Gejala Alergi Susu Sapi pada Anak Bisa Berbeda-beda, Kenali Tandanya

CNN Indonesia
Senin, 15 Jun 2026 12:30 WIB
Gejala Alergi Susu Sapi pada Anak Bisa Berbeda-beda, Kenali Tandanya
Ilustrasi. Gejala alergi susu sapi bisa berbeda-beda setiap anak. (iStockphoto/Elena Medoks)

Jangan Menebak Diagnosis Sendiri

Karena gejalanya sangat beragam, orang tua disarankan tidak langsung menyimpulkan bahwa anak mengalami alergi susu sapi tanpa pemeriksaan medis.

Molly menegaskan, langkah pertama yang perlu dilakukan saat muncul kecurigaan adalah berkonsultasi dengan dokter.

"Kalau memang sudah merasa jangan-jangan anak saya alergi, langkah pertama sebaiknya melakukan konsultasi secara langsung ke dokter," ujarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Molly, diagnosis alergi susu sapi memerlukan proses dan tidak dapat dipastikan hanya dalam satu kali kunjungan.

Dokter akan menelusuri riwayat kesehatan anak, jenis gejala yang muncul, durasi keluhan, pola makan, hingga kondisi gizi. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menentukan langkah pemeriksaan lanjutan sesuai kondisi masing-masing anak.

"Untuk menegaskan diagnosis alergi susu sapi itu butuh proses. Tidak hanya sekali datang, lalu langsung dipastikan," kata Molly.

Salah satu metode yang umum dilakukan adalah eliminasi, yakni menghentikan sementara pemberian makanan atau minuman yang mengandung protein susu sapi.

Proses eliminasi biasanya berlangsung selama 1-2 minggu hingga 2-4 minggu, tergantung gejala dan tingkat keparahan yang dialami anak.

Selama periode tersebut, dokter akan memantau perkembangan kondisi anak. Jika gejala membaik, tahap berikutnya adalah provokasi, yaitu memperkenalkan kembali protein susu sapi untuk melihat apakah gejala muncul kembali.

"Kalau saat eliminasi gejalanya membaik, lalu saat provokasi muncul kembali, maka bisa dipastikan anak tersebut memang mengalami alergi susu sapi," ujarnya.

ASI tetap menjadi pilihan utama

Molly menegaskan bahwa anak dengan alergi susu sapi tetap harus mendapatkan asupan nutrisi yang memadai agar tumbuh kembangnya tidak terganggu.

Pada bayi yang masih mendapatkan ASI, pemberian ASI sebaiknya tetap dilanjutkan. Yang perlu dilakukan adalah ibu menyusui menghindari makanan dan minuman yang mengandung protein susu sapi sesuai anjuran dokter.

"ASI jangan pernah distop. ASI dilanjutkan karena ASI itu yang terbaik. Yang dilakukan, bundanya yang stop makan protein susu sapi," kata Molly.

Dalam kondisi tertentu, bayi mungkin tidak dapat memperoleh ASI karena alasan medis atau kondisi lainnya. Pada situasi seperti ini, pemilihan nutrisi pengganti harus dilakukan berdasarkan rekomendasi dokter.

Molly menjelaskan bahwa pemilihan nutrisi untuk anak dengan alergi susu sapi tidak bisa disamaratakan dan harus disesuaikan dengan tingkat keparahan gejala.

Pada anak dengan gejala ringan hingga sedang, dokter dapat merekomendasikan extensively hydrolyzed formula atau formula terhidrolisis ekstensif sesuai indikasi medis.

Sementara itu, pada anak dengan gejala berat, dokter dapat merekomendasikan formula berbasis asam amino. Formula ini mengandung molekul protein yang lebih kecil sehingga umumnya lebih mudah ditoleransi oleh anak dengan alergi berat.

Untuk anak dengan gejala ringan hingga sedang, formula soya juga dapat menjadi pilihan kedua apabila terdapat kendala ketersediaan atau biaya. Namun, Molly mengingatkan bahwa formula soya berbeda dengan susu kedelai biasa karena telah diformulasikan khusus dan dilengkapi berbagai zat gizi penting.

Di sisi lain, formula terhidrolisis parsial tidak direkomendasikan sebagai tata laksana alergi susu sapi. Formula ini tidak termasuk kelompok formula khusus yang direkomendasikan untuk anak yang telah terdiagnosis alergi susu sapi.

Selain susu, makanan pendamping juga perlu diperhatikan. Pada anak yang sudah mulai mengonsumsi makanan padat, menu yang diberikan harus tetap bebas dari protein susu sapi selama masih menjalani tata laksana alergi.

"Kalau anak sudah mendapat makanan padat, selama anak tersebut masih mengalami alergi susu sapi, maka makanan padatnya juga harus bebas dari protein susu sapi," kata Molly.

Alergi susu sapi bukan berarti anak harus kehilangan kesempatan mendapatkan nutrisi yang optimal. Kuncinya adalah mengenali gejala sejak dini, memastikan diagnosis melalui pemeriksaan dokter, menghindari pencetus, serta memilih asupan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi anak.

(anm/tis) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2