HARI ANAK NASIONAL

Seni Menjadi Orang Tua di Era Digital, Tak Membatasi tapi Beradaptasi

Rhea Tritami | CNN Indonesia
Kamis, 23 Jul 2026 17:15 WIB
Ilustrasi. Ketimbang membatasi screen time anak, orang tua bisa mendampingi anak ketika menggunakan gadget untuk eksplorasi dunia digital bersama. (istockphoto/svetikd)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kemajuan dunia digital ternyata tak membawa kabar baik bagi semua orang tua. Gawai dan berbagai platform hiburan di dalamnya sering kali dianggap musuh karena mencuri perhatian anak.

Namun perlu diakui, teknologi digital sudah sangat melebur dalam kehidupan sehari-hari. Sejak pandemi Covid-19, berbagai lembaga pendidikan sudah mulai intens memanfaatkan dunia digital untuk kegiatan belajar mengajar, bahkan kini ada pula sekolah online.

Orang tua sendiri juga tak bisa lepas dari gawai, baik itu digunakan untuk komunikasi, belanja, hiburan, hingga bekerja. Pada kondisi era digital dengan segala keterhubungannya yang sudah melekat di kehidupan sehari-hari, pertanyaan selanjutnya: masih relevankah membatasi anak dalam penggunaan gawai, atau kini saatnya untuk beradaptasi?

Saatnya orang tua beradaptasi

Ada orang tua yang cenderung membatasi screen time anak karena takut gawai dapat merusak kehidupan sosial anak. Ada pula yang menggunakan aplikasi atau alat parental control agar anak tidak sembarangan menonton konten.

Namun, benarkah membatasi screen time anak menjadi satu-satunya cara untuk mengatasinya? Apakah pembatasan masih relevan dilakukan?

Association Professor sekaligus Pengajar di Fakultas Pendidikan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Charyna Ayu, berpendapat pembatasan tersebut sudah tak relevan lagi. Memiliki latar belakang psikologi perkembangan dengan kepakaran di bidang empati dan well being anak, remaja, serta siswa, Charyna menggunakan kerangka berpikir ekologi dari Urie Bronfenbrenner.

"Teknologi itu sebetulnya sekarang sudah benar melekat dan menyatu di setiap lapisan kehidupan anak. Sudah tidak bisa dipisahkan dari hubungan keluarga sehari-hari, interaksi rumah-sekolah lewat layar," ujar Charyna kepada CNNIndonesia.com saat ditemui di kampus UIII, Depok, Selasa (7/7).

Teori ekologi Bronfenbrenner sendiri berbicara tentang perkembangan seseorang muncul dari sistem lingkungan yang saling terhubung, mulai dari keluarga hingga tingkat masyarakat, budaya, dan perubahan lingkungan yang lebih besar. Setidaknya ada lima sistem ekologi, mulai dari yang paling terdekat hingga terjauh, yakni mikrosistem, mesosistem, eksosistem, makrosistem, dan kronosistem.

Kemunculan teknologi informasi, internet, hingga media sosial bisa terjadi di tingkatan kronosistem, termasuk pandemi. Contoh nyata yang terjadi, yakni saat anak harus belajar di rumah dengan mengandalkan gawai akibat pandemi Covid-19.

Ilustrasi. Kehidupan anak saat ini tak bisa lepas dari keberadaan teknologi. (istockphoto/Lacheev)

Namun, teknologi juga bisa memengaruhi eksosistem. Misalnya, kebijakan kantor orang tua yang memperbolehkan bekerja dari rumah, mengubah hubungan orang tua dengan anak, termasuk anak dengan teknologi. Anak akan belajar dari orang tua mengenai kebiasaan menggunakan gawai untuk bekerja.

Dari gambaran ini, teknologi digital sudah menyatu di setiap lapisan kehidupan anak, sehingga tak relevan lagi jika penggunaannya dibatasi. Lagi pula, lanjut Charyna, banyak penelitian yang menunjukkan hubungan antara screen time dan well being anak tak selalu berbanding lurus.

"Dia [teknologi informasi] sudah masuk ke setiap lini, sudah membentuk pola anak itu sendiri, termasuk juga orang tua," ucap Charyna.

Ia menambahkan, desain algoritma platform juga bisa diam-diam membentuk apa yang kita lihat dan persepsikan. Akhirnya, memengaruhi pula norma budaya generasi tertentu soal bagaimana menjadi orang tua.

Adaptasi menjadi salah satu kunci di era digital ini. Namun, adaptasi bukan berarti sepenuhnya melepas anak 'bermain' dengan gawainya tanpa keterlibatan orang tua.

Generasi orang tua panik

Saat ini, peran orang tua banyak diemban oleh generasi X dan generasi milenial. Mereka adalah orang-orang yang mengalami transisi teknologi dari analog ke digital. Charyna memandang, generasi milenial mengalami 'panik' ketika menjadi orang tua.

"Satu hal yang saya catat, ya, kalau paradigma screen time ini lahir dari kecemasan generasi yang sebetulnya juga masih belajar. Masih meraba-raba, ini apa sih," ucap Charyna.

Sebagai generasi yang mengalami masa transisi teknologi, orang tua masih bingung sekaligus mengalami euforia serupa dengan anaknya yang baru mengenal teknologi. Fenomena sharenting atau membagikan konten anak tanpa consent, misalnya, menjadi salah satu bentuk euforia yang dialami orang tua ketika baru berkenalan dengan media sosial.

Hal ini, menurut Charyna, terjadi karena generasi orang tua tak terlatih untuk menggunakan gawai secara sehat. Tak seperti anak-anaknya yang mendapat edukasi khusus mengenai penggunaan gawai melalui pendidikan formal. Mau tak mau, orang tua belajar secara otodidak.

"Jadi, kita jangan malu mengakui bahwa kita juga sama-sama belajar, seperti anak kita. Artinya, kita punya ruang atau zona yang perlu kita eksplorasi bareng," ucap Charyna.

Alih-alih panik dengan membatasi gerak-gerik anak di dunia digital, orang tua perlu beralih ke sudut pandang baru. Misalnya, ketimbang menekankan aspek durasi pada screen time, lebih baik memperhatikan apa yang 'hilang' ketika anak sedang asyik menggunakan gawai.

"Screen time ini sudah menggantikan apa? Aktivitas anak yang apa? Misalnya, kalau waktunya tidur tergantikan oleh screen time, itu bermasalah," kata Charyna.

Tak hanya waktu tidur. Jika aktivitas screen time sudah menggantikan aktivitas lain, termasuk hubungan dengan orang tua, pada saat itulah orang tua bisa turun tangan. Bukan untuk membatasi, tetapi mendampingi dan mengarahkan agar penggunaan gawai anak menjadi sesuatu yang positif.

Selama anak masih bisa melakukan aktivitas sehari-hari dengan normal, menurut Charyna, tak ada yang perlu orang tua khawatirkan.

"Jadi, kita melihat dari perubahan perilaku anak saja. Selagi dia masih bisa melakukan aktivitasnya dengan baik, nilai di sekolahnya masih baik, dia masih melakukan hobinya dengan baik, saya pikir itu indikator yang paling sederhana," tuturnya.

Simak penjelasan selengkapnya di halaman berikutnya..

Mengenal Screen Quality dan Peran Baru Orang Tua di Era Digital


BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :