Olahraga Angkat Beban Bisa Bantu Cegah Kanker Payudara
Olahraga bukan hanya soal menjaga berat badan atau membentuk otot. Aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin juga dapat memberikan manfaat bagi kesehatan tubuh, termasuk membantu menurunkan risiko sejumlah penyakit kanker, salah satunya kanker payudara.
Dokter spesialis bedah payudara Solis Breast Care & Surgery Centre Lim Sue Zann, mengatakan aktivitas fisik seperti latihan kekuatan atau angkat beban bisa menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan dan menekan risiko kanker payudara. Manfaat tersebut berkaitan dengan pengaruh olahraga terhadap proses inflamasi atau peradangan di dalam tubuh.
"Secara biologis, salah satu mekanisme yang diduga berhubungan dengan inflamasi dan kanker adalah produksi sitokin, yaitu berbagai molekul atau sinyal kimia yang dilepaskan tubuh ketika terjadi proses inflamasi," kata Lim dalam keterangannya.
Inflamasi kronis diketahui dapat menciptakan lingkungan yang mendukung berbagai proses yang berkaitan dengan pertumbuhan sel kanker. Karena itu, menjaga respons inflamasi tubuh tetap terkendali menjadi salah satu hal yang penting untuk diperhatikan.
Menurut Lim, aktivitas fisik secara konsisten dapat memengaruhi sistem inflamasi tubuh dan membantu meningkatkan berbagai respons anti-inflamasi. Olahraga juga berkaitan dengan pelepasan endorfin serta mediator lain yang muncul setelah seseorang melakukan aktivitas fisik.
"Olahraga diketahui dapat memengaruhi sistem inflamasi tubuh dan membantu meningkatkan berbagai respons anti-inflamasi. Salah satu respons yang juga kita kenal adalah pelepasan endorfin dan berbagai mediator lain setelah melakukan aktivitas fisik," ujarnya.
Bukan cuma cegah kanker
Manfaat aktivitas fisik tidak hanya dikaitkan dengan pencegahan kanker. Pada pasien yang sudah menjalani pengobatan, olahraga juga dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kondisi tubuh dan membantu menekan risiko kekambuhan pada jenis kanker tertentu.
Lim mengatakan manfaat aktivitas fisik dalam menurunkan risiko kekambuhan juga ditemukan pada kanker lain, termasuk kanker kolorektal.
"Ada penelitian ilmiah yang menunjukkan manfaat aktivitas fisik pada kanker lain selain kanker payudara, termasuk kanker kolorektal, terutama dalam membantu menurunkan risiko kekambuhan pada pasien tertentu," ungkapnya.
Meski demikian, Lim mengingatkan bahwa mekanisme biologis yang menghubungkan aktivitas fisik dengan pencegahan kanker masih terus diteliti.
"Jadi, penjelasan mengenai mekanisme tersebut sebaiknya dipahami sebagai mekanisme yang diduga, bukan sebagai satu-satunya mekanisme yang sudah terbukti secara pasti," kata dia.
Artinya, olahraga sebaiknya tidak dipandang sebagai satu-satunya cara untuk mencegah kanker payudara. Pemeriksaan kesehatan, deteksi dini, pola hidup sehat, serta faktor risiko lain tetap perlu diperhatikan.
Angkat beban atau kardio?
Lalu, apakah latihan beban lebih baik dibandingkan olahraga kardio untuk membantu menurunkan risiko kanker?
Lim mengatakan tidak perlu memilih salah satunya. Latihan kekuatan maupun aktivitas aerobik sama-sama memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh.
"Yang paling penting sebenarnya bukan memilih satu jenis olahraga saja, tetapi tetap aktif dan melakukannya secara konsisten. Latihan kekuatan atau angkat beban memiliki manfaat tersendiri, sementara aktivitas aerobik atau kardio juga memberikan manfaat bagi kesehatan secara keseluruhan," jelasnya.
Dengan kata lain, olahraga yang dilakukan secara rutin lebih penting daripada terpaku pada satu jenis latihan tertentu. Intensitas olahraga juga perlu disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi fisik masing-masing orang. Tidak semua orang harus langsung melakukan latihan dengan intensitas tinggi untuk mendapatkan manfaat dari aktivitas fisik.
"Yang penting, jenis dan intensitas olahraga harus disesuaikan dengan kondisi setiap orang," tegas Lim.
Bahkan, aktivitas fisik tetap dapat dilakukan oleh pasien kanker dalam berbagai fase pengobatan, mulai dari sebelum terapi, selama menjalani kemoterapi, hingga setelah operasi, tentunya dengan menyesuaikan kondisi tubuh dan kemampuan masing-masing.
Pasien yang menjalani terapi intensif seperti kemoterapi pun masih mungkin melakukan latihan dengan intensitas tinggi seperti High-Intensity Interval Training (HIIT) apabila kondisi fisiknya memungkinkan. Namun, jika tubuh belum mampu melakukan latihan intensitas tinggi, bukan berarti seseorang tidak bisa mendapatkan manfaat dari aktivitas fisik.
"Kalau tidak mampu melakukan HIIT, tidak masalah. Pergi ke gym dan melakukan latihan beban saja sudah sangat baik. Yang paling penting adalah konsistensi," ujar Lim.
(tis/tis)