Wayang Modern

Kisah Pandawa di Meja Judi dalam Bahasa Gaul

Yohannie Linggasari, CNN Indonesia | Selasa, 02/09/2014 17:01 WIB
Kisah Pandawa di Meja Judi dalam Bahasa Gaul Pertunjukan 'Manakala Dadu Berbuah Malapetaka'. (Yohannie Linggasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penggalan kisah Mahabarata, khususnya ketika Pandawa dikalahkan Kurawa di meja judi, masih menarik untuk disimak. Tak sekadar sarat akan pesan moral, penggalan kisah ini tampaknya juga bisa tetap relevan di segala zaman.

Akhir pekan lalu cerita itu dipentaskan lagi oleh sejumlah aktor yang tergabung dalam teater Banyumili Production di Galeri Indonesia Kaya, Mal Grand Indonesia, Jakarta.

Kisahnya diberi judul Manakala Dadu Berbuah Malapetaka, disutradarai oleh Ida Soeseno.


Penggalan cerita yang kerap disebut Pandawa Dadu ini mengisahkan Puntadewa yang khilaf mempertaruhkan Kerajaan Indraprastha berserta jajahannya di atas meja judi.

"Kita seringkali tidak ingat apa yang kita miliki, tetapi mengingat apa yang orang lain peroleh.” Demikian sepenggal dialog yang diucapkan oleh pemeran Raja Dretarastra pimpinan Kurawa, menggambarkan tragedi yang harus ditanggung Pandawa.

Memang kekalahan Pandawa akibat kemenangan Kurawa sebenarnya tak murni-murni amat. Kurawa bermain kotor dan menjebak Pandawa dalam permainan yang curang.

Namun Pandawa juga membuktikan judi tak pernah berujung mulia. Bahkan membuat Puntadewa lupa diri dan mempertaruhkan istri sekaligus saudara-saudaranya.

Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa sempat mengingatkan Puntadewa agar lebih bijaksana. Namun Puntadewa sudah dikuasai egonya.  Drama mencapai klimaks ketika Puntadewa mempertaruhkan istrinya sendiri, Drupadi.

Drupadi akhirnya jatuh ke tangan Kurawa. Dursasana (diperankan Irwan Riyadi) yang telah memendam nafsu birahi terhadap Drupadi pun langsung menangkapnya. Tentu saja Drupadi berontak, membuatnya jatuh terjerembab sampai gelung rambutnya terlepas. Bukan hanya itu, Dursasana juga berusaha menelanjangi Drupadi.

Namun, Yang Maha Kuasa di khayangan tak berkenan Drupadi diperlakukan demikian. Lilitan yang membungkus tubuh Drupadi tidak habis meski terus ditarik Dursasana. Drupadi yang marah karena telah dipermalukan seperti itu kemudian bersumpah,  “Aku tidak akan menggelung rambutku sampai aku keramas dengan darah Dursasana!”

****

Menonton kisah yang lumayan berat ini ternyata tak harus berkerut  kening. Karena bahkan para pemainpun hanya perlu berlatih selama empat hari untuk pertunjukan selama satu jam ini. “Tapi persiapannya perlu waktu dua bulan,” kata Ida sang sutradara.

Karena  bergaya modern, tidak ada alunan gamelan yang mengiringi. Selain itu, para pemain menggunakan kain mengilap tanpa motif batik. Para Pandawa menggunakan kain berwarna cokelat keemasan, sedangkan para Kurawa menggunakan kain berwarna merah.

Naskah mengandung kata-kata  dari bahasa gaul khas anak muda. Misalnya, ketika Puntadewa terus kalah taruhan, Kurawa berceletuk sambil memegang dadanya, “Sakitnya di sini! ”

Kemudian, ketika Bima hendak mengingatkan Puntadewa agar tidak gegabah mengambil keputusan, Kurawa meledek, "Bima sotoy!" Kata-kata gaul demikian semuanya diucapkan oleh para Kurawa. Sementara para Pandawa menggunakan bahasa Indonesia baku.

Nur Wijayanto yang tampil sebagai Bima kerap mengundang tawa penonton. Bima dengan badannya yang lebih berisi dibandingkan karakter lainnya serta kumis lebat, rambut gondrong dan suara geramannya malah ditertawakan para penonton tatkala memarahi Puntadewa.

Adapun, aksi Sangkuni saat mengocok dadu ternyata sulap. Beberapa kali, Sangkuni yang diperankan Ibnu Mahdiansyah menunjukkan dadu kepada penonton, menegaskan dadu yang dimainkan tidak dimanipulasi.

“Saya memang pesulap, makanya kecurangan Kurawa bisa terlihat sangat natural,” ujar Ibnu kepada CNN Indonesia seusai pementasan di Sabtu (30/8).

Sementara itu, Mayong Suryo Leksono tampil sebagai Arjuna. Entah disengaja atau tidak, ia menggunakan jam tangan berwarna perak. Di tengah drama, salah satu Kurawa berimprovisasi dengan melepas secara paksa jam tangan Arjuna.

“Budak kok pakai jam tangan!” ujarnya kemudian memberikan jam tangan tersebut kepada Nurul Arifin, istri Mayong, yang sedang duduk di bangku penonton. Para penonton pun tertawa.

“Saya ingin cerita wayang ini dapat disampaikan dalam bentuk sederhana sehingga banyak orang mengerti,” ujar Ida menegaskan. Seniman dari Banyumili Production ini mengatakan memang memberi kesempatan bagi pemain untuk dapat berimprovisasi sesuai karakter mereka.

Para pemain dalam teater ini di antaranya: Koko Sudarmaji, Aryo Saloko, Ariel Umar, Irwan Riyadi, dan Dewi Wahyuni. Pertunjukan ini terbuka untuk umum dan gratis. Selain didatangi oleh para sosialita dan penggemar cerita wayang, acara ini juga dihadiri mahasiswa.

Salah satunya adalah Eka, mahasiswi Universitas Negeri Jakarta yang mengaku puas dengan pertunjukan ini. “Namun, saya berharap pada masa mendatang bisa lebih melibatkan seniman muda. Kalau ini saya lihat mayoritas sudah senior,” katanya.