Wajah Terlihat Turun Meski Kulit Kencang? Ternyata Ini Penyebabnya

CNN Indonesia
Selasa, 20 Okt 2026 19:15 WIB
Ilustrasi. Perawatan wajah tidak hanya berhenti di kecantikan, tapi juga harus merawat otot wajah agar kulit tak mudah kendur. (Getty Images/iStockphoto/Lordn)
Jakarta, CNN Indonesia --

Seiring bertambahnya usia, perubahan pada wajah tak hanya terlihat dari munculnya kerutan atau kulit yang mulai kendur. Kontur pipi yang berubah, garis rahang yang kurang tegas, hingga wajah yang tampak turun juga bisa menjadi bagian dari proses penuaan.

Kondisi tersebut membuat perawatan anti-aging tak lagi hanya berfokus pada permukaan kulit. Sebab, wajah memiliki sejumlah lapisan dan struktur yang saling berkaitan, mulai dari kulit, jaringan lemak, otot, hingga tulang.

Penelitian mengenai penuaan wajah menunjukkan bahwa perubahan pada berbagai struktur tersebut turut memengaruhi penampilan wajah seiring bertambahnya usia.

Artinya, kulit yang tampak lebih kencang belum tentu membuat seluruh kontur wajah kembali seperti sebelumnya. Perubahan pada jaringan di bawah kulit juga dapat berperan dalam menentukan bentuk dan penampilan wajah.

Penuaan wajah bukan hanya soal kulit

Kulit memang menjadi bagian yang paling mudah terlihat ketika seseorang mengalami penuaan. Produksi kolagen dan elastin yang berubah seiring bertambahnya usia dapat memengaruhi kekencangan serta elastisitas kulit.

Namun, proses penuaan wajah berlangsung lebih kompleks. Perubahan juga dapat terjadi pada jaringan lemak, otot, ligamen, dan tulang yang berperan dalam menopang struktur wajah.

Sejumlah perubahan tersebut dapat membuat pipi tampak berbeda, lipatan wajah semakin jelas, atau garis rahang kehilangan ketegasannya. Tingkat perubahan pada setiap orang pun dapat berbeda, dipengaruhi usia, faktor genetik, paparan sinar matahari, dan gaya hidup.

Karena itu, pendekatan perawatan wajah perlu mempertimbangkan kondisi masing-masing individu. Keluhan yang terlihat serupa belum tentu memiliki penyebab yang sama sehingga tidak selalu dapat ditangani dengan metode yang identik.

Selain perawatan kulit, stimulasi otot wajah mulai mendapat perhatian dalam perkembangan teknologi estetika. Pendekatan ini berangkat dari pemahaman bahwa otot memiliki peran dalam ekspresi dan pergerakan wajah.

Salah satu teknologi yang digunakan dalam konteks tersebut adalah neuromuscular electrical stimulation (NMES), yakni stimulasi listrik yang memicu respons kontraksi otot. Dalam perawatan estetika, teknologi ini diteliti untuk melihat potensinya dalam memengaruhi karakteristik otot dan penampilan wajah.

Sebuah studi terkontrol yang melibatkan 108 perempuan melaporkan peningkatan ketebalan otot zygomaticus major sebesar 18,6 persen setelah 12 minggu stimulasi otot wajah. Otot yang terletak di area pipi tersebut berperan dalam gerakan tersenyum.

Penelitian itu juga melaporkan perubahan pada sejumlah aspek penampilan wajah, termasuk kekencangan dan tonus. Meski demikian, hasil penelitian pada perangkat dan protokol tertentu tidak dapat langsung digeneralisasi ke semua teknologi stimulasi otot wajah.

Studi lain yang melibatkan perempuan Asia juga melaporkan perbaikan pada sejumlah parameter, seperti elastisitas kulit, kerutan, kekenduran, garis senyum, dan kontur rahang setelah delapan minggu stimulasi otot wajah.

Temuan tersebut memberikan gambaran mengenai potensi stimulasi otot wajah dalam perawatan estetika. Namun, bukti ilmiah mengenai efektivitas dan keamanan setiap perangkat tetap perlu dinilai berdasarkan penelitian yang secara khusus menguji teknologi tersebut.

Teknologi estetika dengan pendekatan personal

Perkembangan pendekatan yang mempertimbangkan struktur di bawah kulit turut mendorong hadirnya beragam teknologi perawatan wajah. Salah satunya WonderFace, perangkat yang diperkenalkan Regenesis Indonesia dengan dua modalitas berbeda, yaitu stimulasi neuromuskular atau neuromuscular stimulation (NMS) dan radiofrekuensi (radiofrequency/RF).

Kedua modalitas tersebut dapat digunakan secara terpisah sesuai pertimbangan dokter. Stimulasi neuromuskular ditujukan untuk memberikan rangsangan pada otot, sedangkan radiofrekuensi digunakan dalam perawatan jaringan kulit.

WonderFace juga menyediakan 10 pilihan program yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan perawatan, mulai dari tonifikasi dan pengangkatan tampilan wajah hingga program untuk kontur wajah, bruksisme, dan drainase limfatik.

Meski demikian, ketersediaan berbagai program tidak serta-merta berarti seluruh keluhan dapat ditangani dengan hasil yang sama. Pemilihan perawatan tetap perlu mempertimbangkan kondisi pasien, tujuan yang realistis, serta bukti klinis yang mendukung penggunaan perangkat.

Direktur Utama Regenesis Indonesia, Emmy Noviawati, mengatakan perkembangan estetika wajah menunjukkan adanya pergeseran perhatian dari permukaan kulit menuju struktur yang turut menopang dan menggerakkan wajah.

Menurut dia, otot wajah menjadi salah satu aspek yang mulai diperhatikan dalam perkembangan perawatan estetika modern. Memahami penuaan wajah secara menyeluruh dapat membantu seseorang menentukan pilihan perawatan secara lebih tepat.

"Kami melihat adanya perubahan cara pandang dalam facial aesthetics. Wajah tidak hanya terdiri dari kulit yang terlihat, tetapi juga struktur di bawahnya yang ikut membentuk, menopang, dan menggerakkan wajah. Karena itu, perhatian terhadap otot wajah menjadi bagian menarik dari perkembangan treatment estetika modern," kata dia.

Konsultasi dengan dokter diperlukan untuk mengevaluasi kondisi kulit dan jaringan di bawahnya, sekaligus membahas manfaat, keterbatasan, risiko, serta alternatif perawatan yang tersedia. Sebab, perawatan anti-aging bukan semata-mata tentang membuat kulit terlihat lebih kencang, melainkan juga memahami perubahan yang terjadi pada wajah dan menentukan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan setiap orang.

(tis/tis)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK