Ramai-ramai Pamer Heart Rate Rendah, Lebih Sehat atau Berbahaya?
Dalam beberapa waktu ke belakang, banyak orang beramai-ramai memamerkan angka resting heart rate (RHR) atau detak jantung istirahat. Sebagian dari mereka mengaku bangga jika angka RHR semakin rendah.
Pertanyaannya, benarkan semakin rendah artinya tubuh semakin sehat? Atau, justru berbahaya?
Lihat Juga : |
RHR sendiri dihitung berdasarkan jumlah detak jantung per menit saat tubuh berada dalam kondisi rileks atau beristirahat, bukan saat sedang beraktivitas apalagi berolahraga.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Vito A Damay mengatakan, RHR memang berhubungan dengan kondisi jantung seseorang.
"Karena kalau dia [angka RHR] lebih tinggi, artinya sebenarnya risikonya [penyakit jantung dan kardiovaskular] lebih tinggi juga. Karena itu berkaitan dengan metabolisme," ujar Vito di Jakarta Pusat, Rabu (7/10), mengutip detikhealth.
Idealnya, lanjut Vito, angka RHR seseorang dalam kondisi istirahat berada di sekitar 60 bpm.
"Ketika lagi tidur, lagi diam aja maksudnya, ya," tambah dia melengkapi.
Namun, angka tersebut bisa saja lebih rendah lagi. Kondisi ini biasanya terjadi pada atlet atau mereka yang rajin berolahraga. Pada atlet, angka RHR bisa lebih rendah dari umumnya.
"Kalau orang sangat rajin olahraga, marathon, atau rajin olahraga aerobik malah bisa 40 atau 50 bpm waktu tidur. Sangat rendah dan itu tidak apa-apa," jelas Vito.
Lebih sehat atau berbahaya?
Detak jantung lambat biasanya disebabkan oleh banyak faktor. Normalnya, detak jantung dalam kondisi rileks atau beristirahat berkisar antara 60-100 bpm. Namun, angka itu bisa turun hingga 40 bpm saat tidur nyenyak.
Menukil laman Siloam Hospital, detak jantung yang stabil sendiri bergantung pada sekelompok kecil sel yang terletak di bilik kanan atas jantung yang disebut nodus sinoatrial. Sel-sel ini menghasilkan impuls listrik kecil yang membuat jantung berkontraksi untuk memompa darah ke seluruh tubuh.
Secara umum, semakin rendah detak jantung istirahat seseorang, maka semakin sehat otot jantungnya. Namun, dalam kondisi tertentu, detak jantung lambat juga perlu mendapatkan perhatian.
Pada dasarnya, detak jantung lambat yang tidak disertai gejala apa pun tidak perlu dikhawatirkan. Kondisi ini sering ditemukan pada atlet dengan detak jantung istirahat serendah 40 bpm. Angka ini dianggap normal lantaran jantung atlet atau mereka yang sering berolahraga lebih efisien dalam memompa darah dibandingkan dengan lainnya.
Namun, jika detak jantung lambat disertai gejala seperti pusing, kepala terasa ringan, kelelahan, sesak napas, tekanan darah rendah, kebingungan, nyeri dada, atau tanda-tanda syok lainnya, maka segera lakukan konsultasi dengan dokter.
(asr)