Ilustrasi. Capsule wardrobe tak harus dibangun dari nol dan butuh biaya banyak, bisa dimulai dari memanfaatkan isi lemari baju. (Istockphoto/kupicoo)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sustainable fashion memang sering terdengar mahal. Baju berbahan organik, jenama slow fashion, sampai pakaian eco-friendly kerap dijual dengan harga yang jauh lebih tinggi dibanding produk fast fashion.
Tidak heran kalau banyak orang akhirnya menganggap gaya hidup berpakaian yang lebih sadar lingkungan hanya cocok untuk orang dengan bujet besar.
Apalagi belakangan muncul anggapan bahwa membangun capsule wardrobe berarti harus membeli blazer mahal, basic top premium, atau outfit netral baru supaya terlihat rapi dan timeless. Padahal, konsep capsule wardrobe sebenarnya tidak dimulai dari belanja.
Influencer conscious fashion, Cempaka Asriani menyampaikan, inti capsule wardrobe justru bukan membeli banyak pakaian baru, melainkan mengenali isi lemari sendiri terlebih dahulu.
"Banyak yang kayak misalnya, 'Oh kak aku mau pakai capsule wardrobe, kira-kira aku harus beli apa, ya?' Enggak gitu. Konsepnya adalah kita tuh nge-audit lemari kita sendiri," kata Cempaka kepada CNNIndonesia.com, Kamis (21/5).
Capsule wardrobe tidak harus mahal
Menurut Cempaka, pakaian yang lebih awet tidak selalu harus datang dari jenama premium atau sustainable dengan harga tinggi.
"Bukan kayak, 'Oh kalau aku beli baju lebih mahal berarti dia akan bertahan lebih lama'. Sebenarnya bukan itu," ucapnya.
Menurut pemilik akun Instagram @casriani ini, titik awal capsule wardrobe justru ada pada pemahaman terhadap gaya personal sendiri. Ketika seseorang memahami pakaian yang benar-benar sesuai dengan gaya hidup dan kebutuhannya, pakaian itu cenderung lebih sering dipakai dan bertahan lebih lama.
Cempaka mencontohkan dirinya yang memang lebih sering memakai kaus dalam keseharian. Setelah berhijab, ia mulai membeli kaus lengan panjang dari merek lokal dengan harga sekitar Rp70 ribu per potong.
"Harganya kan bisa dibilang murah lah ya, Rp70 ribu kaos gitu, ya. Tapi jadi sering dipakai karena itu fit my personal style," katanya.
Capsule wardrobe tidak selalu harus dibangun dengan membeli item mahal satu per satu. Justru, pakaian yang paling sustainable sering kali adalah pakaian yang sudah dimiliki.
Kalaupun harus membeli baru, ia menyarankan memilih pakaian yang memang sesuai kebutuhan dan masih masuk ke dalam kemampuan finansial masing-masing.
Tidak dianjurkan dibangun sekaligus
Pandangan bahwa capsule wardrobe harus dibangun dari nol juga sebenarnya bertentangan dengan prinsip conscious consumption itu sendiri.
Menurut sebuah studi tentang capsule wardrobe oleh José Magano dalam Journal of Sustainability Research (2025), capsule wardrobe lahir sebagai respons terhadap fast fashion dan konsumsi berlebihan.
Oleh karena itu, fokus utamanya membeli lebih sedikit, memakai lebih lama, dan memilih pakaian yang versatile, bukan mengganti seluruh isi lemari sekaligus.
Konsep serupa juga muncul dalam buyarchy of needs, gagasan sustainable fashion yang dipopulerkan ilustrator Sarah Lazarovic lewat bukunya A Bunch of Pretty Things I Did Not Buy (2014).
Konsep ini mengajak orang untuk memikirkan ulang kebutuhan sebelum membeli barang baru. Urutannya sederhana:
gunakan yang sudah ada,
pinjam,
tukar,
beli barang bekas,
buat sendiri,
membeli barang baru menjadi pilihan terakhir.
Jadi, membeli pakaian baru seharusnya bukan langkah pertama dalam membangun capsule wardrobe.
"Mindset-nya tuh bukan mengganti baju ke brand-brand sustainable. Jadi, maksudnya ya pakai yang ada aja," kata Cempaka.
Menurutnya, membeli pakaian baru dilakukan ketika memang diperlukan, misalnya pakaian lama sudah rusak, ukurannya tidak lagi sesuai, atau kebutuhan hidup berubah.
Baca halaman selanjutnya...
Berapa lama capsule wardrobe bisa bertahan?
Banyak penelitian soal sustainable fashion juga menekankan pentingnya memperpanjang umur pakaian.
Salah satunya studi dalam prosiding 3rd PLATE (Product Lifetimes and the Environment) 2019 Conference di Berlin, Jerman, oleh Ingun Grimstad Klepp dan tim dari Oslo Metropolitan University.
Dalam kajian tersebut, rata-rata umur pakaian ditemukan sekitar empat tahun, meski tiap item memiliki umur simpan berbeda tergantung bahan, frekuensi pemakaian, tren, dan cara perawatannya.
Studi tersebut juga menjelaskan pakaian basic atau timeless biasanya bertahan lebih lama karena lebih sering dipakai dan tidak cepat terasa ketinggalan zaman.
Menurut Cempaka, umur pakaian sebenarnya bisa jauh lebih panjang, terutama jika dirawat dengan baik.
"Kalau baju-baju yang berkualitas tinggi, terutama natural fiber, itu biasanya bisa bertahan di angka lima tahunan lebih. Bisa lima sampai sepuluh tahun," katanya.
Ia mencontohkan dirinya masih memiliki rok berusia sekitar 15 tahun yang bentuknya masih cukup baik sampai sekarang. Namun pakaian berbahan natural fiber tersebut memang cenderung lebih cepat mengalami perubahan karena berasal dari bahan alami.
"Kalau katun makin tipis bisa bolong, bisa belel. Itu memang ciri-ciri bahan natural," katanya.
Oleh karena itu, capsule wardrobe idealnya tidak diperbarui mengikuti tren musiman, tetapi ketika pakaian memang rusak, tidak lagi muat, atau sudah tidak relevan dengan kebutuhan hidup pemiliknya.
Cara memperpanjang umur pakaian
Selain membeli lebih sedikit, salah satu prinsip penting sustainable fashion, yakni memperpanjang umur pakaian.
Hal ini juga dibahas dalam sebuah studi di jurnal Sustainability (2022) oleh Lisa Zhang dan Jo Hale, yang menemukan umur pakaian bisa diperpanjang lewat kebiasaan sederhana seperti:
memperbaiki jahitan kecil,
mengganti resleting,
mencuci dengan benar, dan
tidak terlalu sering mencuci pakaian.
Penelitian tersebut menekankan lama penggunaan pakaian tidak hanya ditentukan harga, tetapi juga cara penggunaan dan perawatannya.
Cempaka pun menambahkan, salah satu langkah paling sederhana untuk merawat pakaian justru dimulai dari membaca label perawatan.
Jika membeli secara online, ia menyarankan untuk membaca deskripsi produk atau bertanya langsung mengenai cara perawatan pakaian tersebut.
Tampil rapi dan fashionable tidak selalu datang dari belanja baru, tetapi dari kemampuan memakai ulang pakaian lama dengan cara berbeda. Jadi, sudah siap untuk memulai capsule wardrobe?
Jakarta, CNN Indonesia --
Sustainable fashion memang sering terdengar mahal. Baju berbahan organik, jenama slow fashion, sampai pakaian eco-friendly kerap dijual dengan harga yang jauh lebih tinggi dibanding produk fast fashion.
Tidak heran kalau banyak orang akhirnya menganggap gaya hidup berpakaian yang lebih sadar lingkungan hanya cocok untuk orang dengan bujet besar.
Apalagi belakangan muncul anggapan bahwa membangun capsule wardrobe berarti harus membeli blazer mahal, basic top premium, atau outfit netral baru supaya terlihat rapi dan timeless. Padahal, konsep capsule wardrobe sebenarnya tidak dimulai dari belanja.
Influencer conscious fashion, Cempaka Asriani menyampaikan, inti capsule wardrobe justru bukan membeli banyak pakaian baru, melainkan mengenali isi lemari sendiri terlebih dahulu.
"Banyak yang kayak misalnya, 'Oh kak aku mau pakai capsule wardrobe, kira-kira aku harus beli apa, ya?' Enggak gitu. Konsepnya adalah kita tuh nge-audit lemari kita sendiri," kata Cempaka kepada CNNIndonesia.com, Kamis (21/5).
Capsule wardrobe tidak harus mahal
Menurut Cempaka, pakaian yang lebih awet tidak selalu harus datang dari jenama premium atau sustainable dengan harga tinggi.
"Bukan kayak, 'Oh kalau aku beli baju lebih mahal berarti dia akan bertahan lebih lama'. Sebenarnya bukan itu," ucapnya.
Menurut pemilik akun Instagram @casriani ini, titik awal capsule wardrobe justru ada pada pemahaman terhadap gaya personal sendiri. Ketika seseorang memahami pakaian yang benar-benar sesuai dengan gaya hidup dan kebutuhannya, pakaian itu cenderung lebih sering dipakai dan bertahan lebih lama.
Cempaka mencontohkan dirinya yang memang lebih sering memakai kaus dalam keseharian. Setelah berhijab, ia mulai membeli kaus lengan panjang dari merek lokal dengan harga sekitar Rp70 ribu per potong.
"Harganya kan bisa dibilang murah lah ya, Rp70 ribu kaos gitu, ya. Tapi jadi sering dipakai karena itu fit my personal style," katanya.
Capsule wardrobe tidak selalu harus dibangun dengan membeli item mahal satu per satu. Justru, pakaian yang paling sustainable sering kali adalah pakaian yang sudah dimiliki.
Kalaupun harus membeli baru, ia menyarankan memilih pakaian yang memang sesuai kebutuhan dan masih masuk ke dalam kemampuan finansial masing-masing.
Tidak dianjurkan dibangun sekaligus
Pandangan bahwa capsule wardrobe harus dibangun dari nol juga sebenarnya bertentangan dengan prinsip conscious consumption itu sendiri.
Menurut sebuah studi tentang capsule wardrobe oleh José Magano dalam Journal of Sustainability Research (2025), capsule wardrobe lahir sebagai respons terhadap fast fashion dan konsumsi berlebihan.
Oleh karena itu, fokus utamanya membeli lebih sedikit, memakai lebih lama, dan memilih pakaian yang versatile, bukan mengganti seluruh isi lemari sekaligus.
Konsep serupa juga muncul dalam buyarchy of needs, gagasan sustainable fashion yang dipopulerkan ilustrator Sarah Lazarovic lewat bukunya A Bunch of Pretty Things I Did Not Buy (2014).
Konsep ini mengajak orang untuk memikirkan ulang kebutuhan sebelum membeli barang baru. Urutannya sederhana:
gunakan yang sudah ada,
pinjam,
tukar,
beli barang bekas,
buat sendiri,
membeli barang baru menjadi pilihan terakhir.
Jadi, membeli pakaian baru seharusnya bukan langkah pertama dalam membangun capsule wardrobe.
"Mindset-nya tuh bukan mengganti baju ke brand-brand sustainable. Jadi, maksudnya ya pakai yang ada aja," kata Cempaka.
Menurutnya, membeli pakaian baru dilakukan ketika memang diperlukan, misalnya pakaian lama sudah rusak, ukurannya tidak lagi sesuai, atau kebutuhan hidup berubah.
Baca halaman selanjutnya...
Berapa lama capsule wardrobe bisa bertahan?
Ilustrasi. Capsule wardrobe tak harus dibangun dari nol dan butuh biaya banyak, bisa dimulai dari memanfaatkan isi lemari baju. (iStock/Jaka Suryanta)
Berapa lama capsule wardrobe bisa bertahan?
Banyak penelitian soal sustainable fashion juga menekankan pentingnya memperpanjang umur pakaian.
Salah satunya studi dalam prosiding 3rd PLATE (Product Lifetimes and the Environment) 2019 Conference di Berlin, Jerman, oleh Ingun Grimstad Klepp dan tim dari Oslo Metropolitan University.
Dalam kajian tersebut, rata-rata umur pakaian ditemukan sekitar empat tahun, meski tiap item memiliki umur simpan berbeda tergantung bahan, frekuensi pemakaian, tren, dan cara perawatannya.
Studi tersebut juga menjelaskan pakaian basic atau timeless biasanya bertahan lebih lama karena lebih sering dipakai dan tidak cepat terasa ketinggalan zaman.
Menurut Cempaka, umur pakaian sebenarnya bisa jauh lebih panjang, terutama jika dirawat dengan baik.
"Kalau baju-baju yang berkualitas tinggi, terutama natural fiber, itu biasanya bisa bertahan di angka lima tahunan lebih. Bisa lima sampai sepuluh tahun," katanya.
Ia mencontohkan dirinya masih memiliki rok berusia sekitar 15 tahun yang bentuknya masih cukup baik sampai sekarang. Namun pakaian berbahan natural fiber tersebut memang cenderung lebih cepat mengalami perubahan karena berasal dari bahan alami.
"Kalau katun makin tipis bisa bolong, bisa belel. Itu memang ciri-ciri bahan natural," katanya.
Oleh karena itu, capsule wardrobe idealnya tidak diperbarui mengikuti tren musiman, tetapi ketika pakaian memang rusak, tidak lagi muat, atau sudah tidak relevan dengan kebutuhan hidup pemiliknya.
Cara memperpanjang umur pakaian
Selain membeli lebih sedikit, salah satu prinsip penting sustainable fashion, yakni memperpanjang umur pakaian.
Hal ini juga dibahas dalam sebuah studi di jurnal Sustainability (2022) oleh Lisa Zhang dan Jo Hale, yang menemukan umur pakaian bisa diperpanjang lewat kebiasaan sederhana seperti:
memperbaiki jahitan kecil,
mengganti resleting,
mencuci dengan benar, dan
tidak terlalu sering mencuci pakaian.
Penelitian tersebut menekankan lama penggunaan pakaian tidak hanya ditentukan harga, tetapi juga cara penggunaan dan perawatannya.
Cempaka pun menambahkan, salah satu langkah paling sederhana untuk merawat pakaian justru dimulai dari membaca label perawatan.
Jika membeli secara online, ia menyarankan untuk membaca deskripsi produk atau bertanya langsung mengenai cara perawatan pakaian tersebut.
Tampil rapi dan fashionable tidak selalu datang dari belanja baru, tetapi dari kemampuan memakai ulang pakaian lama dengan cara berbeda. Jadi, sudah siap untuk memulai capsule wardrobe?