1 dari 5 Wanita Alami Masalah Mental saat Hamil hingga Melahirkan

CNN Indonesia
Kamis, 10 Sep 2026 04:00 WIB
Ilustrasi. WHO memperkirakan hampir 1 dari 5 perempuan mengalami masalah mental selama kehamilan hingga setahun setelah melahirkan. (Foto: iStockphoto/Motortion)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kehamilan dan masa setelah melahirkan kerap identik dengan kebahagiaan menyambut buah hati. Ternyata, periode ini juga membawa perubahan besar pada tubuh, rutinitas, hingga kehidupan sehari-hari yang dapat memengaruhi kondisi mental ibu.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan hampir 1 dari 5 perempuan mengalami kondisi kesehatan mental selama kehamilan atau dalam satu tahun setelah melahirkan. Kondisi yang paling umum di antaranya adalah depresi dan kecemasan.

WHO menyebut prevalensi gangguan mental pada perempuan selama masa perinatal cenderung lebih tinggi di negara berkembang.

Sebelumnya, WHO memperkirakan sekitar 10 persen ibu hamil dan 13 persen perempuan yang baru melahirkan mengalami gangguan mental, terutama depresi. Angkanya meningkat di negara berkembang, menjadi sekitar 15,6 persen selama kehamilan dan 19,8 persen setelah melahirkan.

Temuan tersebut kembali disoroti WHO dalam World Health Day 2025. WHO menyebut hingga 1 dari 5 perempuan mengalami depresi atau kecemasan setelah melahirkan.

Ilustrasi ibu hamil (Foto: Istockphoto/ Shironosov)


Bukan sekadar baby blues

Gangguan mental pada masa kehamilan dan setelah melahirkan dapat mencakup berbagai kondisi, salah satunya depresi. Kondisi tersebut berbeda dengan perubahan emosi ringan yang biasanya muncul sesaat setelah persalinan atau kerap disebut baby blues.

Perempuan yang mengalami masalah kesehatan mental dapat merasakan kesedihan berkepanjangan, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, merasa tidak berharga, sulit tidur, mudah cemas, hingga kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari.

WHO mencatat gangguan mental pada periode ini dapat berdampak bukan hanya pada ibu, tetapi juga pada kemampuan ibu menjalani perawatan diri dan merawat bayinya.

Karena itu, perubahan suasana hati yang menetap atau semakin mengganggu aktivitas sehari-hari sebaiknya tidak dianggap sekadar bagian dari menjadi ibu baru.

Potret kondisi ibu di Indonesia

Gambaran mengenai kondisi tersebut juga terlihat dalam penelitian di Indonesia. Mengutip penelitian dari Universitas Indonesia, Journal of Preventive Medicine and Public Health menemukan 12,6 persen ibu hamil dan 10,1 persen perempuan setelah melahirkan mengalami common mental disorders (CMD).

Angka tersebut berarti sekitar satu dari delapan ibu hamil dan satu dari 10 perempuan setelah melahirkan dalam data penelitian menunjukkan gejala yang memenuhi kriteria CMD.

Istilah CMD yang digunakan dalam penelitian ini mencakup kondisi seperti depresi, kecemasan, dan gangguan obsesif-kompulsif.

Meski begitu, angka tersebut tidak bisa disebut sebagai prevalensi depresi setelah melahirkan. Penelitian mengukur common mental disorders berdasarkan instrumen skrining, bukan memberikan diagnosis klinis depresi kepada para responden.

Sementara pada perempuan setelah melahirkan, faktor yang berkaitan antara lain tinggal di wilayah pedesaan, riwayat aborsi, kehamilan yang tidak diinginkan, komplikasi kehamilan, kurangnya kunjungan antenatal care (ANC), komplikasi setelah melahirkan, serta beberapa faktor terkait persalinan dan kontrasepsi.

Artinya, kondisi mental ibu tidak berdiri sendiri. Pengalaman selama kehamilan, kondisi tubuh, situasi sosial, hingga proses setelah persalinan dapat menjadi bagian dari kondisi yang perlu diperhatikan.


Kapan ibu perlu mencari bantuan?

Perubahan emosi setelah melahirkan memang dapat terjadi. Akan tetapi, ibu dan keluarga perlu lebih peka jika keluhan berlangsung lama, semakin berat, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Rasa sedih yang terus-menerus, kecemasan berlebihan, sulit tidur bahkan ketika bayi sedang tidur, kehilangan ketertarikan terhadap aktivitas, merasa tidak mampu merawat bayi, atau muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri merupakan tanda yang tidak sebaiknya diabaikan.

Dukungan orang terdekat juga penting. Ibu tidak harus menghadapi seluruh perubahan setelah melahirkan seorang diri. WHO sendiri mendorong agar kesehatan mental menjadi bagian dari pelayanan kesehatan ibu dan anak, sehingga kondisi tersebut dapat dikenali dan ditangani lebih awal.

Sebab, menjadi ibu bukan hanya soal memastikan bayi tumbuh sehat. Kondisi mental orang yang merawatnya juga sama pentingnya untuk diperhatikan.

(anm/fef)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK