinteraksi dengan ayah akan memiliki kecerdasan intelektual (IQ) yang lebih tinggi dibanding anak lain yang tak terlalu dekat dengan ayahnya.
Agar tak lagi parno menggendong anak, Nisfie melanjutkan, seorang ayah membutuhkan dukungan ibu.
Nisfie menyarankan agar ibu tak ujuk-ujuk menyodorkan anak pada ayah. Aktivitas menggendong anak malah bisa jadi membebani ayah, apalagi saat kondisi si kecil rewel.
"Ayah perlu diedukasi tentang manfaat menggendung, juga kontribusinya pada pengasuhan anak," kata Nisfie.
Ayah, sudahkah kamu menggendong anakmu?
Jakarta, CNN Indonesia --
Bayu Septianto senang bukan main mendengarkan cerita-cerita Yasmin (5). Buah hatinya satu itu sering bercerita tentang kegiatan di sekolah padanya.
"Dia enggak sungkan cerita ke ayahnya. Enggak ada rasa kalau cerita ke ayah itu takut atau gimana," kata Bayu saat bercerita pada CNNIndonesia.com tentang kedekatannya dengan anak semata wayangnya.
Kebahagiaan yang didapat Bayu saat ini tak muncul ujug-ujug. Kedekatannya dengan Yasmin saat ini bisa jadi buah hasil dari kebiasaannya menggendong si kecil sejak bayi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menggendong, menurut Bayu, membuahkan kedekatan antara ayah dan anak. Hasil manisnya, Yasmin jadi tak segan berbagi dengannya.
Apa yang disampaikan Bayu memang tidak salah. Psikolog Nisfie M Hoesein mengatakan bahwa menggendong jadi satu dari sekian banyak hal yang bisa dilakukan untuk mewujudkan peran ayah.
"Itu jadi pintu awal bayi merasa aman, sesuai fungsi ayah yang pertama," ujar Nisfie.
Fungsi itu adalah pemberi rasa aman dan perlindungan untuk anak. Dengan digendong ayah, anak akan merasa aman.
Menggendong, lanjut dia, merupakan aktivitas fisik yang mengeratkan hubungan batin antara ayah dan anak.
Tak cuma itu, menggendong juga bisa menanamkan figur ayah yang penyayang di alam bawah sadar anak. Lewat aktivitas ini, anak merekam banyak hal, termasuk ketenangan, aroma tubuh yang familiar, dan kalimat-kalimat lembut yang dikeluarkan sang ayah saat menggendong.
Misalnya saja, kalimat 'anak pintar, sini sama ayah' yang diucapkan dengan halus seraya menggendong. Meski belum dimengerti, namun kalimat-kalimat lembut seperti itu akan tertanam pada benak bayi.
"Kata-kata, kan, doa. Kalimat afirmasi ini seperti hipnosis. Dan itu hanya bisa terjadi saat menggendong," ujar Nisfie.
Ilustrasi. Menggendong jadi salah satu cara untuk menanam rasa aman anak pada ayah. (iStock/MaximFesenko)
Selain bermanfaat untuk hubungan batin antara anak dan orang tua, menggendong juga membawa aneka manfaat yang mendasar, utamanya pada bayi.
Konsultan menggendong dan menyusui Ayu Andriani mengatakan menggendong jadi salah satu cara untuk membantu bayi beradaptasi dengan dunia luar.
Ibarat di dalam rahim, menggendong memberikan rasa nyaman pada bayi. Hasilnya, bayi bisa jadi lebih tenang.
"Ketika kulit nempel, ini membantu suhu tubuh dia [bayi] lebih stabil, pernapasan, denyut jantung. Sebab, dia merasakan irama napas dan denyut jantung si penggendongnya," ujar perempuan yang akrab disapa Aan ini.
Sayangnya, tak semua ayah terbiasa menggendong anaknya sejak dini. Salah satu pemicunya adalah rasa takut sebagaimana yang dialami Rayyan Firdaus saat menggendong buah hatinya, Raza Abram, pertama kali.
Pengalaman pertama menggendong bayi itu masih tersimpan di benak Rayyan. Kala itu, didorong tanggung jawab yang besar sebagai ayah, ia mengalahkan rasa takut saat menggendong Raza.
"Anak bayi itu, kan, ringkih banget, takut salah. [Namun] saya, kan, Muslim. Anak bayi dilahirkan itu harus diazanin. Mau enggak mau saya harus berani pegang," ujar Rayyan.
Aan mengamini apa yang dialami Rayyan. Pengalaman pertama menggendong buah hati memang membawa rasa cemas pada ibu baru. Namun, kecemasan bisa jadi berlipat ganda pada ayah.
"Gimana ya caranya? Bisa enggak, ya? Merasa khawatir, jangan-jangan salah posisi, salah pegang. Kulitnya [bayi], kan, masih empuk, masih kemerahan. Semua [ketakutan] itu wajar," kata Aan.
Aan sendiri kerap memberikan pelatihan untuk menggendong dan menyusui secara privat. Tak sedikit ibu yang membawa serta pasangannya untuk ikut belajar.
Dalam pengamatannya selama memberikan pelatihan, Aan menemukan masih banyak ayah yang merasa takut saat menggendong bayi.
"Di situ saya temui, ayah dengan bayi baru lahir 3 bulan ke bawah masih agak takut untuk menggendong," ujar Aan.
Simak selengkapnya tentang manfaat ayah menggendong anak di halaman selanjutnya..
Manfaat pembagian peran ayah dan ibu dalam tumbuh kembang anak
Ilustrasi. Gendongan ayah bisa membangun hubungan batin yang kuat dengan anak. (iStock/rudi_suardi)
Tak cuma rasa takut, budaya di tengah masyarakat Indonesia soal pembagian peran antara ayah dan ibu juga turut berpengaruh. Hal ini diamini oleh sosiolog Universitas Nasional, Jakarta Nia Elvina.
Nia mengatakan, ilmu sosiologi mengenal istilah pembagian peran dalam keluarga.
"Ayah cenderung masuk dalam ranah publik (pencari nafkah), sedangkan ibu dalam ranah domestik (rumah tangga," jelas Nia.
Pembagian peran ini mau tak mau berdampak pada kebiasaan yang dilakukan orang tua. Akhirnya, peran parenting kerap dilekatkan dengan sosok ibu, bukan ayah.
Jangan heran jika kemudian seorang anak kerap merasa segan dan takut pada sosok ayah. Misalnya saja seperti yang dialami oleh Inaya Salsabila (34).
Inaya tak merasa tak begitu dekat dengan sang ayah. Untuk mengucapkan rasa sayang saja, rasanya sulit.
"Kayaknya seumur-umur cuma satu kali bilang sayang ke papa. Itu pun waktu momen saya menikah," ujar Inaya.
Tak cuma itu, semasa bertumbuh juga Inaya hanya berani bicara pada sang ibu. Segala apa yang dibutuhkan disampaikan Inaya pada sang ibu, hampir tak pernah pada ayahnya.
Salah satu pasalnya bisa jadi karena sejak bayi Inaya tinggal jauh dari sang ayah yang bekerja di luar kota. Gendongan ayah mungkin hanya didapat Inaya di akhir pekan. Hal ini berlangsung selama delapan tahun pertama kehidupan Inaya.
"Rasanya kayak canggung aja kalau ingin bermanja-manja dengan papa," kata Inaya.
Ayah dan ibu berbagi peran
Ilustrasi. Tumbuh kembang anak bukan cuma jadi tugas ibu, tapi juga ayah. (Istockphoto/ Fizkes)
Di tengah masyarakat, sosok ibu seolah-olah memiliki andil besar dalam hal mengurus anak. Padahal, menurut Nisfie, parenting sendiri berarti andil kerja sama antara ayah dan ibu.
Nisfie sendiri menemukan banyak riset yang bermuara pada simpulan bahwa peran ayah jadi penyeimbang peran ibu.
Ibu, lanjut Nisfie, menumbuhkan lima aspek pada anak. Di antaranya aspek fisik (makanan, ASI, dan nutrisi), motorik (permbuhan badan sesuai asia, aktivasi panca-indera, kemampuan motorik), kognitif (kecerdasan), sosial emosional (mengelola emosi dan cara berinteraksi dengan orang lain), dan moral.
"Tapi, anak itu, kan, enggak cukup ditumbuhkan saja. Tumbuh itu ibarat baru potensi dan akan mewujud jadi kompetensi kalau sudah berkembang. Tugas mengembangkan ini tugas ayah," jelas Nisfie.
Artinya, ayah juga jelas punya peran besar dalam tumbuh kembang anak. Setidaknya ada lima peran yang diemban seorang ayah untuk tumbuh kembang si buah hati.
Selain sebagai pemberi rasa aman yang telah dijelaskan sebelumnya, ayah juga berperan sebagai teladan, motivator, pembuat aturan, dan membantu membangun logika berpikir anak.
"Dari banyak studi, ayah yang punya kelimanya. Dia [juga] berkontribusi pada kecakapan kognitif, sosial emosional, prestasi akademis, dan membentuk harga diri anak," jelas Nisfie.
Interaksi antara ayah dan si kecil juga mampu meningkatkan kecerdasan anak. Hal ini ditemukan Nisfie dalam sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti di University of New Jersey, Amerika Serikat.
Ditemukan bahwa anak yang lebih banyak berinteraksi dengan ayah akan memiliki kecerdasan intelektual (IQ) yang lebih tinggi dibanding anak lain yang tak terlalu dekat dengan ayahnya.
Agar tak lagi parno menggendong anak, Nisfie melanjutkan, seorang ayah membutuhkan dukungan ibu.
Nisfie menyarankan agar ibu tak ujuk-ujuk menyodorkan anak pada ayah. Aktivitas menggendong anak malah bisa jadi membebani ayah, apalagi saat kondisi si kecil rewel.
"Ayah perlu diedukasi tentang manfaat menggendung, juga kontribusinya pada pengasuhan anak," kata Nisfie.