Festival Asian Future

Selamat Pagi, Malam Bersaing di Tokyo

Christina Setyanti, CNN Indonesia | Selasa, 21/10/2014 17:24 WIB
<i>Selamat Pagi, Malam</i> Bersaing di Tokyo Salah satu adegan Selamat Pagi, Malam (Dok. Kepompong Gendut)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dengan segala kemacetan dan topeng-topeng manusia yang berkedok tuntutan sosial tinggi dan menghalalkan segala cara, Jakarta tetaplah indah.

Pesan ini yang coba diberikan sutradara Lucky Kuswandi kepada masyarakat Jakarta dan sekitarnya, lewat film independen Selamat Pagi, Malam (In The Absence Of The Sun). Pesan ini tak hanya menyebar di kalangan kaum urban Jakarta, tetapi juga seluruh dunia.

“Film ini terpilih menjadi satu-satunya film Indonesia yang akan berkompetisi di bagian Tokyo International Film Festival di Tokyo,” kata Lucky Kuswandi kepada CNN Indonesia, Selasa (21/10).


Lucky mengatakan, keikutsertaannya di festival Tokyo dimulai saat ia mengunjungi festival film di Cannes beberapa waktu lalu. “Di sana saya ketemu programmer dari Tokyo, dan saya kasih langsung ke mereka untuk ikut serta di festival ini,” ucapnya.

Nyatanya, kemiripan kultur, budaya dan aliansi antara Indonesia dan Jepang membuat film independen ini berhasil menjadi satu dari sembilan film terbaik se-Asia. Festival ini akan dihelat di Jepang, 23-31 Oktober 2014 mendatang.

Pentas film internasional di Tokyo ini akan menjadi pentas internasional pertama Lucky. “Tokyo adalah pentas pertama di Internasional. Selanjutnya akan dikirim beberapa festival internasional lagi,” katanya.

Sebelumnya, ia mengaku juga membawa film tersebut ke pentas festival film lokal. Film ini masuk dalam nominasi di Apresiasi Film Indonesia yang digelar bulan September lalu di Medan.

Membawa film yang bercerita tentang kehidupan sosial masyarakat Jakarta ke tingkat internasional, diakui Lucky juga bertujuan untuk memperkenalkan kehidupan kota Jakarta. “Selama ini image Indonesia itu enggak jauh dari Bali yang eksotis. Saya coba perkenalkan Jakarta,” ucapnya.

Melihat hasilnya yang menggembirakan, tantangan yang sempat dihadapinya pun terbayar sudah. “Film ini adalah film independen, syutingnya hanya sembilan hari dan malam pula. Dana pun terbatas,” kata Lucky.

Jakarta, kota penuh perubahan

Film Selamat Pagi, Malam menghadirkan berbagai fakta Ibu Kota yang selama ini meresahkan tapi dianggap biasa.

Sembilan tahun tinggal di New York untuk menimba ilmu perfilman membuat Gia (Adinia Wirasti) mengalami culture shock saat ia harus kembali di Jakarta.

Jakarta yang dikenalnya ternyata sudah tak ada lagi. Jakarta sudah berubah. Dalam pandangannya, semua hal ternyata bisa berubah dalam satu malam saja, termasuk karakter sahabat baiknya, Naomi (Marisa Anita). Naomi tak bisa menerima kenyataan bahwa ia kembali ke Jakarta.

Alhasil, ia merasa lebih nyaman untuk menjadi sosok New Yorker girl dan sosialita kota Jakarta. “Gia, ini Jakarta, kalau gue pura-pura jadi foreigner semuanya jadi lebih gampang,” kata Naomi dalam salah satu adegan filmnya.

Topeng-topeng sosial di masyarakat yang digambarkan Lucky tak hanya sebatas 'gaya bule' saja. Para social climber atau orang yang ingin menaikkan status sosialnya di masyarakat dengan cara instan pun diceritakan. Film ini juga didukung penggambaran kota Jakarta di waktu malam yang penuh gemerlap lampu kota dan mobil yang tengah terjebak macet.

Diakui Lucky, alur cerita film ini dibuat berdasar pengalamannya sendiri. “Saya merasakan sendiri, Jakarta berubah ketika saya kembali ke sini dari New York. Rumah yang dulu ada sekarang sudah tidak terasa lagi,” tuturnya.

Melalui film ini pula, Lucky seperti menyindir masyarakat Jakarta yang hidupnya seolah penuh kepalsuan. “Banyak orang Jakarta yang pakai topeng, semuanya untuk memenutuhi tuntutan sosial mereka demi hidup, bayangan macet, masalah kompleks, sampai banjir, tapi semuanya dari Jakarta itu ngangenin. Ya, welcome to Jakarta lah,” ucapnya.