Cari Rekomendasi Liburan, Kamu Lebih Percaya Influencer atau AI?

CNN Indonesia
Rabu, 07 Okt 2026 09:00 WIB
Ilustrasi liburan bareng teman-teman. (iStock/suriya silsaksom)
Jakarta, CNN Indonesia --

Wisatawan ternyata masih lebih mengandalkan rekomendasi dari orang-orang terdekat dibandingkan kecerdasan buatan (AI) ketika mencari informasi perjalanan atau liburan.

Melansir Mirror, hal ini terungkap dalam studi yang melibatkan sekitar 14.000 wisatawan dari sejumlah negara, termasuk Inggris dan Australia.

Di Inggris, keluarga menjadi sumber rekomendasi perjalanan yang paling dipercaya. Sebanyak 84 persen responden mengatakan mereka memercayai keluarga untuk mendapatkan tips perjalanan atau rekomendasi destinasi.

Sementara itu, 81 persen masih mengandalkan teman. Adapun AI dipercaya oleh 45 persen responden untuk memberikan tips perjalanan dan rekomendasi tempat liburan.

Influencer justru berada jauh di belakang ketiga sumber tersebut. Hanya sekitar satu dari 10 responden yang mengatakan mereka mengandalkan influencer ketika mencari rekomendasi perjalanan.

Temuan ini menunjukkan bahwa meski AI semakin banyak digunakan untuk merencanakan liburan, rekomendasi dari orang yang memiliki pengalaman langsung masih memiliki pengaruh besar.

Temuan tersebut menjadi bagian dari Hilton 2027 Trends Report yang mengangkat tema The Great Rebalance. Laporan ini melihat perubahan cara wisatawan merencanakan dan menikmati perjalanan, mulai dari sumber rekomendasi hingga cara mereka memanfaatkan waktu liburan.

Berikut tujuh tren perjalanan yang diprediksi menjadi perhatian pada 2027:

1. The Travel Trust Equation

Wisatawan masih menempatkan manusia sebagai sumber informasi yang dipercaya ketika mencari rekomendasi perjalanan. Keluarga dan teman menjadi pilihan utama, sementara AI mulai digunakan oleh sebagian wisatawan untuk mendapatkan tips dan menentukan destinasi.

2. Status Seekers

Program loyalitas perjalanan juga semakin diperhatikan, terutama oleh wisatawan muda. Sebanyak 27 persen Gen Z telah mengikuti program poin atau miles. Bahkan, 37 persen mengaku merasa iri ketika melihat teman memiliki status perjalanan yang lebih tinggi.

3. Boomer Goals

Generasi yang lebih tua cenderung memiliki pendekatan berbeda dalam merencanakan perjalanan. Sebanyak 53 persen kelompok usia lebih tua memilih pendekatan yang spontan, sementara 18 persen mengaku membuat rencana perjalanan dengan jadwal yang ketat.

Sebaliknya, sebanyak 41 persen Gen Z lebih cenderung memiliki rencana perjalanan yang terstruktur.

4. The Beforeglow

Rasa senang dari perjalanan ternyata tidak hanya muncul ketika wisatawan sudah tiba di destinasi. Sekitar 75 persen responden Inggris mengatakan memiliki liburan yang sudah dipesan memberikan mereka rasa memiliki tujuan.

Proses memesan perjalanan juga dapat memberikan antusiasme dan motivasi berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan sebelum keberangkatan.

5. Optimisation Era

Liburan mulai dipandang sebagai bagian dari pencapaian tujuan pribadi. Sebanyak 60 persen responden Inggris mengatakan perjalanan yang sudah direncanakan membantu mereka tetap menjalankan tujuan pribadi.

Sementara itu, 53 persen menggunakan perjalanan untuk menandai momen penting dalam hidup.

Pada Gen Z, 28 persen melihat liburan sebagai kesempatan untuk memulai gaya hidup yang lebih sehat. Bahkan, 32 persen menganggap mempertahankan rutinitas kebugaran selama perjalanan sebagai hal yang tidak bisa ditawar.

6. Wellness Rewired

Tren kesehatan dan kebugaran dalam perjalanan juga semakin berkembang. Wisatawan tidak hanya mencari fasilitas kebugaran, tetapi juga pengalaman yang memungkinkan mereka menghabiskan lebih banyak waktu di alam.

Sebanyak 76 persen responden mengatakan udara segar dan aktivitas luar ruangan menjadi bagian penting untuk mendapatkan rasa rileks.

7. Micro-Travel Mindset

Perjalanan singkat juga diprediksi semakin populer. Sebanyak 65 persen orang dewasa di Inggris berencana melakukan lebih banyak perjalanan singkat pada tahun berikutnya.

Sekitar 56 persen bahkan merencanakan micro-trip berdasarkan satu pengalaman utama yang ingin dilakukan, dengan angka tersebut meningkat menjadi 74 persen di kalangan Gen Z.

(dsd/wiw)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK