Makin Banyak Gen Z Pakai Headphone, Rasa Kesepian pun Mengintai

CNN Indonesia
Senin, 26 Okt 2026 19:15 WIB
Ilustrasi. Para pakar menyoroti penggunaan headphone pada Gen Z bisa timbulkan rasa isolasi dan kesepian. Anak muda perlu mengurangi penggunaan headphone. (Glafuski/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --

Headphone atau earbuds menjadi bagian dari keseharian banyak anak muda seperti Gen Z, baik saat bepergian, belajar, maupun nongkrong di kafe.

Namun, para pakar menyoroti penggunaan headphone berlebihan bisa membuat Gen Z jadi kesepian dan sulit menjalin hubungan sosial. Persoalannya bukan soal mendengarkan musik, melainkan kehilangan momen untuk terhubung dengan sekitar.

Berdasarkan survei Edison Research yang berbasis di AS pada Mei lalu menunjukkan, orang berusia 13-34 tahun rata-rata menghabiskan 4,5 jam sehari mendengarkan musik, podcast, atau konten audio lainnya.

Selain itu, seperti diwartakan CNN Health, juru bicara Spotify mengungkap sekitar 56 persen pemutaran musik global di platform tersebut berasal dari gen Z sepanjang 1 Januari hingga 25 November 2025.

Headphone bisa membuat orang terisolasi

Bagi banyak orang, memakai headphone merupakan kebiasaan, bukan tindakan sengaja untuk menolak interaksi. Namun kebiasaan tersebut dapat menciptakan penghalang sosial yang membuat seseorang malah jadi terisolasi dan kesepian.

Richard Davidson, pendiri sekaligus direktur Center for Healthy Minds di University of Wisconsin-Madison, menilai mahasiswa kehilangan banyak kesempatan bersosialisasi ketika terus mengenakan headphone.

Ia memperkirakan 90 persen mahasiswa yang beraktivitas di sekitar kampusnya memakai headphone. Menurut profesor psikologi dan psikiater ini, bertemu dengan orang baru yang berbeda latar belakang merupakan kesempatan luar biasa di kampus.

"Jika mereka berjalan-jalan memakai headphone, tidak ada yang berbicara satu sama lain," ucap Davidson, seperti dilansir CNN Health.

Ia juga mengamati kebiasaan orang langsung mengambil ponsel ketika menunggu di kedai kopi, bukannya tersenyum atau menyapa orang di dekatnya.

Mengapa orang senang mendengarkan musik?

Bicara soal penggunaan headphone, tentu perlu membahas juga soal musik yang paling banyak didengarkan di perangkat tersebut. Pertanyaannya kemudian, mengapa ada orang yang lebih senang dengar musik ketimbang bersosialisasi dengan sekitarnya?

Menurut neuropsikolog Dr. Amber Johnston, musik merangsang dopamin dan pusat penghargaan di otak. Banyak teknologi favorit juga turut menyediakan rangsangan serupa.

Ketika musik selalu digunakan untuk menemani pekerjaan yang dianggap membosankan, seseorang bisa makin sulit menoleransi kebosanan tanpa tambahan stimulasi.

"Jika orang tidak bisa menoleransi rasa bosan, mereka terus mencari dopamin untuk membantu meredakan ketidaknyamanan mereka, dan musik serta headphone mungkin menjadi salah satu caranya," tutur Johnston, seperti diberitakan The Guardian.

Supaya bisa lepas dari headphone, Johnston menyarankan untuk berlatih menghabiskan waktu dalam keadaan tidak mencari dopamin dan berusaha nyaman dengan kebosanan.

Seiring waktu, hal ini akan mengurangi jumlah stimulus tambahan untuk mendapatkan dorongan dopamin yang sama.

Namun, bukan berarti Gen Z harus meninggalkan musik, melainkan menyadari kapan headphone bisa jadi teman aktivitas dan kapan penggunaannya menutup kesempatan berinteraksi.

Mulai mendengarkan sekitar, meski berisik

Menurut Davidson, mengenakan headphone bisa menghalangi percakapan sederhana yang berpotensi memberi rasa terhubung. Di sisi lain, sesekali melepas headphone dan mengurangi distraksi bisa membantu seseorang hadir pada momen yang sedang berlangsung.

"Otot kesadaran adalah kemampuan kita untuk secara sengaja sadar tanpa tersesat dalam aliran pikiran... Apakah Anda memperhatikan apa yang sedang Anda lakukan, atau pikiran Anda berada di tempat lain?" ujar Davidson.

[Gambas:Video CNN]

Ia mengingatkan bahwa musik atau aktivitas scrolling layar ponsel dapat memberikan kelegaan sementara dari pikiran mengganggu. Dalam jangka pendek, strategi ini efektif untuk menyingkirkan distraksi yang tak diinginkan di dalam pikiran.

Namun strategi ini tak efektif dalam jangka panjang. Ketika musik berhenti atau aktivitas berakhir, pikiran neurotik kita kembali menyerbu, sehingga hiburan sementara tersebut terasa seperti janji palsu.

Senada dengan Johnston, Davidson menekankan seseorang perlu mampu menghindari penggunaan headphone atau distraksi serupa secara berlebihan. Hal ini untuk memastikan pikiran kita tak 'membajak' diri dari aktivitas sehari-hari.

Jadi, penting bagi Gen Z dan anak muda lainnya untuk memberi jeda dari headphone dan mulai mendengarkan sekitar, meski berisik. Siapa tahu, terbuka kesempatan menikmati lingkungan sekitar dan membangun hubungan dengan orang baru.

(rti)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK