Satu Jalur Seribu Rasa di Festival Kuliner Gading Serpong

Tiara Sutari | CNN Indonesia
Jumat, 11 Sep 2026 20:09 WIB
Ragam makanan Sumatera di Festival Kuliner Gading Serpong. (Foto: Arsip Istimewa)
Jakarta, CNN Indonesia --

Serpong mendadak terasa seperti punya potongan Sumatera sendiri. Di satu sudut, aroma kuah bakso yang gurih menguar dari sebuah gerai. Tak jauh dari sana, teh panas bertemu kuning telur yang dikocok hingga menghasilkan tekstur khas teh talua.

Pemandangan semacam itu bisa ditemui di Festival Kuliner Serpong (FKS) 2026 yang berlangsung di Area Parkir Timur Summarecon Mall Serpong pada 13 Agustus hingga 13 September 2026.

Memasuki tahun penyelenggaraan ke-14, festival kali ini mengambil tema 'Satu Jalur Seribu Rasa - Lintas Sumatera'. Beragam makanan dan minuman khas dari berbagai daerah di Sumatera dihadirkan untuk mempertemukan cita rasa daerah dengan pengunjung di kawasan Gading Serpong.

Namun, yang menarik bukan semata-mata banyaknya pilihan makanan. Sejumlah sajian di festival tersebut datang bersama cerita panjang dari daerah asalnya. Sebanyak 13 tenant bahkan mendapat label 'Autentik'. Penanda itu diberikan untuk tenant yang membawa sajian dengan keterikatan langsung pada daerah asalnya di Sumatera.

Dua di antaranya adalah Bakso Son Haji Sony dari Lampung dan Teh Talua Malimpah Mak Datuak dari Padang.

Semangkuk bakso dengan perjalanan panjang

Bagi sebagian orang, bakso mungkin identik dengan makanan sederhana yang mudah ditemui di berbagai kota. Tetapi bagi Bakso Son Haji Sony, semangkuk bakso menyimpan sejarah usaha yang telah berjalan selama empat dekade.

Kisahnya bermula pada 1986, ketika Haji Sony menjajakan bakso menggunakan gerobak di Lampung. Dari gerobak, usaha tersebut berkembang menjadi warung tenda. Perjalanannya kemudian berlanjut hingga memiliki puluhan outlet.

"Bakso Son itu dulunya awalnya dari gerobakan, tahun 1986. Kemudian berkembang menjadi tenda dan Alhamdulillah sampai sekarang sudah ada total 29 outlet," ujar Manajer Bakso Son Haji Sony, Effendy Saputra ditemui di lokasi.

Festival kuliner gading serpong kembali digelar di SMS, menghadirkan ratusan jajanan dari Sumatera (Foto: Arsip Istimewa)

Sebagian besar outlet masih berada di Lampung. Namun, jejak Bakso Son kini sudah sampai ke sejumlah kota lain, termasuk Jakarta, Bandung, dan Palembang.

Ada tiga outlet di Jakarta, satu di Bandung, dan satu di Palembang. Nama 'Son' pun punya cerita sendiri. Nama tersebut diambil dari nama sang pemilik, Haji Sony, yang biasa dipanggil 'Son'.

Outlet pertamanya berdiri di kawasan Pasar Bawah, Bandar Lampung. Dari tempat itulah usaha yang awalnya sederhana tersebut berkembang hingga dikenal di luar daerah asalnya.

Soal rasa, Effendy mengatakan karakter daging menjadi salah satu ciri yang ingin dipertahankan. Tak hanya bakso, beberapa pelengkap juga dibuat sendiri.

"Khasnya dari rasa baksonya, kualitas baksonya, dengan rasa daging yang lebih dominan. Semua produk seperti sambal, saus, ketchup, termasuk mi kuning, kami produksi sendiri," katanya.

Pengunjung dapat memilih sejumlah varian, seperti bakso sapi, bakso mik, bakso iga, dan bakso tahu. Bakso mik menjadi salah satu pilihan yang berbeda karena menggunakan campuran daging sapi dan ayam.

FKS 2026 juga menjadi pengalaman pertama bagi Bakso Son Haji Sony untuk berpartisipasi dalam festival tersebut. Menurut Effendy, sambutan pengunjung cukup memuaskan. Kehadiran mereka sekaligus mempertemukan kembali rasa khas Lampung dengan masyarakat asal daerah tersebut yang kini menetap di Jabodetabek.

Segelas teh yang menjaga tradisi Minang

Beranjak dari hidangan gurih Lampung, perjalanan kuliner di FKS 2026 membawa pengunjung menuju cita rasa lain dari Sumatera. Kali ini, bukan makanan yang tersaji, melainkan minuman yang punya cara penyajian cukup khas: teh talua.

Minuman tradisional Ranah Minang ini menggunakan telur sebagai salah satu bahan utamanya. Tradisi tersebut telah dikenal dan diwariskan dari generasi ke generasi.

"Teh talua ini minuman tradisional dari Ranah Minang. Ini minuman yang turun-temurun kita minum," kata Syaifullah dari Teh Talua Malimpah Mak Datuak.

Untuk menikmati versi original, telur bebek, teh, dan susu menjadi bahan utamanya. Kuning telur terlebih dahulu dipisahkan, lalu dikocok sampai menghasilkan tekstur kental. Setelah itu, teh panas dituangkan ke dalamnya.

Proses mengocok telur bukan sekadar tahap pembuatan. Dari proses tersebut muncul tekstur lembut dan padat yang menjadi salah satu karakter teh talua.

"Untuk yang autentik, kami punya original, tanpa campuran. Telur, teh, dan susu," ujar Syaifullah.

Meski mempertahankan versi tradisional, Malimpah Mak Datuak juga mencoba membawa teh talua lebih dekat dengan selera masa kini. Lebih dari 20 varian dikembangkan, termasuk perpaduan pisang dan madu. Pisang dan madu dipadukan dengan telur yang sudah dikocok hingga kental, sebelum kemudian disiram teh panas.

Hasilnya tetap memiliki karakter teh talua, tetapi hadir dengan kombinasi rasa yang lebih beragam.

Di satu sisi, minuman tersebut mempertahankan resep yang diwariskan. Di sisi lain, ia menunjukkan bahwa makanan tradisional tidak harus berhenti sebagai bagian dari masa lalu.

Malimpah Mak Datuak sendiri baru sekitar tiga tahun mengembangkan usahanya di Padang. Merek yang relatif muda itu justru membawa minuman dengan akar tradisi yang telah jauh lebih lama.

Ketika kuliner daerah bertemu generasi baru

Pertemuan berbagai kuliner tersebut menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kembali makanan tradisional kepada masyarakat yang mungkin belum pernah mencicipinya.

Syaifullah menilai festival dapat menjadi ruang bertemunya pelaku kuliner, masyarakat, dan UKM yang sama-sama memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan kuliner tradisional.

Sebab, mempertahankan kuliner daerah bukan hanya soal menjaga resep tetap sama. Ada kebutuhan untuk membuatnya terus dikenal, memiliki pasar, dan diterima oleh generasi berikutnya.

Hal itu pula yang coba dibangun FKS 2026 melalui suasana festival.

Nuansa Sumatera tidak hanya hadir lewat makanan. Area festival dilengkapi dekorasi tematik seperti miniatur Jam Gadang, rumah adat, serta ornamen tiga dimensi yang memperkuat suasana perjalanan melintasi berbagai daerah di Sumatera.

Pengunjung pun tidak hanya berhadapan dengan daftar menu. Mereka dapat melihat berbagai representasi budaya sekaligus mencicipi makanan dan minuman yang dibawa langsung oleh para pelaku kuliner.

Rangkaian acara juga diisi dengan penampilan sejumlah musisi Tanah Air, di antaranya Geisha, RNB Trio, Vierratale, Ovhi Firsty, Adrian Khalif, Rany Simbolon, dan Barasuara.

Ada pula tari tradisional, parade budaya, eating & cooking competition bersama Yuk Makan, penampilan Rhapsody Music Center, serta live music. Program "Satu Jalur Seribu Hadiah" dan "Satu Jalur Seribu Momen" turut menjadi bagian dari rangkaian festival.

Perjalanan kuliner di FKS 2026 memperlihatkan bahwa makanan daerah punya cara sendiri untuk bercerita.

Bakso Son membawa kisah tentang usaha yang tumbuh dari sebuah gerobak di Lampung hingga menyeberang ke sejumlah kota. Sementara teh talua memperlihatkan bagaimana minuman tradisional Ranah Minang dapat dipertahankan sekaligus dikembangkan mengikuti zaman.

Di antara berbagai sajian yang memenuhi area festival, keduanya menjadi pengingat bahwa cita rasa daerah tidak berhenti pada persoalan enak atau tidak enak.

Ada sejarah, kebiasaan, identitas, dan ingatan yang ikut tersaji di dalamnya. Dan terkadang, untuk mengenal sebuah daerah lebih dekat, seseorang memang tidak harus lebih dulu datang ke sana. Bisa jadi, cukup dengan mencicipinya.

(tis)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK