Cara Menumbuhkan Rasa Welas Asih Anak di Tengah Dunia yang Kian Rapuh

CNN Indonesia
Senin, 20 Jul 2026 12:15 WIB
Ilustrasi. Membesarkan anak yang memiliki welas asih jadi prioritas orang tua di tengah dunia yang kian mengancam. (iStock/MaximFesenko)
Jakarta, CNN Indonesia --

Membesarkan anak yang tak cuma cerdas, tapi juga baik hati dan memiliki rasa welas asih jadi prioritas banyak orang tua, utamanya saat dunia kian terasa mengancam.

Psikolog anak di Sunset Terrace Family Health Center NYU Langone, Joseph Laino menyetujui hal tersebut. Menurutnya, itu adalah prioritas yang layak diinvestasikan.

"Keterampilan lunak seperti empati, kasih sayang, dan kemurahan hati tidak saling bertentangan dengan keterampilan akademis. Bahkan, ketiganya saling memperkuat," ujar Laino, melansir Parents.

Mengapa mengajarkan welas asih penting untuk anak?

Saat anak belajar mempertimbangkan perspektif orang lain atau berada di tengah konflik tapi dengan empati, mereka tidak hanya menjadi orang yang baik, tapi juga mengembangkan keterampilan penting untuk berkembang di setiap aspek kehidupan.

"Jika mereka lebih kooperatif dengan guru dan teman sebaya, itu dapat membantu mereka mendapatkan hasil maksimal dari pendidikan dan memiliki pengalaman yang lebih memuaskan," ujar Laino.

Keterampilan ini juga menumbuhkan rasa percaya diri. Memperhatikan orang lain, lanjut Laino, membuat anak merasa lebih tenang dan mampu.

"Memberi, berbuat baik, dan peduli pada orang lain meningkatkan rasa percaya diri dan dapat memberikan rasa tujuan hidup," tambah Laino.

Kebiasaan sehari-hari agar anak tumbuh menjadi pribadi yang welas asih

Membesarkan anak yang penuh empati tidak pernah dirasa sepenting ini. Dunia digital saat ini, lanjut Laino, membawa risiko nyata, yakni terputusnya hubungan dan isolasi.

Empati dan kasih sayang adalah alat yang dibutuhkan anak dalam menghadapi masyarakat yang semakin kompleks. Dan semuanya, bisa berawal dari rumah.

Berikut beberapa kebiasaan di rumah yang bisa diterapkan orang tua agar anak tubuh menjadi pribadi yang empatik dan welas asih.

1. Tunjukkan kebaikan sejak dini karena bayi memperhatikan

Rasa welas asih dimulai jauh lebih awal daripada yang dipikirkan kebanyakan orang tua. Tak ada kata terlalu dini untuk mulai membantu anak mengembangkan soft skill ini.

Sebelum anak bisa berbicara, lanjut Laino, mereka sudah bisa menyerap isyarat emosional. Hal ini bisa dilihat dari kelembutan suara, ekspresi wajah, dan cara orang tua bereaksi saat orang lain sedang kesal.

Pengamatan awal tersebut menjadi cetak biru internal anak tentang bagaimana orang memperlakukan satu sama lain.

2. Beri anak cerita sesuai usia

Cerita adalah salah satu alat paling ampuh untuk membangun empati. Anak sedang mendengarkan cerita sebelum tidur. Secara alami, narasi memungkinkan mereka untuk membayangkan kehidupan melalui mata orang lain.

Pilih buku cerita dengan cermat. Buku-buku tentang pengungsian, migrasi, atau konflik dapat secara perlahan membuka pandangan mereka tentang dunia sesuai dengan kondisi saat ini. Bagi anak, buku bergambar tentang pengungsi membantu mereka memvisualisasikan ketahanan, keluarga, dan kelangsungan hidup dengan cara yang tidak menakutkan atau melemahkan semangat.

Padukan cerita dengan obrolan bersama si kecil. Bangun rasa empati melalui pertanyaan bagaimana perasaan mereka terhadap cerita tersebut.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya..

Cara Menumbuhkan Rasa Welas Asih Anak di Tengah Dunia yang Kian Rapuh


BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :