LAPORAN DARI PARIS

Anggun Tamara Ralph Berdiri Sendiri di Balik Korset dan Couture

Fandi Stuerz | CNN Indonesia
Selasa, 04 Agu 2026 19:15 WIB
Desainer Tamara Ralph bercerita soal pembangunan rumah modenya yang baru setelah sempat menutup Ralph & Russo pada 2021 lalu. (CNN Indonesia/ Fandi Stuerz)
Jakarta, CNN Indonesia --

Jika dulu desainer Tamara Ralph selalu berdiri berdampingan dengan Michael Russo, partner-nya dalam rumah mode Ralph & Russo. Kini, ia percaya diri berdiri sendiri, membawa visi bisnis dan kreatifnya.

Masih segar dalam ingatan, sebuah momen pada Januari 2014 lalu. Kala itu, Ralph & Russo diundang oleh Federation de la Haute Couture et de la Mode (FHCM), badan yang menaungi industri mode Prancis, untuk memamerkan koleksinya. Sebuah pencapaian yang belum pernah diraih rumah mode Inggris mana pun dalam seratus tahun terakhir.

"Kami benar-benar senang bukan main. Ini adalah kehormatan besar bisa diakui oleh Syndicale," ujar Tamara Ralph kala itu.

Rumah mode Ralph & Russo, yang ia dirikan bersama Michael Russo, berkembang sangat pesat. Rumah mode itu bahkan pernah mengalami pertumbuhan hingga 400 persen. Sayang, rumah mode harus tutup pada 2021 lalu.

Siapa sangka, lebih dari satu dekade sejak hadirnya di Paris couture, perempuan yang merupakan setengah dari Ralph & Russo, akan berdiri sendirian, tanpa mitra bisnis, tanpa nama gabungan, memimpin rumah mode dengan namanya sendiri terpampang di pintu atelier: Tamara Ralph Couture.

Dari Ralph & Russo menuju namanya sendiri

Fesyen, bagi Tamara, bukan pilihan karier, melainkan warisan. Ia tumbuh besar di tengah keluarga yang sebagian besarnya berkecimpung di dunia mode.

"Mode selalu ada di hati dan di darah saya," ujar Tamara saat wawancara bersama CNNIndonesia.com, medio Juli lalu.

Runway Ralph & Russo Couture dalam koleksi Spring/Summer 2014 (CNN Indonesia/ Fandi Stuerz)

Ia membesarkan Ralph & Russo menjadi rumah mode mewah kelas dunia bersama Michael Russo. Namun, kini ia mengambil kendali penuh, bukan hanya atas visi kreatif, tapi juga arah bisnisnya.

"Saya memutuskan untuk berdiri sendiri," katanya, dengan nada tegas.

Uniknya, keputusan itu tidak lahir dari kepahitan, melainkan dari keinginan untuk lebih utuh mengarahkan rumah mode yang ia bangun. Konsep ini jarang terjadi di dunia couture, di mana biasanya ada pembagian tegas antara 'otak kreatif' dan 'otak bisnis'.

Tamara memilih jalan yang lebih sulit, yakni dengan menjadi keduanya sekaligus.

"Ini memang menantang. Tapi, saya suka tantangan," ujarnya.

DNA yang tak terikat dengan jenama

Yang menarik, siapa pun yang mengikuti perjalanan Tamara sejak pertunjukan pertamanya di Place Vendôme tahun 2014 akan mengenali satu benang merah yang tak pernah putus, siapa pun nama yang tertera di label kreasinya. Tamara menyebutnya sebagai 'rasa feminitas yang mengalir secara alami'.

"Orang-orang selalu bilang saya bisa menyeimbangkan antara timelessness dan modernitas, keanggunan, dengan sedikit sentuhan sensualitas," katanya.

Ciri khasnya yang paling dikenal adalah corsetry - teknik pembuatan korset - yang menjadi fondasi setiap gaunnya.

Koleksi couture teranyar Tamara Ralph. (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)

Ketelitiannya juga nyaris obsesif. Ia bercerita bagaimana kepala atelier-nya bisa menebak dari seberang ruangan bahwa ada yang salah hanya dari cara Tamara menunjuk.

"Ini salah dua milimeter," katanya suatu kali.

Prediksi itu ternyata benar. Setelah diukur, ukurannya memang meleset dua milimeter.

Kisah semacam ini mengingatkan pada filosofi Cristóbal Balenciaga yang pernah menegaskan bahwa bahu dan pinggang, yang menjadi fondasi konstruksi garmen, harus benar-benar presisi.

Bagi Tamara, fondasi itu adalah korset, sebuah pelajaran yang ia warisi langsung dari neneknya, seorang couturière, yang mengajarinya teknik menjahit sejak kecil sebelum mengizinkannya menyentuh sketsa.

Yang membuat sikap estetiknya semakin menarik adalah keteguhannya di tengah arus zaman yang justru bergerak ke arah berlawanan. Saat sebagian besar dunia mode, termasuk couture, merayakan disrupsi dan eksperimen konseptual, Tamara memilih tetap setia pada keanggunan, glamor, dan feminitas.

Sepintas, cara Tamara terkesan klasik atau bahkan 'cari aman'. Namun, ia tak ragu sedikit pun.

"Nilai-nilai itu akan selalu relevan, kan?" katanya.

"Karena bagi saya, nilai-nilai itu abadi, dan itu tidak akan pernah pudar. [Industri fesyen] punya banyak tren, tapi pada akhirnya inilah visi saya," jelasnya menambahkan.

Toh, hingga saat ini memang ada segmen klien yang justru mencari sesuatu yang klasik.

"Keanggunan tidak akan pernah ketinggalan zaman," tegasnya.

Tamara memilih untuk tidak mengejar tren, melainkan menegaskan kembali sesuatu yang menurutnya tidak pernah benar-benar usang: perempuan yang ingin merasa cantik, anggun, dan percaya diri.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya..

Anggun Tamara Ralph Berdiri Sendiri di Balik Korset dan Couture


BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :