Hari-hari Berjalan Biasa, Tapi Hidup Terasa Berat? Ini Kata Psikolog

CNN Indonesia
Jumat, 12 Jun 2026 15:15 WIB
Ilustrasi. Beberapa orang mengalami hidup yang terasa berat meski sebenarnya hari-hari berjalan biasa dan baik-baik saja. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pernahkah kamu merasa bahwa hidup terasa lebih berat padahal aktivitas sehari-hari berhasil dilalui seperti biasanya? Jika iya, boleh jadi kamu tidak sendirian saat ini.

Harga kebutuhan naik, pekerjaan terasa tidak aman, masa depan sulit ditebak, sementara kabar buruk terus muncul di media sosial. Di tengah kondisi seperti ini, banyak orang merasa hidup makin berat, meski dari luar terlihat baik-baik saja.

Psikolog Arnold Lukito mengatakan, kondisi itu bisa terjadi karena kesehatan mental tidak selalu terbagi menjadi dua kutub sakit atau sehat. Ada ruang di antaranya, ketika seseorang tidak depresi, tetapi juga tidak benar-benar merasa hidup bermakna.

Dalam psikologi, kondisi itu dikenal sebagai languishing. Seseorang masih bisa bekerja, bercanda, dan menjalani rutinitas, tetapi di dalam merasa hampa, datar, atau sekadar bertahan.

Menurut Arnold, banyak orang tampak baik-baik saja karena sedang menjalankan peran di depan orang lain. Istilah psikologi menyebutnya sebagai emotional labor, yaitu energi yang dikeluarkan untuk menampilkan emosi yang dianggap pantas.

"Ironisnya, makin jago seseorang terlihat baik-baik saja, makin besar energi yang sebetulnya diam-diam terkuras," ujar Arnold pada CNNIndonesia.com, Kamis (11/6).

Arnold mengatakan, tekanan ekonomi, ketidakpastian masa depan, dan paparan berita buruk bisa membuat mental terasa lelah. Efeknya, sering tidak muncul dari satu peristiwa besar, tetapi dari tekanan kecil yang berlangsung terus-menerus.

Ia mengibaratkan stres akut seperti tembok yang rusak karena dipukul sekali. Sementara stres kronis seperti tembok yang perlahan rusak karena rembesan air.

Akumulasi tekanan ini disebut allostatic load,yaitu keausan tubuh karena terlalu lama berada dalam mode siaga.

"Analoginya seperti HP dengan puluhan aplikasi yang aktif di background. Layarnya terlihat normal, tapi baterai tersedot habis," jelas Arnold.

Karena itu, seseorang tidak harus punya satu masalah besar untuk merasa berat. Kadang, yang melelahkan justru banyak kekhawatiran kecil yang terus menyala di belakang pikiran.

Menurut Arnold, ketidakpastian sering lebih melelahkan dibanding kabar buruk yang sudah jelas. Ia merujuk riset de Berker pada 2016 yang menunjukkan, orang bisa lebih stres saat menghadapi kemungkinan buruk yang belum pasti dibanding saat mengetahui kabar buruk yang sudah jelas.

"Otak lebih tidak suka ketidaktahuan atau ketidakpastian dibandingkan kabar buruk," ujar Arnold.

Dalam konteks Indonesia saat ini, pertanyaan seperti 'apakah uang cukup sampai akhir bulan?', 'bagaimana kalau harga makin naik?', atau 'apakah pekerjaan saya aman?' bisa membuat tubuh terus berada dalam mode waspada.

Arnold juga mengutip metafora dari neurobiolog Robert Sapolsky dalam buku Why Zebras Don't Get Ulcers. Zebra akan stres saat dikejar singa, lalu kembali tenang setelah lolos. Manusia berbeda, karena bisa merasa terus 'dikejar singa' di dalam kepala lewat pikiran 'bagaimana kalau begini' dan 'bagaimana kalau begitu'.

Akibatnya, seseorang bisa lebih mudah cemas, cepat lelah, sensitif, sulit tidur, atau gampang tersulut oleh hal kecil.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya..

Hari-hari Berjalan Biasa, Tapi Hidup Terasa Berat? Ini Kata Psikolog


BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :

TOPIK TERKAIT