Tak Cuma Nafsu Makan Menurun, Ini 7 Tanda Cacingan pada Anak

CNN Indonesia
Selasa, 11 Agu 2026 23:30 WIB
Ilustrasi. Ada beberapa tanda cacingan pada anak. (iStock/T Turovska)
Jakarta, CNN Indonesia --

Anak yang susah makan sering kali langsung dianggap sedang pilih-pilih makanan atau sekadar memasuki fase picky eater. Padahal, kondisi tersebut juga bisa menjadi salah satu tanda cacingan pada anak.

Cacingan masih menjadi masalah kesehatan yang cukup banyak ditemukan di Indonesia, terutama pada anak usia balita dan sekolah.

Cacingan sendiri merupakan penyakit infeksi saluran pencernaan yang disebabkan oleh cacing parasit. Penyakit ini menular melalui tanah yang kotor, makanan atau air yang tidak higienis, dan kontak langsung.

Tanda cacingan pada anak

Orang tua perlu mengetahui tanda cacingan pada anak sebagai langkah deteksi dini. Berikut di antaranya, merangkum berbagai sumber.

1. Sering mengeluh sakit perut

Keluhan sakit perut menjadi salah satu gejala yang paling sering dikaitkan dengan infeksi cacing usus. Penelitian yang dimuat Paediatrica Indonesiana pada 2026 terhadap 242 anak prasekolah di Kendari menemukan bahwa nyeri perut merupakan salah satu indikator yang cukup spesifik untuk membantu mengenali kemungkinan infeksi Soil-Transmitted Helminths (STH), kelompok cacing usus yang paling umum menginfeksi manusia.

Meski begitu, sakit perut tentu bukan berarti selalu disebabkan cacing. Bila keluhan muncul berulang tanpa penyebab yang jelas, orang tua sebaiknya lebih waspada.

2. Nafsu makan menurun

Anak yang tiba-tiba kehilangan selera makan juga perlu diperhatikan. Penurunan nafsu makan menjadi salah satu gejala yang paling sering ditemukan pada anak yang terinfeksi cacing usus.

Hal tersebut terjadi karena infeksi dapat mengganggu saluran pencernaan sehingga anak menjadi cepat kenyang atau tidak berselera makan.

3. Gatal di sekitar anus, terutama malam hari

Keluhan ini merupakan tanda klasik infeksi cacing kremi (Enterobius vermicularis). Rasa gatal biasanya lebih terasa pada malam hari ketika cacing betina keluar menuju area sekitar anus untuk bertelur. Akibatnya, anak menjadi gelisah atau sulit tidur.

4. Berat badan sulit naik

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), infeksi cacing dapat mengganggu penyerapan zat gizi di dalam usus. Akibatnya, anak tetap makan seperti biasa tetapi berat badannya sulit bertambah.

Bila berlangsung dalam waktu lama, kondisi ini juga dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.

5. Mudah lelah dan tampak lesu

WHO juga menjelaskan bahwa beberapa jenis cacing, terutama cacing tambang, dapat menyebabkan kekurangan zat besi hingga anemia. Anak pun menjadi lebih mudah lelah, tampak kurang bertenaga, hingga sulit berkonsentrasi ketika belajar.

6. Diare atau gangguan buang air besar

Gangguan pencernaan seperti diare memang bukan gejala utama cacingan, tetapi tetap bisa muncul pada sebagian anak.

Diare memiliki spesifisitas yang tinggi sebagai salah satu tanda infeksi, terutama bila muncul bersamaan dengan keluhan lain seperti sakit perut atau nafsu makan menurun.

7. Perut tampak buncit

Pada infeksi yang berat, WHO menyebut, anak dapat mengalami gangguan gizi sehingga perut terlihat membuncit. Dalam kasus yang sangat jarang namun berat, kumpulan cacing bahkan dapat menyebabkan penyumbatan usus yang membutuhkan penanganan medis.

Berbagai penelitian menunjukkan, angka kejadian cacingan di Indonesia masih cukup tinggi. Mengutip studi dari Universitas Palangka Raya yang merangkum berbagai penelitian di Indonesia melaporkan, prevalensi infeksi cacing usus berkisar antara 2,5 hingga 62 persen, bergantung pada wilayah, sanitasi lingkungan, serta kebiasaan hidup masyarakat.

Anak usia sekolah menjadi kelompok yang paling rentan karena lebih sering bermain di tanah dan belum konsisten menerapkan perilaku hidup bersih, seperti mencuci tangan atau memakai alas kaki.

Bagaimana anak bisa terkena cacing?

Ilustrasi. Ada beberapa tanda cacingan pada anak. (iStockphoto/Christoph Burgstedt)

Telur atau larva cacing umumnya masuk ke tubuh melalui jalur yang sangat dekat dengan aktivitas sehari-hari, seperti:

- makan dengan tangan yang belum dicuci;
- mengonsumsi buah atau sayur yang kurang bersih;
- makanan atau minuman yang terkontaminasi;
- bermain di tanah tanpa mencuci tangan setelahnya;
- berjalan tanpa alas kaki sehingga larva tertentu dapat menembus kulit.

Pemerintah juga menjalankan program pemberian obat cacing massal yang dilakukan dua kali setahun yakni pada anak usia 1-5 tahun melalui Posyandu, dan anak usia 6-12 tahun melalui sekolah dasar atau Posyandu. Obat yang digunakan umumnya berasal dari golongan albendazole atau mebendazole.

Pemberian obat cacing memang menjadi salah satu cara efektif memutus rantai penularan. Namun, orang tua juga perlu memperhatikan tumbuh kembang anak secara rutin.

Bila si kecil mengalami beberapa tanda cacingan pada anak di atas secara bersamaan, pemeriksaan ke fasilitas kesehatan tetap diperlukan agar penyebabnya dapat dipastikan.

(anm/asr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK