Ingin Cek Medsos Terus, Sibuk atau Cemas? Ini Penjelasannya
Pernah merasa ingin terus membuka media sosial padahal tidak ada notifikasi penting? Terkadang, tiba-tiba mengecek ponsel tanpa sadar terjadi hanya karena takut ketinggalan sesuatu.
Kebiasaan ini makin umum terjadi di era digital. Sekilas terlihat seperti kesibukan, tetapi bisa jadi ada faktor psikologis yang mendorong perilaku tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip jurnal Addictive Features of Social Media/Messenger Platforms and Freemium Games against the Background of Psychological, penggunaan gawai berlebihan bukan hanya soal perangkatnya, melainkan aplikasi di dalamnya.
Banyak aplikasi, termasuk WhatsApp (WA) dan media sosial lainnya dirancang dengan fitur tertentu agar pengguna betah berlama-lama. Salah satunya adalah sistem notifikasi, tanda pesan dibaca, hingga endless scrolling.
Fitur-fitur ini bukan kebetulan, tetapi bagian dari desain yang membuat pengguna terus kembali membuka aplikasi.
Mengapa terus ingin cek?
Salah satu konsep penting yang menjelaskan kebiasaan ini adalah variable reward schedule atau sistem hadiah acak. Artinya, pengguna tidak tahu kapan akan mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, misalnya pesan penting, kabar baik, atau respons dari orang lain.
Ketidakpastian inilah yang membuat pengguna terus mengecek.Ketika buka media sosial padahal tidak ada pesan penting, tapi sesekali ada kabar menarik atau hal yang menyenangkan. Kemudian otak belajar, siapa tahu kali ini ada sesuatu, lalu akhirnya terdorong untuk terus membuka aplikasi, bahkan tanpa alasan yang jelas.
Dalam jurnal tersebut juga dijelaskan, fitur seperti centang biru di WhatsApp bisa memicu tekanan sosial.Ketika pesan sudah terbaca, ada dorongan untuk segera membalas. Ini menciptakan ekspektasi tidak tertulis dalam komunikasi digital.
Hal tersebut mendatangkan perasaan harus respons cepat, takut dianggap mengabaikan hingga khawatir melewatkan percakapan penting.
Kondisi ini berkaitan dengan fenomena fomo (fear of missing out), yaitu rasa cemas jika ketinggalan sesuatu. Menariknya, banyak ahli menilai bahwa yang membuat sulit lepas bukanlah ponselnya, melainkan ketidakpastian dari apa yang akan ditemukan di dalamnya.
Apakah ada pesan baru? Apakah ada notifikasi penting? Apakah ada sesuatu yang menarik? Pertanyaan-pertanyaan ini membuat otak terus terpancing.Penggunaan berlebihan juga dikaitkan dengan beberapa hal, seperti:
- menurunnya fokus karena sering terdistraksi,
- produktivitas yang terganggu,
- rasa cemas atau gelisah meningkat.
Dalam beberapa studi, bahkan disebutkan bahwa kehadiran ponsel saja di meja kerja bisa mengganggu konsentrasi.
Sering mengecek WA atau media sosial lainnya belum tentu berarti benar-benar sibuk. Bisa jadi itu adalah respons otomatis terhadap rasa ingin tahu, kebutuhan sosial atau kecemasan ringan. Karena pada akhirnya, teknologi memang dibuat untuk menarik perhatian, tapi bagaimana penggunaanya tetap ada di tangan pemiliknya.
(anm/asr) Add
as a preferred source on Google
