BPOM Temukan 1,3 Juta Pelanggaran di Live Shopping, Banyak Overclaim

CNN Indonesia
Rabu, 22 Jul 2026 16:59 WIB
BPOM menemukan 1,3 juta tautan penjualan yang bermasalah sepanjang periode 2024 hingga 2025. (CNN Indonesia/Angela Merici Keraf)
Jakarta, CNN Indonesia --

Maraknya tren live shopping di media sosial membuat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memperketat pengawasan terhadap promosi produk, khususnya kosmetik.

BPOM menemukan 1,3 juta tautan penjualan yang bermasalah sepanjang periode 2024 hingga 2025.

Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan, banyak promosi produk di media sosial maupun marketplace yang memberikan klaim berlebihan (overclaim) hingga berpotensi menyesatkan konsumen.

"Kita amati, ternyata sebagian banyak yang memperklaim, dan itu kita tegur. Jadi BPOM itu sering menegur, overclaim-lah," kata Taruna dalam talkshow di CNN Indonesia Wellnest Festival Vol. 2 di South Quarter Dome, Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu (22/7).

Menurut Taruna, pengawasan kini tidak hanya dilakukan terhadap produk yang beredar secara langsung, tetapi juga terhadap aktivitas penjualan digital yang berlangsung hampir tanpa henti melalui fitur live streaming.

"Karena kan banyak sekarang live streaming, tidak pernah berhenti menjual," ujarnya.

Taruna memaparkan, sepanjang 2024 hingga 2025, BPOM menemukan sekitar 1,3 juta tautan di media sosial yang memuat promosi produk yang tidak sesuai ketentuan.

"Itu ada 1,3 juta tautan yang ada di social media. Kalau satu tautan dibaca seribu saja, berarti sudah miliaran orang yang tertipu. Itu lewat 1,3 juta tautan yang tidak sesuai dengan aturan. Ada yang overclaim, bahkan ada penipuan di situ," jelasnya.

BPOM kemudian berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk menindak tautan-tautan tersebut.

"Oleh karena itu BPOM meminta kepada Kementerian Komdigi dan itu sudah di-take down. Kemudian sebagian kita bahkan proses, sebagian yang sudah dihukum," ujarnya.

Taruna menegaskan, pengawasan terhadap penjualan produk kesehatan dan kosmetik di ruang digital dilakukan selama 24 jam melalui sejumlah direktorat di BPOM.

"But be careful. Our team and BPOM always watching all of you. Kita punya Direktorat Cyber, kita punya Direktorat Intelligence, kita punya Direktorat Pendidikan. Jadi 24 jam diawasi," katanya.

Menurut Taruna, pengawasan tidak hanya menjadi tugas BPOM, tetapi juga membutuhkan partisipasi masyarakat untuk melaporkan produk yang diduga melanggar aturan.

"Tugas kami memastikan yang sampai ke masyarakat adalah aman, yang dimakan masyarakat bagus kualitasnya, dan yang digunakan masyarakat adalah produk-produk yang profesional dan bermanfaat sesuai aturan," ujarnya.

Selain melakukan pengawasan, BPOM juga terus meningkatkan edukasi kepada masyarakat agar lebih kritis sebelum membeli produk kesehatan maupun kosmetik yang dipromosikan secara daring.

Taruna mengatakan, edukasi dilakukan melalui berbagai kanal, mulai dari kegiatan tatap muka hingga media sosial resmi BPOM.

"BPOM juga aktif di media sosial. Instagram kami, TikTok kami, Twitter kami, LinkedIn kami, Facebook kami. Kepala BPOM-nya juga aktif di media sosial," tambahnya.

Ia berharap masyarakat semakin cerdas dalam memilih produk sehingga tidak mudah tergiur promosi yang berlebihan maupun menjadi korban penipuan.

"Kita berharap masyarakat kita cerdas. Cerdas untuk kepentingan diri sendiri, supaya tidak dirugikan, supaya tidak rugi secara finansial, supaya tidak tertipu," pungkas Taruna.

(anm/asr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK