IDAI Waspadai Super Flu Subclade K, Risiko Berat pada Anak Komorbid

CNN Indonesia
Kamis, 01 Jan 2026 16:00 WIB
Ilustrasi. Waspada super flu bisa makin parah pada anak komorbid. (Istockphoto/wildpixel)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lonjakan kasus flu di Amerika Serikat yang diduga dipicu kemunculan varian baru subclade K menjadi perhatian serius Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Dalam sepekan, lebih dari 70 ribu kasus flu tercatat, memunculkan kekhawatiran akan potensi dampaknya jika varian tersebut menyebar lebih luas, termasuk ke Indonesia.

Ketua Umum IDAI, Dokter Piprim B Yanuarso, mengingatkan bahwa varian subclade K berisiko menimbulkan gejala lebih berat, terutama bila menyerang anak-anak dengan penyakit penyerta.

"Subclade K ini memang agak sulit dikenali dan bisa menembus kekebalan yang sudah ada sebelumnya," ujar Dokter Piprim, Senin (29/12), melansir detikhealth.

Ia menjelaskan, varian ini kerap dijuluki sebagai 'super flu', bukan karena selalu mematikan, tetapi karena potensi keparahan gejalanya pada kelompok rentan. Anak-anak dengan penyakit bawaan menjadi salah satu kelompok yang paling berisiko.

"Pada anak-anak, kejadian influenza tipe A apabila mengenai anak dengan penyakit bawaan atau komorbid, dampaknya bisa jauh lebih serius dibandingkan anak tanpa komorbid," lanjutnya.

Menurut Dokter Piprim, risiko perburukan meningkat pada anak yang memiliki penyakit jantung bawaan, gangguan paru kronis, gangguan metabolik seperti diabetes dan obesitas, kelainan saraf, hingga gangguan sistem imun. Pada kelompok ini, infeksi influenza dapat memicu komplikasi yang lebih berat dan memerlukan penanganan intensif.

Selain faktor virus, kondisi lingkungan juga dinilai dapat mempercepat penyebaran penyakit. IDAI menyoroti bencana alam yang terjadi di sejumlah wilayah, seperti banjir di Sumatera dan Kalimantan Selatan, sebagai situasi yang perlu diwaspadai.

"Kita sedang menghadapi banjir dan banyak bencana di beberapa wilayah. Kita turut prihatin terhadap saudara-saudara kita dan jangan sampai kondisi ini diperberat dengan tambahan kasus influenza," kata Dokter Piprim.

Menghadapi potensi ancaman super flu subclade K, IDAI menekankan pentingnya kembali menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Pengalaman panjang selama pandemi COVID-19 dinilai menjadi pelajaran berharga dalam mencegah penularan penyakit menular.

"Setiap penyakit menular, hal pertama yang harus kita kerjakan adalah PHBS. Kita sudah punya pengalaman pandemi COVID-19, jadi kebiasaan seperti memakai masker, menjaga kebersihan, dan menghindari kerumunan saat musim penyakit itu sangat penting," ujarnya.

Langkah-langkah sederhana seperti mencuci tangan dengan benar, menerapkan etika batuk, menjaga jarak saat anak sedang tidak fit, serta menggunakan masker pada kondisi tertentu dinilai masih sangat relevan hingga saat ini.

IDAI juga kembali mengingatkan pentingnya vaksinasi influenza, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan. Vaksin influenza direkomendasikan untuk anak mulai usia enam bulan ke atas guna menekan risiko gejala berat.

"Bagaimana kita mengingatkan kembali vaksinasi influenza pada anak-anak mulai usia enam bulan. Ini penting untuk mencegah gejala berat," tambahnya.

Tak hanya anak, vaksinasi influenza pada ibu hamil juga dinilai penting. Pemberian vaksin selama kehamilan dapat memberikan perlindungan pasif bagi bayi, khususnya bayi muda dan bayi prematur yang belum bisa menerima imunisasi sendiri.

"Pemberian vaksin pada ibu hamil bisa melindungi bayi-bayi muda, apalagi bayi prematur, agar tetap terlindungi," tambahnya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga kondisi kesehatan anak dengan komorbid. Pengelolaan penyakit penyerta dan pemenuhan nutrisi yang baik dinilai dapat membantu menurunkan risiko keparahan bila anak terinfeksi influenza.

"Pada anak dengan komorbid, menjaga nutrisi yang adekuat dan mengontrol penyakit penyertanya sangat membantu dalam mengurangi beratnya gejala jika terinfeksi influenza," tutup Dokter Piprim.

(nga/tis)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK