Otak Punya Batas Mencerna Berita Buruk, Bagaimana Mengelolanya?
Berita buruk tak henti-hentinya muncul di depan mata. Baik itu di koran, televisi, media sosial, notifikasi, hingga kabar berantai yang ada di grup aplikasi chat.
Hari ini mungkin ada informasi tentang unjuk rasa, disusul informasi harga bahan pokok naik. Belum selesai kasus keracunan makanan atau perseteruan pasangan artis, sudah muncul lagi berita tentang bencana.
Di satu sisi, kita turut berempati terhadap orang-orang yang mengalami musibah. Di sisi lain, kita juga bisa rentan kelelahan mental karena intensnya arus kabar buruk.
Situasi ini jadi menimbulkan pertanyaan, seberapa besar kapasitas emosional manusia dalam menghadapi terpaan kabar negatif?
Arus deras berita, masalah manusia modern
Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan digitalisasi membuat manusia jadi mudah terhubung satu sama lain. Kabar terbaru bisa langsung didapat dengan usapan di ponsel pintar. Namun, ini juga yang jadi masalah manusia modern.
"Baru bangun, nih. Kita belum siap secara emosi dan kesadaran, kita sudah langsung dibanjiri oleh berita-berita negatif. Nah, itulah yang sebenarnya membuat kita jadi overwhelmed," ujar magister psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Putra Wiramuda, kepada CNNIndonesia.com, Selasa (6/10).
Putra mengatakan, manusia pada dasarnya memiliki keterbatasan dalam memproses kabar negatif. Padahal, sejak zaman primitif, otak manusia hanya didesain menghadapi satu masalah di satu waktu.
Merunut lagi ke masa lampau, selama ratusan ribu tahun, otak manusia purba sudah terbiasa hidup di iklim primitif. Pada periode tersebut, kabar buruk cenderung minim. Misalnya, bertemu dengan binatang buas hanya sesekali saja.
Namun, manusia modern yang sejak 1990-an mulai mengenal internet dan pakai media sosial sekitar 20 tahun terakhir, setiap harinya dibanjiri oleh banyak berita, baik itu negatif maupun positif.
Hal ini membuat porsi berita buruk yang diterima setiap harinya melebihi kapasitas psikologis yang otak bisa cerna.
"Apalagi ada kecenderungan manusia itu memang jauh lebih mudah mengingat berita-berita yang negatif, yang namanya bias negativitas. Nah, itulah yang membuat kita justru malah jadi lebih mudah stres, lebih mudah terpantik emosinya," tutur praktisi mindfulness ini.
Tanda-tanda mengalami kelelahan akibat paparan berita buruk
Seseorang sering kali tidak sadar atau mindful sudah mengalami kelelahan akibat paparan berita buruk.
Putra membagikan setidaknya tiga tanda seseorang mengalami kelelahan tersebut yang bisa dijadikan deteksi dini.
"Sebaiknya memang kita butuh untuk lebih mindful lagi, ya, untuk merawat diri kita dulu misalnya, sebelum bertindak berlebihan," ucap praktisi di Myndfulact, Menjadi Manusia, hingga Ikigai Consulting ini.
1. Lebih mudah emosional
Tanda pertama, yakni jadi lebih mudah emosional, seperti mudah marah, sedih, hingga cemas. Bisa juga terus-menerus merasa lelah, meski tak banyak aktivitas yang dilakukan.
"Kadang-kadang kalau kita scrolling, tubuh kita kan diam sebenarnya, enggak ngapa-ngapain, tapi pikiran kita kan ke mana-mana. Nah, pikiran yang ke mana-mana itu juga draining energi," kata Putra.
2. Merasa tak berdaya dan pasrah
Ia melihat ada satu fenomena yang muncul di media sosial, yakni orang mulai menormalisasi berita negatif. Banyak yang berpendapat, hidup di negeri 'Konoha' terasa lebih normal membaca berita negatif ketimbang positif. Bahkan, ada yang kaget jika melihat berita positif.
Putra menganggapnya sebagai alarm bahaya. Ada kepasrahan di balik sikap-sikap tersebut, sehingga tak ada lagi perjuangan dan keberdayaan untuk menghadapi tantangan hidup.
Baca halaman selanjutnya...