Terapi Sel untuk Kanker Tak Bisa Jadi Pengganti Kemoterapi
Perkembangan teknologi medis menghadirkan berbagai pendekatan baru dalam pengobatan kanker. Salah satunya terapi berbasis sel yang belakangan semakin banyak diperbincangkan.
Namun, terapi sel untuk kanker tidak berarti pasien harus meninggalkan pengobatan konvensional dan beralih sepenuhnya ke terapi berbasis sel. Dokter yang juga menjabat sebagai Presiden Direktur PT Bifarma Adiluhung Sandy Qlintang mengatakan terapi yang digunakan dalam penanganan kanker lebih tepat disebut sebagai terapi sel imun, bukan terapi stem cell.
Terapi tersebut memanfaatkan sistem imun pasien sendiri. Sel imun diambil dari tubuh pasien, kemudian diproses dan diperkuat di laboratorium sebelum dikembalikan ke tubuh untuk membantu mengenali dan menyerang sel kanker.
"Terapi sel itu adalah ajuvan, jadi menambah, memperkuat," ujar Sandy dalam keterangannya di acara Dr. Boenjamin Setiawan Distinguished Lecture Series (DBSDLS) 2026.
Menurut dia, terapi sel imun bukanlah satu-satunya metode yang digunakan dalam penanganan kanker. Terapi ini justru perlu ditempatkan sebagai bagian dari rangkaian pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik kanker pasien.
Sandy menjelaskan, pengobatan kanker memiliki berbagai modalitas, mulai dari kemoterapi, pembedahan, radioterapi, terapi berbasis antibodi, hingga terapi sel. Setiap metode memiliki peran masing-masing, makanya pasien tidak bisa hanya mengandalkan satu jenis pengobatan, termasuk terapi sel imun.
"Terapi kanker itu kan ada tahapannya. Pertama yang paling terstandar adalah kemoterapi. Bedah yang dibuang, ada radioterapi. Nah, terus lebih advance lagi seperti penggunaan antibodi. Nah itu kan yang target-in. Lalu terakhir adalah terapi sel. Tahapan-tahapan itu harus dilalui," jelasnya.
Dalam penerapannya, terapi sel imun dapat berperan sebagai terapi tambahan atau ajuvan. Sel imun pasien diproses agar memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengenali dan menyerang sel kanker. Sandy mengibaratkan sel kanker yang telah mendapatkan paparan terapi tertentu sebagai target yang lebih mudah dikenali oleh sistem imun.
"Sel sistem imunnya diambil, terus diperkuat di laboratorium untuk dimasukin lagi untuk menyerang sel cancer-nya," katanya.
Karena itu, menurut Sandy, terapi sel dapat bekerja lebih optimal jika dikombinasikan dengan modalitas pengobatan lain yang sesuai.
"Iya, kombo. Gak bisa orang cancer, terus udah terapi sel imun aja, yang lain enggak. Harus barengan, harus membuat suatu integrasi yang baik antara terapi-terapi modalitas yang sudah ada," ujarnya.
Dengan kata lain, terapi sel bukanlah pengganti kemoterapi, operasi, radioterapi, atau terapi kanker lainnya. Pemilihan dan kombinasi pengobatan tetap perlu ditentukan berdasarkan kondisi masing-masing pasien.
Deteksi dini tetap penting
Selain perkembangan terapi, Sandy menekankan pentingnya deteksi dini dalam penanganan kanker. Menurut dia, semakin cepat kanker ditemukan, semakin besar peluang penyakit tersebut ditangani sebelum berkembang lebih jauh.
Karena itu, masyarakat dianjurkan melakukan pemeriksaan kesehatan sesuai dengan faktor risiko dan jenis kanker yang perlu diwaspadai. Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain pap smear untuk mendeteksi perubahan pada leher rahim, mamografi untuk pemeriksaan payudara, serta kolonoskopi untuk melihat kondisi saluran pencernaan.
Ketika kanker telah ditemukan, dokter juga tetap membutuhkan pemeriksaan yang lebih spesifik untuk mengetahui karakteristik penyakit. Pemeriksaan biomarker, genomik, hingga circulating tumor DNA (ctDNA) dapat membantu memberikan informasi lebih detail mengenai kanker yang dialami pasien.
Informasi tersebut kemudian dapat menjadi salah satu pertimbangan dokter dalam menentukan pengobatan yang lebih sesuai, termasuk pendekatan terapi yang menargetkan karakteristik tertentu dari sel kanker. Sandy menilai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pengobatan kanker kini semakin mengarah pada pendekatan yang lebih personal.
"Tingkat kesembuhan akan lebih besar bilamana deteksi dininya lebih awal. Kalau sudah stadium 3 sudah susah, karena sel kankernya sudah ke mana-mana," katanya.
Ia pun mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan memilih tempat atau metode pengobatan kanker, terutama ketika ditawarkan terapi yang diklaim sebagai solusi tunggal.
"Makanya perlu deteksi dini, perlu terapi datang ke dokter yang tepat, yang kompetensi di bidang kanker. Jangan ke dokter yang enggak jelas, yang bisa memperparah sehingga kankernya meluas," tutup Sandy.
(tis/tis)