Kisah Korban Pemerkosaan

Cerita Bisu Dalam Selimut Perca

Karina Armandani, CNN Indonesia | Rabu, 03/09/2014 17:10 WIB
Cerita Bisu Dalam Selimut Perca
Jakarta, CNN Indonesia -- Rocio Moreno mengatakan butuh lebih dari lima tahun untuk meninggalkan suaminya yang kasar.

Sepanjang pernikahan mereka, ia sering mengalami berbagai perlakuan seksual yang tidak diinginkan. Jika ia menentang perintah ke mana dan dengan siapa ia menghabiskan waktu luangnya, suaminya itu akan menanggapi dengan pelecehan verbal dan fisik.

Akhirnya ia memutuskan cukup sudah hari-hari ia dipukul di depan anaknya.


“Saat ia memukul saya, saya sadar bahwa ia bisa membunuh saya,” katanya. “Saya memutuskan tidak ada lagi kekerasan. Saya tidak ingin anak saya melihat dia memperlakukan saya seperti itu.”

Ia meninggalkan suaminya dua tahun lalu dan pindah ke tempatnya sendiri. Kebanyakan ia simpan segala cobaan untuk dirinya sendiri, sampai ia menemukan keberanian mengekspresikan diri di Monumen Quilt, di mana tersimpan ratusan cerita.

Kata-katanya dalam bahasa Spanyol terukir di persegi merah sebesar 4 kaki bersama dengan cerita orang lain di kain sebesar 16 kaki. Ketika di tata keseluruhan, kotak-kotak warna-warni yang terdiri dari 250 cerita pemerkosaan dan pelecehan terbaring seluas 100 kaki.

“Kau bilang bahwa kau mencintaiku tetapi sekarang saya tahu dan saya mengerti bahwa saya diperkosa. Aku istrimu, bukan propertimu,” katanya.

***

Gagasan kelompok aktivis yang berbasis di Baltimore ‘Force: Upsetting Rape Culture’ tersebut adalah proyek Monumen Quilt yang berhenti 13 kali di 12 negara bagian. Proyek tersebut menampilkan bagian-bagian selimut perca di ruang publik dan mengembangkan jejaknya melalui workshop pembuatan selimut perca.

“Tujuan dari proyek ini adalah untuk menciptakan ruang penyembuhan oleh dan untuk para korban”, kata Rebecca Nagle, pendiri Force.

Selimut perca ini berevolusi menjadi diskusi mengenai cara membuat sebuah monumen permanen bagi korban perkosaan, mirip dengan peringatan untuk veteran perang. Berdasarkan penelitian, monumen publik dapat membantu korban pulih dari trauma.

Merajut memiliki sejarah panjang yang terhubung dengan gerakan-gerakan keadilan sosial, mungkin yang paling diingat adalah AIDS Memorial Quilt, yang memulai turnya ke seluruh negara pada tahun 1988 mengenang mereka yang meninggal akibat penyakit ini.

Nagle berharap dengan membawa para saksi ke proyek ini akan membantu mengikis stigma yang melekat pada pemerkosaan, seperti efek selimut perca AIDS yang meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penyakit tersebut.

“Saat kita menghilangkan stigma dari perkosaan dan kami dapat menyelenggarakan komunikasi publik dan tidak menyalahkan korban, hal itu merupakan satu langkah lebih dekat untuk mengontrol epidemi.”

Kehadiran selimut perca ini mengubah taman, lapangan olahraga, dan lapangan kota menjadi ruang untuk berduka dan merenung, kata Karen Taylor pekerja sosial di Baltimore yang membantu secara sukarela untuk Force.

“Proyek ini menciptakan ruang bagi komunitas untuk saling mendukung bukan menjadi beban trauma masing-masing pendukung atau korban,” kata Taylor. “Hal ini dapat memperkuat dan meyakinkan. Hal ini dapat mengangkat. Tidak hanya tersimpan oleh anda sendiri.”

Bagian penyembuhan berasal dari dampak kolektif dengan menjadi saksi ratusan cerita para korban. Hal ini juga datang dari menciptakan selimut, beberapa di antaranya dimulai pada workshop beberapa minggu sebelum Monumen Quilt datang ke kota.

Force bekerjasama dengan organisasi-organisasi pencegahan berbasis masyarakat dan keamanan publik, yang membuat lokakarya hingga menjangkau masyarakat. White Buffalo Calf Women Society dari Dakota Selatan menyelenggarakan lokakarya dua minggu sebelum kedatangan proyek selimut tersebut, ditampilkan di sebuah sekolah menengah setempat.

Merajut adalah tradisi budaya suku Sioux yang mendiami wilayah tersebut, membuat proyek ini ideal bagi komunitas yang dilayani di penampungan.

“Hal ini memberi mereka suara tanpa menempatkan mereka dalam sorotan, saya pikir hal ini sangat kuat, dan cara yang baik memulai proses penyembuhan,” kata koordinator pendidikan Summer Lunderman.

“Untuk berdiri dalam solidaritas yang tidak hanya dengan saudara-saudara kita di sini tetapi seluruh perempuan di Amerika Serikat akan sangat memberdayakan. Mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian.”

Membantu orang lain dengan selimut mereka masing-masing membangkitkan kenangan Lunderman yang dianiaya saat kanak-kanak. Kotak miliknya berbunyi “Perempuan Lakota adalah Suci.”

“Proyek ini menciptakan ruang yang aman dan sangat saya perlukan.”

Menyaksikan proyek ini menginspirasi aktivis Baltimore Melaine Keller membawa kisah dirinya yang diperkosa. Keller membantu mengatur lokakarya melalui pekerjaannya dengan organisasi antipelecehan di jalan “Hollaback! Bmore.” Tetapi ia tidak pernah mengidentifikasi dirinya sebagai korban pemerkosaan secara publik.

Kebanyakan cerita pelecehan seksual di media berfokus pada bahaya orang asing, kencan pemerkosaan, atau pengalaman dengan siswa kulit putih kelas menengah, katanya. Melihat berbagai macam pengalaman yang ditunjukan dalam selimut perca menginspirasi Keller, yang akhirnya memutuskan untuk membuat kotaknya sendiri.

“Yang saya suka tentang proyek ini secara keseluruhan adalah narasi tentang penguasaan diri oleh korban,” katanya. “Ini berbicara mengenai beragam pengalaman yang berbeda tentang pelecehan dan pemerkosaan karena kami sendiri yang berbagi cerita dengan cara yang kami pilih.”

Moreno mengatakan bahwa ia menciptakan perseginya dengan lancar. Ia berharap dengan berbagi kisahnya akan menginspirasi orang lain untuk membebaskan diri dari keputusasaan.

“Membaca kata-kata ini memberitahu Anda bahwa ada peluang untuk memutus siklus kekerasan ini,” katanya. “Tidak harus seperti ini.”