Coba 'Slow Fashion,' Tantang Diri Tak Beli Baju Baru 3 Bulan

tim, CNN Indonesia | Senin, 06/07/2020 18:59 WIB
Ilustrasi jaket Berapa kali Anda membeli baju dalam sebulan? Nyatanya pandemi dan tutupnya mal tak membuat orang akhirnya berhenti belanja baju.(Pixabay/jarmoluk)
Jakarta, CNN Indonesia --

Berapa kali Anda membeli baju dalam sebulan? Nyatanya pandemi dan tutupnya mal tak membuat orang akhirnya berhenti belanja baju. Masih ada online shop yang bisa mengantarkan pesanan Anda langsung ke rumah.

Namun ada baiknya untuk sedikit berpikir lagi dan memanfaatkan masa pandemi untuk mengurangi sampah.

Komunitas Zero Waste Indonesia (ZWID) mengajak orang-orang untuk berkomitmen tidak membeli pakaian baru selama tiga bulan. Tujuannya sebagai implementasi slow fashion untuk mengurangi sampah fashion dan limbah tekstil.


Gerakan yang dinamai Mulai Dari Lemari ini akan berlangsung mulai 15 Juli hingga 15 Oktober 2020. Dalam gerakan ini, Anda diminta untuk mencari alternatif baju baru. seperti meminjam, menyewa, bertukar, menjahit sendiri, atau membeli baju bekas.

Meski demikian, dalam gerakan ini bukan berarti Anda tak boleh membeli baju baru. Beli baju baru boleh saja, asalkan jika memang benar-benar dibutuhkan, bukan sekadar karena ingin, tergiur tren, atau diskon. Pasalnya banyak orang yang hanya membeli baju bukan karena butuh.

Jika membeli baju baru, usahakan pilih busana dari label fesyen berkelanjutan atau label lokal untuk mendukung wirausaha yang terdampak pandemi COVID-19.

"Seiring berkembangnya zaman, industri fesyen bergulir begitu cepat. Berbagai label gencar mengeluarkan koleksi barunya demi mengikuti tren. Fesyen Cepat (fast fashion) menjadi sesuatu yang banyak diminati berimbas pada perilaku konsumerisme dimana orang-orang membeli pakaian baru demi mengikuti tren semata dengan jumlah lebih dari yang mereka butuhkan," ujar Maurilla Sophianti Imron, pendiri Komunitas Zero Waste Indonesia, dalam siaran resmi yang dikutip Antara.

"Padahal industri tekstil merupakan salah satu penyumbang polusi terbesar di dunia. Jika terus menerus seperti ini bukankah tidak baik juga untuk diri sendiri dan lingkungan?" lanjut dia.

Ada alasan di belakang slow fashion ini. Mengutip Global Fashion Agenda, limbah tekstil akan diperkirakan bertambah sebanyak 60 persen antara 2015 sampai 2030.

Melalui gerakan ini, jika setidaknya ada 5 ribu orang berpartisipasi untuk memperpanjang umur pakaian hingga 9 bulan, maka emisi karbon global bisa berkurang hingga 30 persen.

"MDL (Mulai dari Lemari) bukan anti baju baru tapi sebuah pengingat diri," kata Amanda Zahra Marsono, Head of Public Relations and Marketing juga Project Manager #TukarBaju.

Menurut Amanda, kampanye ini fokus kepada pembentukan kesadaran mengenai implementasi Fesyen Lambat dalam konsep Fesyen Berkelanjutan.

Diharapkan gerakan ini bisa memberikan kesadaran bahwa berkontribusi untuk lingkungan juga bisa dimulai dari lemari pakaian sendiri.

(chs)

[Gambas:Video CNN]