Dikira Efek Naik Pesawat, Telinga Wanita Ini Tersumbat karena Kanker
Saat naik pesawat, sering kali kita mengalami sensasi telinga tersumbat. Setelah pesawat mendarat, efek tersebut menghilang atau 'pecah' dan pendengaran kembali normal.
Namun seorang wanita berusia 22 tahun asal California tidak merasakan sensasi 'pecah' tersebut di telinganya setelah perjalanannya ke Chicago. Setelah sembilan bulan mencari jawaban, ternyata penyebabnya adalah kanker.
Bermula dari penerbangan ke Chicago
Perempuan itu bernama Aida Burkins, seorang ibu dua anak dengan usia 1 dan 3 tahun. Ia hanya ingin membesarkan anak-anaknya, tetapi semua angannya buyar setelah menerima diagnosis yang mengejutkan.
"Semuanya dimulai ketika telinga saya tidak kunjung sembuh setelah penerbangan saya ke Chicago pada Mei 2025," ujar Burkins, seperti dilansir Newsweek, Minggu (30/8).
Setibanya di rumah, telinga Burkins tak kunjung sembuh. Ia bahkan mengalami gejala lebih parah lainnya, seperti pendarahan di tenggorokan. Darah baru bisa keluar dari hidung jika ia membungkuk sekitar 90 derajat.
Ditambah lagi pendengaran Burkins makin memburuk dan ia mudah kelelahan serta kehilangan berat badan.
Ketika berkonsultasi, dokter mengatakan itu hanya gejala akibat berada pada ketinggian dan akan sembuh dengan sendirinya, tetapi kenyataan berkata tidak. Beberapa bulan kemudian, pendengaran Burkins makin memburuk.
"Semuanya terdengar sangat teredam, dan saya mengalami telinga berdenging yang tidak kunjung hilang," ucapnya.
Setelah dirujuk ke spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT), dokter akhirnya memastikan pendarahan tersebut disebabkan oleh massa yang menyumbat tuba Eustachius. Ini merupakan kanal kecil berukuran 35 mm yang menghubungkan telinga tengah dengan bagian atas tenggorokan (nasofaring).
Dokter THT mengatakan, massa itu bisa jadi kanker. Sang dokter juga mencatat adenoid atau kelenjar di tenggorokan bagian atas Burkins juga membesar dan perlu diangkat.
"Ia tidak yakin apakah itu kanker, tetapi ia mengatakan itu sangat mencurigakan," kata Burkins.
Burkins pun menunggu hasil biopsi selama dua bulan. Selama itu juga, ia memperhatikan sisi kiri tenggorokannya sangat bengkak hingga menutupi garis rahang.
Adapun hasil CT scan menunjukkan ia memiliki benjolan dan gumpalan di mana-mana, termasuk di kelenjar getah bening di dasar tengkorak.
Mendapat diagnosis karsinoma nasofaring
Burkins akhirnya menjalani operasi dan hasil biopsi akhirnya pada Februari 2026 mengonfirmasi ia menderita karsinoma nasofaring atau nasopharyngeal carcinoma (NPC).
"Mendengar saya menderita kanker, yang saya pikirkan hanyalah tidak dapat melihat anak-anak saya tumbuh dewasa atau melakukan hal-hal yang ingin mereka lakukan dalam hidup. Itu mengerikan," tutur Burkins.
Menurut Mayo Clinic, NPC adalah kanker yang bermula dari pertumbuhan sel di nasofaring. Gejala umumnya, meliputi hidung tersumbat, mimisan, sakit kepala, nyeri wajah, telinga berdenging, termasuk telinga tersumbat.
NPC termasuk penyakit langka di AS karena sangat terkait dengan infeksi virus Epstein-Barr (EBV), bersama dengan faktor genetik dan paparan lingkungan tertentu. Penyakit ini jauh lebih umum di beberapa bagian Asia Timur dan Tenggara, Afrika Utara, dan Arktik.
Setelah mendapat diagnosis, Burkins menjalani kemoterapi dan radioterapi selama beberapa bulan ke depan. Kondisinya pun mengalami kemajuan.
"Semuanya mengecil dan merespons pengobatan yang diberikan dokter saya, jadi mereka optimis bahwa saya akan bebas kanker," ucap Burkins.
Ia berharap kisahnya akan meningkatkan kesadaran orang-orang yang mengalami gejala serupa. Menurutnya, kanker tidak pandang bulu. Ia bahkan mengalaminya saat baru berusia 22 tahun.
Burkins berharap bisa dinyatakan bebas kanker dan kembali mendedikasikan hidupnya untuk kedua buah hati.
"Anak-anakku benar-benar menjadi penopangku selama ini dan menjadi tujuan dan alasan terbesarku untuk berjuang dan melanjutkan hidupku," ujarnya.
(rti)