Bukan Cuma Telat Makan, Stres Juga Bisa Picu GERD
Gastroesophageal reflux disease (GERD) kerap dianggap semata-mata sebagai masalah lambung akibat telat makan atau pola makan yang tidak teratur. Padahal, menurut dokter, kondisi ini juga erat kaitannya dengan faktor psikologis seperti stres dan kecemasan.
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterohepatologi, Ari Fahrial Syam mengatakan, GERD merupakan penyakit kompleks yang tidak bisa dipandang sebagai gangguan pencernaan biasa. Peningkatan asam lambung pada GERD dapat dipicu oleh berbagai faktor, termasuk kondisi mental penderitanya.
"Penyakit GERD ini berbeda dengan sakit maag biasa," ujar Ari saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (26/1).
Ia menjelaskan, GERD terjadi ketika asam lambung naik ke arah kerongkongan. Kondisi ini seharusnya tidak terjadi karena asam lambung idealnya tetap berada di lambung dan tidak mengalir balik ke organ lain.
Namun, peningkatan produksi asam lambung bisa dipengaruhi oleh banyak hal. Selain pola makan yang kurang tepat, faktor stres dan kecemasan memiliki peran besar dalam memperberat gejala GERD.
"Terus terang saja, stres itu akan meningkatkan produksi asam lambung," kata Ari.
Menurutnya, hubungan antara GERD dan gangguan psikologis bersifat dua arah. Stres dan kecemasan dapat memicu peningkatan asam lambung, sementara keluhan GERD yang muncul juga dapat memperparah kondisi mental penderitanya.
"Di satu sisi, pasien-pasien dengan GERD itu juga mengalami kecemasan yang luar biasa," ujarnya.
Ari menjelaskan, saat asam lambung naik, sebagian pasien merasakan sensasi tercekik di dada hingga sulit bernapas. Kondisi ini kerap membuat penderita panik dan semakin cemas karena merasa seolah mengalami gangguan jantung atau pernapasan.
Rasa tercekik dan tidak nyaman tersebut kemudian memicu lingkaran masalah baru. Kecemasan meningkat, asam lambung makin naik, dan keluhan GERD menjadi semakin berat.
Karena itu, penanganan GERD tidak bisa hanya berfokus pada lambung semata. Ari menegaskan, pengobatan harus dilakukan secara menyeluruh dengan memperhatikan kondisi fisik dan psikologis pasien.
"Penanganannya harus paripurna, dilakukan secara bersamaan antara mengontrol anxiety-nya dengan mengontrol asam lambungnya," jelasnya.
Mengutip dari Healthline, GERD dan kecemasan dapat menyebabkan sejumlah gejala yang berbeda seperti:
- mual
- sakit perut
- benjolan di tenggorokan
- insomnia
Memang sulit untuk membedakan antara GERD dan kecemasan karena tumpang tindih. Meskipun demikian, keduanya juga memiliki gejala yang berbeda.
Selain faktor psikologis, Ari menyebut, gaya hidup juga berperan besar dalam munculnya GERD. Kelebihan berat badan, kebiasaan merokok, dan konsumsi alkohol dapat memperburuk kondisi asam lambung dan meningkatkan risiko refluks.
"Kalau dia gemuk harus kontrol berat badan. Kalau dia peminum alkohol atau dia rokok, dia harus setop alkohol dan rokoknya," katanya.
GERD sendiri dapat terjadi pada semua kelompok usia. Meski lebih banyak ditemukan pada usia produktif 20 hingga 40 tahun, Ari menyebut kasus GERD kini juga mulai banyak ditemukan pada anak-anak akibat pola makan yang kurang tepat.
Untuk memastikan diagnosis, pasien GERD yang keluhannya tidak membaik dengan pengobatan standar disarankan menjalani pemeriksaan lanjutan, seperti endoskopi atau pemeriksaan pH metri guna melihat apakah terjadi peningkatan asam lambung yang berlebihan.
Tak perlu khawatir, GERD merupakan penyakit yang bisa diobati dan dikontrol, asalkan ditangani secara tepat dan tidak hanya berfokus pada satu aspek.
(nga/asr)