Studi Temukan Sel Ibu bisa Bertahan di Otak Anak Selama Puluhan Tahun
Siapa sangka, sebagian kecil sel ibu ternyata bisa tetap berada di tubuh anak selama bertahun-tahun setelah kelahiran.
Sebuah penelitian asal Amerika Serikat yang berkolaborasi dengan peneliti dari Prancis menemukan bahwa sel yang berasal langsung dari tubuh ibu dapat masuk ke otak anak dan berpotensi bertahan hingga puluhan tahun.
Lihat Juga : |
Fenomena ini dikenal sebagai microchimerism, yaitu kondisi ketika sejumlah kecil sel dari individu lain menetap di dalam tubuh seseorang. Hal ini berbeda dari pewarisan DNA ibu kepada anak.
Jika DNA ibu diwariskan melalui sel telur dan menjadi bagian dari materi genetik anak, sel dalam fenomena microchimerism merupakan sel yang berpindah langsung dari tubuh ibu.
Microchimerism terjadi ketika sebagian kecil sel dari orang lain menetap di dalam tubuh seseorang. Fenomena ini bisa terjadi selama kehamilan karena ibu dan janin dapat saling bertukar sel melalui plasenta. Sebaliknya, sel janin juga bisa masuk ke tubuh ibu. Sebagian sel yang berpindah kemudian tetap berada di dalam tubuh, bahkan setelah bayi lahir.
Sel ibu ditemukan di beberapa bagian otak anak
Melansir Live Science, para peneliti menemukan, sel yang berasal dari ibu di beberapa bagian otak anak menunjukkan karakteristik yang menyerupai beberapa jenis sel otak.
Untuk mencari sel ibu, tim peneliti memeriksa jaringan otak dari anak-anak yang menjalani operasi akibat epilepsi berat. Jaringan tersebut diambil sebagai bagian dari penanganan medis mereka.
Sel ibu ditemukan di beberapa bagian otak, termasuk lobus frontal, lobus temporal, lobus parietal, dan hipokampus. Setiap bagian otak memiliki fungsi yang berbeda. Lobus frontal membantu seseorang merencanakan sesuatu dan mengambil keputusan.
Lobus temporal berperan dalam memproses suara dan memori, sedangkan lobus parietal membantu otak mengolah informasi dari indra. Adapun hipokampus berperan penting dalam pembentukan memori.
Apakah sel ibu bisa bertahan hingga anak berusia lanjut?
Dalam penelitian utama, peneliti memeriksa jaringan otak anak berusia 28 hari hingga 19 tahun yang menjalani operasi untuk menangani epilepsi.
Untuk melihat kemungkinan keberadaan sel tersebut pada usia yang lebih tua, peneliti juga menganalisis data aktivitas gen dari jaringan otak manusia, mulai dari masa kehamilan hingga usia lanjut.
Hasilnya, mereka menemukan tanda-tanda sel dengan karakteristik microchimerism pada berbagai kelompok usia, termasuk orang lanjut usia.
Temuan ini memberi petunjuk bahwa sel dari individu lain mungkin bisa bertahan lama di otak. Meski begitu, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan berapa lama sel ibu dapat bertahan di otak manusia.
(anm/asr)