Kasus Ebola RD Kongo Tembus 8.000, Kenali Virus Bundibugyo & Gejalanya
Ebola kembali menjadi perhatian setelah wabah di Republik Demokratik Kongo terus meluas. Hingga akhir September 2026, lebih dari 8.000 kasus telah terkonfirmasi dan hampir 4.000 pasien meninggal dunia.
Mengutip AP News, Kementerian Kesehatan RD Kongo melaporkan 8.067 kasus terkonfirmasi dan 3.901 kematian hingga 26 September 2026. Kasus tersebut ditemukan di 63 zona kesehatan yang tersebar di tujuh dari 26 provinsi.
Angka kematian atau case fatality rate dalam wabah ini mencapai lebih dari 48 persen. Wabah tersebut pertama kali diumumkan pemerintah RD Kongo pada 15 Mei 2026. Ini merupakan wabah Ebola ke-17 di negara tersebut sekaligus disebut sebagai yang paling mematikan.
Yang membuat wabah kali ini berbeda adalah virus penyebabnya. Wabah disebabkan oleh Bundibugyo virus, salah satu spesies virus yang dapat menyebabkan penyakit Ebola pada manusia. Lantas, apa sebenarnya Bundibugyo virus dan bagaimana gejalanya?
Ebola bukan cuma satu jenis virus
Ebola sebenarnya bukan nama untuk satu jenis virus saja. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penyakit Ebola disebabkan oleh kelompok virus dari genus Orthoebolavirus. Beberapa spesies dalam kelompok ini diketahui dapat menyebabkan penyakit pada manusia.
Tiga spesies yang diketahui pernah menyebabkan wabah besar pada manusia adalah Ebola virus (EBOV), Sudan virus (SUDV), dan Bundibugyo virus (BDBV).
Istilah 'Ebola' dapat merujuk pada penyakitnya, sedangkan nama seperti Ebola virus, Sudan virus, atau Bundibugyo virus merujuk pada spesies virus penyebabnya.
Bundibugyo pertama ditemukan di Uganda
Bundibugyo virus merupakan salah satu spesies Orthoebolavirus yang relatif jarang ditemukan. Virus ini pertama kali diidentifikasi pada 2007, setelah terjadi wabah penyakit di Distrik Bundibugyo, Uganda. Nama virus tersebut pun diambil dari lokasi ditemukannya.
Penelitian yang diterbitkan di jurnal PLOS Pathogens menunjukkan, virus tersebut memiliki perbedaan genetik dengan spesies ebolavirus yang sebelumnya telah dikenal.
Bundibugyo kemudian diketahui dapat menyebabkan penyakit pada manusia, meski wabahnya jauh lebih jarang dibandingkan Ebola virus yang menjadi penyebab wabah besar di Afrika Barat pada 2014-2016.
Gejala awalnya bisa mirip penyakit lain
Salah satu hal yang membuat Ebola tidak mudah dikenali pada awal infeksi, yakni gejalanya yang tidak spesifik. WHO menyebut gejala awal dapat muncul berupa demam, kelelahan, nyeri otot, sakit kepala, dan sakit tenggorokan.
Setelah itu, penyakit dapat berkembang dengan gejala seperti muntah, diare, ruam, serta gangguan fungsi ginjal dan hati. Pada sebagian pasien juga dapat terjadi perdarahan internal maupun eksternal.
Melansir CDC, gejala awal Ebola dapat menyerupai sejumlah penyakit infeksi lain, sehingga riwayat paparan dan pemeriksaan medis menjadi penting dalam mengenali penyakit tersebut.
Ebola sendiri memiliki masa inkubasi yang cukup panjang. CDC menyebut, gejala infeksi Orthoebolavirus dapat muncul dalam rentang 2 hingga 21 hari setelah seseorang terpapar virus, dengan rata-rata sekitar 8-10 hari.
Itulah mengapa seseorang yang terinfeksi tidak selalu langsung menunjukkan gejala setelah terpapar.
Penularan terutama berkaitan dengan kontak dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi. Ketika seseorang mulai mengalami gejala, virus dapat menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh tersebut.
Dalam wabah RD Kongo yang sedang berlangsung, tingginya angka kematian menjadi perhatian WHO.
"Rasio kematian kasus yang terus tinggi, dan terutama tingginya angka kematian yang terjadi di masyarakat, menunjukkan seriusnya penyakit ini serta tantangan yang masih berlangsung dalam mendeteksi kasus secara tepat waktu dan memberikan perawatan pasien yang cepat dan memadai," tulis WHO dalam laporan terbarunya.
RD Kongo juga menghadapi keterbatasan tenaga kesehatan untuk menangani wabah. Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam mendeteksi kasus lebih cepat, merawat pasien, dan mencegah penularan lebih luas.
(anm/rti)