Viral Ratusan Anak di Sidoarjo Terpapar HIV, Kemenkes Buka Data Resmi

CNN Indonesia
Senin, 27 Jul 2026 17:00 WIB
Ilustrasi. Menanggapi unggahan di media sosial soal ratusan anak di Sidoarjo terpapar HIV/AIDS, Kemenkes RI buka data kumulatif 25 tahun terkait temuan kasus. (iStockphoto/atakan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Baru-baru ini sebuah unggahan viral di media sosial, disebutkan 522 anak dan remaja di Sidoarjo, Jawa Timur, terpapar HIV/AIDS. Menanggapi hal tersebut, Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) mengungkapkan data resmi terkait paparan HIV/AIDS di daerah tersebut.

Melalui rilis resmi pada Sabtu (25/7), Kemenkes menyatakan data peningkatan jumlah kasus yang ditemukan merupakan bagian dari keberhasilan perluasan layanan deteksi dini. Jadi, tidak dapat dimaknai secara langsung sebagai peningkatan penularan.

Data kumulatif 25 tahun

Dalam rilis tersebut, disebutkan data situasi HIV Kabupaten Sidoarjo pada 2001-2026 menemukan 1.183 kasus HIV secara kumulatif pada kelompok usia 0-24 tahun.

Dari total 1.183 orang dengan HIV (ODHIV) tersebut, tercatat 117 kasus pada kelompok usia 0-10 tahun dan seluruhnya merupakan penularan vertikal atau dari ibu ke anak.

Adapun dari 117 kasus tersebut, 32 anak masih hidup dan menjalani pengobatan antiretroviral, 35 anak meninggal, sedangkan 50 anak tercatat lost to follow-up (LFU) atau tidak terpantau lagi dalam layanan pengobatan.

Kemudian pada kelompok usia 11-17 tahun, ditemukan 60 kasus HIV. Sebanyak empat kasus berasal dari penularan vertikal, sedangkan 56 kasus penularan horizontal. Hingga Juni 2026, 34 remaja masih menjalani pengobatan, 7 orang meninggal, dan 19 orang berstatus LFU.

Data selanjutnya, yakni pada kelompok usia 18-24 tahun, tercatat 1.006 kasus HIV dengan 1.005 kasus merupakan penularan horizontal. Sebanyak 521 kasus ditemukan populasi homoseksual, 210 pada populasi yang belum teridentifikasi faktor risikonya, 60 kasus pada ibu hamil, dan 44 kasus pasien tuberkulosis.

Adapun sisanya ditemukan pada pasangan berisiko tinggi (41 kasus), pasangan ODHIV (39 kasus), pekerja seks perempuan (32 kasus), pelanggan pekerja seks (24 kasus), waria (11 kasus), pasien IMS (9 kasus), warga binaan pemasyarakatan (8 kasus), calon pengantin (4 kasus), dan pengguna napza suntik (1 kasus).

Dari kelompok usia ini, 572 orang masih menjalani pengobatan, 123 orang meninggal, dan 311 orang berstatus LFU. Menurut Kemenkes, data ini menunjukkan pentingnya perluasan skrining HIV pada berbagai pintu masuk layanan kesehatan.

Tindak lanjut Kemenkes

Tingginya perhatian masyarakat terhadap informasi yang beredar tentang kasus HIV/AIDS di Sidoarjo, Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes melakukan supervisi program HIV di kabupaten tersebut.

Kegiatan tersebut untuk mengklarifikasi dan verifikasi data yang beredar, termasuk melalui kunjungan ke Delta Crisis Center (DCC), salah satu sumber data yang menjadi rujukan dalam informasi yang beredar.

Adapun Kemenkes terus memperkuat layanan Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA). Pada periode 2022 hingga Juni 2026, terdapat 163 ibu hamil dengan HIV. Perinciannya, yakni 49 kasus pada 2022, 40 kasus (2023), 35 kasus (2024), 30 kasus (2025), dan 9 kasus hingga Juni 2026.

Ibu hamil didorong untuk menjalani pemeriksaan HIV sebagai bagian dari pelayanan antenatal terpadu. Jika ditemukan positif HIV, ibu hamil bisa segera memperoleh terapi antiretroviral agar risiko penularan kepada bayi dapat ditekan hingga di bawah 2 persen.

Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni mengatakan, HIV merupakan penyakit kronis yang dapat dikendalikan melalui terapi antiretroviral.

"HIV dapat dikendalikan dengan pengobatan yang diminum secara teratur, sehingga orang dengan HIV dapat hidup sehat, produktif, dan tetap berkontribusi bagi masyarakat", ujar Andi, melalui siaran pers yang disampaikan di Jakarta, Sabtu (25/7).

Berawal dari unggahan media sosial

Sebelumnya, sebuah unggahan viral di media sosial. Unggahan tersebut menyebutkan 522 anak dan remaja di Sidoarjo terpapar HIV/AIDS, termasuk anak PAUD dan TK.

Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo Lakhsmie Herawati Yuwantina meluruskan bahwa data kumulatif 2001-2026 jumlah kasus HIV pada kelompok usia 11-17 tahun hanya ada 60 kasus.

"Dari 60 kasus itu, sebanyak 7 anak telah meninggal. Sehingga saat ini terdapat 53 anak usia pelajar yang masih teridentifikasi hidup dengan HIV," kata Lakhsmie pada Kamis (23/7) lalu, seperti diberitakan Detik Jatim.

Lakhsmie menekankan, angka 53 itu merupakan akumulasi selama 25 tahun, bukan jumlah kasus baru dalam satu tahun.

Adapun Direktur Program Yayasan DCC Ferry Efendi mengatakan, data yang dimiliki lembaganya berbeda dengan data Dinkes Sidoarjo karena cakupan pencatatannya tidak sama.

Hingga 21 Juli 2026, DCC mendampingi 5.107 orang dengan HIV/AIDS. Namun angka tersebut bukan seluruh kasus di Sidoarjo, melainkan yang masuk dalam jaringan pendampingan DCC.

"Data kami berbeda dengan Dinkes karena kami hanya mencatat orang yang mendapatkan pendampingan, sedangkan Dinkes mencatat seluruh kasus yang terkonfirmasi di fasilitas pelayanan kesehatan," ujarnya.

(rti)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK