5 Cara Mengajari Anak Menghadapi Ejekan Agar Tak Gampang Minder
Ejekan merupakan bagian yang cukup umum dalam kehidupan sosial anak. Namun, tidak semua ejekan disampaikan sebagai bentuk candaan, karena terkadang digunakan untuk menyakiti, mempermalukan, atau membuat anak kehilangan rasa percaya diri. Berikut cara mengajari anak menghadapi ejekan yang perlu diketahui orang tua.
Tidak semua anak mampu membedakan candaan dengan perkataan yang sudah melewati batas. Respons setiap anak terhadap ejekan juga bisa berbeda, tergantung kepribadian, rasa percaya diri, hingga pengalaman mereka sebelumnya.
Karena itu, orang tua perlu membantu anak memahami bahwa perkataan orang lain tidak selalu menggambarkan siapa diri mereka sebenarnya.
Cara mengajari anak menghadapi ejekan
Agar anak tidak gampang minder, kehilangan rasa percaya diri, sebaiknya orang tua mengajari anak bagaimana cara menghadapi ejekan sebagai berikut.
1. Ajarkan anak memahami maksud di balik ejekan
Langkah pertama adalah membantu mereka memahami niat orang yang mengejek, karena tidak semua ejekan memiliki maksud yang sama.
Ada anak yang sekadar bercanda, ingin mendapatkan perhatian, mencoba berteman, atau bahkan sedang menyembunyikan rasa tidak percaya dirinya.
Ajak anak bertanya, "Menurutmu, dia sebenarnya ingin apa?" atau "Apakah dia sedang bercanda atau sengaja ingin membuatmu sedih?" Anak juga perlu belajar mengenali tanda-tanda ejekan yang sehat.
Dalam candaan yang positif, semua orang biasanya dapat tertawa dan merasa nyaman. Sebaliknya, jika hanya satu orang yang ditertawakan, merasa tertekan, menarik diri, atau marah, kemungkinan ejekan tersebut sudah tidak sehat.
2. Ajarkan anak merespons dengan percaya diri
Anak perlu memahami bahwa perkataan seseorang tidak otomatis menjadi kebenaran tentang dirinya. Jika orang yang mengejek memang sering merendahkan orang lain, perkataannya sebaiknya tidak dijadikan ukuran harga diri.
Latih anak memberikan respons sederhana tanpa harus membalas dengan ejekan. Misalnya, "Oh, begitu menurutmu," lalu pergi dan melanjutkan aktivitas.
Anak juga bisa mengatakan, "Aku tidak suka kalau kamu mengatakan itu." Respons yang tenang dan tegas dapat mengurangi kesempatan orang lain untuk mendapatkan kepuasan dari reaksi emosionalnya.
3. Bantu anak mengenali hal-hal yang mudah memicu emosinya
Setiap anak memiliki tombol atau hal tertentu yang membuatnya lebih sensitif. Bisa berupa penampilan, kemampuan akademik, cara berbicara, bentuk tubuh, atau perasaan tidak diterima dalam kelompok.
Orang tua dapat mengajak anak mengenali apa yang sebenarnya membuat mereka terluka ketika mendengar ejekan. Setelah itu, bantu mereka melihat situasi dari sudut pandang lain.
Misalnya, "Apakah perkataan temanmu benar-benar menggambarkan dirimu?" atau "Adakah kemungkinan dia hanya ingin bercanda?". Dengan mengenali pemicunya, anak perlahan belajar mengendalikan reaksi dan tidak langsung menganggap setiap ejekan sebagai ancaman terhadap dirinya.
4. Hindari budaya mengejek dan sarkasme di rumah
Cara keluarga berkomunikasi turut memengaruhi cara anak memandang ejekan. Candaan yang terus-menerus merendahkan, menyindir kekurangan, atau menggunakan sarkasme untuk menyampaikan kemarahan dapat membuat anak terbiasa menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang wajar.
Orang tua sebaiknya membedakan antara bercanda dan merendahkan. Jika candaan membuat seseorang merasa tidak berharga, malu, atau terus-menerus menjadi sasaran, berarti sudah waktunya berhenti.
Selain itu, anak juga perlu belajar bahwa kalimat "cuma bercanda" tidak menghapus dampak dari perkataan yang menyakitkan.
5. Bangun pengalaman bercanda yang positif bersama keluarga
Ejekan tidak selalu harus dipandang sebagai sesuatu yang buruk. Dalam hubungan yang dekat dan penuh rasa aman, candaan ringan justru dapat menjadi cara untuk membangun kedekatan.
Orang tua bisa menciptakan suasana keluarga yang memungkinkan semua orang tertawa bersama tanpa menjadikan seseorang sebagai bahan olok-olok. Misalnya, sesekali menertawakan kesalahan kecil diri sendiri atau membuat lelucon ringan tentang pengalaman lucu yang dialami bersama.
Lingkungan seperti ini membantu anak memahami perbedaan antara humor yang menyenangkan dan ejekan yang menyakitkan.
Pada akhirnya, cara mengajari anak menghadapi ejekan bukan hanya tentang mengajarkan mereka membalas perkataan teman, tetapi juga membangun identitas yang kuat sehingga mereka tidak mudah mendefinisikan diri berdasarkan ucapan orang lain.
(gas/els)