Normalnya Berapa Kali Buang Air Kecil dan Besar dalam Sehari?

CNN Indonesia
Senin, 08 Jun 2026 22:30 WIB
Ilustrasi. Frekuensi buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB) yang dianggap normal tidaklah sama untuk setiap orang. Namun, kira-kira berapa kali idealnya? (iStockphoto/Rasulovs)
Jakarta, CNN Indonesia --

Frekuensi buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB) yang dianggap normal tidaklah sama untuk setiap orang.

Ada yang bisa ke toilet berkali-kali dalam sehari, sementara yang lain justru tidak BAB setiap hari. Selama polanya masih konsisten dan tidak disertai keluhan tertentu, kondisi tersebut umumnya masih dianggap wajar.

Dilansir dari National Health Service (NHS) Inggris, buang air kecil sekitar 4-8 kali per hari masih tergolong normal, dengan kemungkinan satu kali terbangun malam untuk ke toilet.

Namun, frekuensi ini bisa berbeda-beda tergantung kondisi tubuh dan kebiasaan masing-masing. Seseorang yang banyak minum air putih, misalnya, kemungkinan memang akan lebih sering pipis dibanding orang dengan asupan cairan lebih sedikit.

Selain cairan, frekuensi BAK juga dapat dipengaruhi oleh konsumsi kopi atau alkohol, cuaca dingin, usia, kehamilan, obat tertentu, hingga kondisi kesehatan seperti pembesaran prostat atau infeksi saluran kemih.

Bagaimana dengan BAB?

Sementara untuk buang air besar, frekuensi normal tiap orang dapat bervariasi. Mengutip dari Mayo Clinic, frekuensi BAB normal berada di kisaran tiga kali sehari hingga tiga kali seminggu.

Artinya, tidak BAB setiap hari bukan otomatis tanda gangguan pencernaan. Hal tersebut senada dengan penjelasan dari laman Medical News Doctor.

Dijelaskan bahwa kebiasaan buang air besar bervariasi dari orang ke orang karena faktor-faktor seperti diet, tingkat aktivitas, dan kondisi kesehatan dapat memengaruhi frekuensi buang air besar.

Akan tetapi, buang air besar kurang dari tiga kali seminggu dapat mengindikasikan sembelit.

Namun yang lebih penting justru apakah pola tersebut memang sudah menjadi kebiasaan tubuh seseorang dan tidak menimbulkan keluhan.

Ditambahkan dari National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), pola BAB perlu dilihat bersama kondisi tinja dan kenyamanan saat buang air. BAB yang sehat umumnya mudah dikeluarkan, tidak nyeri, tidak berdarah, tidak terlalu keras, dan tidak terlalu cair.

Kapan perlu periksa ke dokter?

Meski begitu, perubahan pola BAB atau BAK yang mendadak tetap perlu diperhatikan. Pemeriksaan dianjurkan dilakukan bila muncul gejala seperti:

Jadi, kalau Anda tidak BAB setiap hari atau merasa pipis lebih sering setelah banyak minum, belum tentu itu tanda masalah. Sebab tubuh memang punya ritmenya masing-masing.

(anm/fef)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK