Mitos Keramas Saat Haid, Benarkah Bisa Menghentikan Darah?
Larangan keramas saat sedang menstruasi telah menjadi mitos yang masih dipercayai banyak wanita. Aktivitas ini kerap dianggap dapat menghentikan darah haid atau bahkan memicu penyakit tertentu.
Padahal, anggapan tersebut tidak lagi relevan jika dilihat dari sudut pandang medis.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, Andon Hestiantoro menegaskan bahwa keramas atau mandi saat haid tidak akan menghentikan menstruasi secara permanen maupun mengganggu siklusnya.
Lihat Juga : |
"Keramas atau mandi tidak menyebabkan menstruasi berhenti secara permanen, bahkan mengganggu siklus haid," tegas Andon, mengutip detikhealth.
Dia menjelaskan, menstruasi merupakan proses kompleks yang diatur oleh hormon estrogen dan progesteron. Pengaturannya melibatkan kerja otak, yakni hipotalamus dan hipofisis, serta indung telur atau ovarium.
Aktivitas harian seperti mandi, keramas, olahraga ringan, hingga beraktivitas normal tidak memengaruhi kadar hormon tersebut secara signifikan.
"Karena itu, aktivitas seperti mandi, keramas, atau olahraga ringan tidak akan menghentikan pendarahan menstruasi," jelasnya.
Apa yang sebenarnya terjadi saat keramas?
Sebagian perempuan mungkin merasa darah haid tampak berkurang atau seolah berhenti setelah keramas. Kondisi ini sering kali memicu kekhawatiran dan memperkuat mitos yang sudah beredar lama.
Namun, menurut Andon, hal tersebut merupakan fenomena fisik sementara, bukan perubahan hormonal.
"Darah haid tidak benar-benar berhenti total. Ia hanya mengurangi atau 'tertahan' sementara di dalam rongga rahim atau vagina, dan akan kembali keluar setelah efek tertentu hilang atau posisi tubuh berubah," ujarnya.
Dia menegaskan, siklus haid secara keseluruhan tidak akan terganggu hanya karena kebiasaan mandi atau keramas, baik menggunakan air dingin maupun hangat, selama tubuh merasa nyaman.
Untuk meluruskan anggapan yang keliru, Andon memaparkan beberapa hal yang mungkin terjadi saat perempuan keramas ketika sedang menstruasi:
1. Penyempitan pembuluh darah (vasokonstriksi)
Saat tubuh terkena air dingin, pembuluh darah di permukaan kulit akan menyempit untuk menjaga suhu tubuh. Efek ini bersifat lokal dan sementara.
"Pada beberapa perempuan, penyempitan pembuluh darah ini bisa terjadi secara ringan di area rahim atau endometrium," kata Andon.Akibatnya, aliran darah haid yang keluar tampak berkurang atau berhenti sesaat selama beberapa jam.
2. Posisi tubuh dan gravitasi
Saat keramas, posisi tubuh yang berdiri atau membungkuk bisa membuat perempuan tidak menyadari darah yang keluar.
"Ketika selesai mandi dan kembali ke posisi rileks, darah yang sempat tertahan kemudian keluar, sehingga muncul kesan haid 'mulai lagi' setelah mandi," jelasnya.
Lihat Juga : |
3. Faktor relaksasi
Keramas atau mandi air hangat justru dapat membantu merelaksasi otot-otot tubuh, termasuk otot di sekitar rahim. Kondisi ini pada sebagian perempuan bahkan bisa membuat aliran darah haid terasa lebih lancar untuk sementara waktu.
Perubahan aliran darah saat atau setelah keramas bukanlah sesuatu yang berbahaya. Fenomena itu bersifat sementara dan tidak memengaruhi siklus menstruasi secara keseluruhan.
"Intinya, perubahan darah yang tampak berkurang atau berhenti saat atau setelah keramas adalah fenomena fisik sementara, bukan hormonal," tutup dr Andon.
Dengan demikian, mitos tidak boleh keramas saat haid sudah semestinya ditinggalkan. Menjaga kebersihan tubuh, termasuk keramas, justru penting untuk kenyamanan dan kesehatan selama menstruasi.
(tis/tis)