Kompetisi Budaya

RI Panen Emas di Ajang Budaya Internasional

Karina Armandani, CNN Indonesia | Rabu, 03/09/2014 16:59 WIB
RI Panen Emas di Ajang Budaya Internasional
Jakarta, CNN Indonesia -- Semarak tari-tarian tradisional di World Championship of Folklore atau World Folk 2014 membuahkan hasil. Indonesia menorehkan prestasi membanggakan dalam ajang kompetisi budaya di Bulgaria yang berlangsung 21 hingga 31 Agustus 2014 itu. Grup tari Gita Gantari Khatulistiwa (GGK) sukses meraih Golden Grand Prix Orpheus. Itu merupakan peringkat tertinggi pada babak Grand Prix World Championship of Folklore 2014. Singkatnya, GGK menjadi Absolute Grand Prix alias Juara Dunia.

Tahun lalu, GGK meraih juara kedua. Tak ingin berada di posisi yang sama, GGK memboyong 59 anggotanya untuk menampilkan berbagai tarian nusantara. Di antaranya: tari Aceh yang terinspirasi dari Saman Gayo dengan rampak gerak dan berbagai rangkaian formasi, tari Greget Dingke (Betawi), tari Katong Parampuang (Papua), tari Ta’mananai (medley tari Indang, Randai , dan Tempurung dari Sumatera Barat), serta Tari Gantar Talu (Dayak).

Paduan nuansa tradisional itulah yang mengantarkan GGK menjadi juara. Persiapannya tidak main-main. GGK tahun ini menggabungkan tiga grup sekaligus, yakni Gantari Gita Khatulistiwa Youth Folk Group, Angsana Prabala Fakultas Teknik Universitas Indonesia, dan SMA Labschool Cibubur. Mereka berlatih intensif selama kurang lebih empat bulan.


Tapi GGK bukan satu-satunya perwakilan Indonesia di ajang itu. Saingan terberat mereka berasal dari negeri sendiri, yakni Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Tari Universitas Hassanuddin Makassar. Kelompok itu membawakan beberapa tarian etnik dari Sulawesi Selatan. Mereka menghadirkan napas Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar di Sveti Vlas, Bulgaria. Tak berbeda dengan GGK, UKM Seni Tari Unhas juga berlatih ekstra. Mereka mempersiapkan diri selama tujuh bulan lamanya.

Usaha mereka pun tak sia-sia. Kelompok itu menempati posisi runner up Grand Prix, di bawah GGK. Perwakilan lain, Garuda Muda Folk Music Ensamble menampilkan medley musik dan lagu dari seluruh nusantara yang dimainkan dengan berbagai jenis alat musik tradisional Indonesia.

Sebelum beradu di final, GGK, UKM Seni Tari Unhas, dan Garuda Muda Folk Music Ensamble telah meraup prestasi masing-masing. GGK memenangkan medali emas untuk kategori Professional Folk Dance Group, sedang UKM Seni Tari Unhas membawa pulang medali emas untuk kategori Students Folk Dance Group. Garuda Folk Music Ensamble mendapat emas untuk kategori Folk Music Ensamble. Sedang Leo Mokodompit, penyanyi yang juga pemimpin GGK memeroleh emas untuk kategori Individual Performance.

Setelah meraih emas di masing-masing kategori, keempatnya lalu ditandingkan pada Grand Prix.

Kiprah dan prestasi yang ditorehkan, disebut Leo sebagai wujud bakti terhadap nusa. “Ini merupakan wujud bakti kami para pemuda Indonesia, baik yang mewakili UKM Seni Tari Unhas, Gantari Gita Khatulistiwa, dan Garuda Muda Folk Music Ensemble dalam melestarikan seni tradisi budaya nusantara,” ucapnya. Leo berharap, generasi muda Indonesia terus aktif mempelajari dan menampilkan seni budaya dalam negeri. Menurutnya, itu bisa membantu diplomasi Indonesia dari segi pertukaran budaya dan persahabatan.

Dubes RI untuk Bulgaria, Bunyan Saptomo mengapresiasi kemenangan perwakilan Indonesia di ajang World Folk 2014. Dalam sambutannya di acara penutupan, ia menyampaikan rasa terima kasih pada tim kesenian Indonesia. Sebab, mereka telah berpartisipasi mempromosikan budaya Indonesia di luar negeri.

***

World Folk 2014 merupakan salah satu festival budaya tahunan terbesar di Bulgaria dan dunia. Kompetisi yang berlangsung selama 10 hari itu diselenggarakan di lima kota di sepanjang laut hitam. Di antaranya: Nessebar, Sveti Vlas, Burgas, Sunny Beach, dan Obzor.

Tahun ini, kompetisi diikuti oleh 90 grup tari dari 21 negara. Jumlah pesertanya mencapai sekitar tiga ribu orang. Indonesia sendiri mengirimkan 78 penari dan pemusik. Jumlah itu merupakan yang terbanyak dalam sejarah promosi budaya Indonesia. Penampilan mereka berhasil menyedot perhatian.

Presiden World Association of Folklore Festival (WAFF), Kaloyan Nikolov menyatakan kekagumannya terhadap keragaman budaya Indonesia. Ia juga berharap, masyarakat Negeri Zamrud Khatulistiwa dapat melestatikan kekayaan budayanya. Pesan itu terutama disampaikannya pada generasi muda.

Selain Indonesia, negara yang ikut berpartisipasi antara lain: Iran, Tiongkok, Rusia, Georgia, Armenia, Turki dan Kroasia. Kompetisi bergengsi itu mendatangkan juri-juri internasional terbaik. Tahun ini, juri berasal dari Mongolia, Armenia, Rusia, Jerman, Iran, dan Turki.