Aruna dan Lidahnya

Nama Curian di Novel Anyar Laksmi Pamuntjak

Vega Probo, CNN Indonesia | Senin, 17/11/2014 10:21 WIB
Nama Curian di Novel Anyar Laksmi Pamuntjak Penulis yang hobi dan obsesi makan, Laksmi Pamuntjak, merilis novel terbaru Aruna dan Lidahnya (13/11) di Jakarta. (Koleksi pribadi Laksmi Pamuntjak)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wajah Laksmi Pamuntjak tampak sumringah saat merilis Aruna dan Lidahnya di Canteen-Aksara, SCBD, Jakarta, Kamis lalu (13/11). Padahal beberapa waktu lalu, ia sempat sakit dan berobat ke luar negeri. Agaknya peluncuran novel teranyar ini membuatnya bersemangat. Kepada CNN Indonesia, penulis ayu ini mengungkapkan siapa gerangan muse yang melatarbelakangi penokohan Aruna. 

(Baca Juga: Laksmi Pamuntjak 'Terlambat' Empat Bulan)

"Nama Aruna saya ‘curi’ dari nama seorang remaja cantik jelita, Aruna Anderson, anak teman baik saya," ia mengungkapkan. "Saya suka nama Aruna—selain tidak pasaran, kesannya anggun, misterius, kuat dan berpendirian. She knows who she is. Kebetulan ibu Aruna Anderson, Avi Mahaningtyas, seorang aktivis lingkungan hidup, adalah juru masak yang terhebat di kalangan teman-teman saya."


Di mata Laksmi, Avi adalah contoh nyata seseorang yang merayakan kehidupan lewat makanan, lewat pertemanan. "Menamai tokoh saya Aruna—seperti anaknya—adalah semacam tribut saya untuk Avi," kata Laksmi sembari merinci sifat Aruna versi novel merupakan perpaduan sifat teman baiknya, plus sifat dirinya sendiri yang mencintai kesendirian dan selalu memikirkan makanan: pagi, siang, malam

Sama halnya dengan Aruna, dua tokoh lain dalam novelnya, Bono dan Nadezhda, juga kombinasi sifat sejumlah orang yang dikenal dan dibayangkan Laksmi. Bono memiliki intellectual curiosity tentang makanan, piawai meramu menu Barat dan Timur: bakmi foie gras, nasi goreng wagyu, sambal goreng pete di atas seiris ikan tuna goreng. "Bono mengingatkan saya pada Chef Adhika Maxi dari Union."

Sementara Nadezhda disebut Laksmi sebagai, 'The Asian ‘Padma Lakshmi.' Sebagai tokoh yang paling fantastis, Nadezhda digambarkan sebagai gadis muda yang supercantik, superpintar, super-stylish, super-kosmopolitan, super-terpelajar. "Jarang banget ada cewek seperti ini. Tapi ya, itulah asyiknya menulis fiksi," perempuan yang gemar membaca beberapa buku sekaligus ini sembari tergelak.

Demi Aruna dan Lidahnya, Laksmi melakukan riset makanan, juga riset ke rumah sakit atau puskesmas. Dari segi sains dan perkembangan peta politik flu unggas, ia mendapat masukan berharga dari epidemiologis handal Pandu Riono. Dari sinilah, ide untuk mengemas bagian flu unggasnya dalam bentuk political satire yang ringan, untuk menunjukkan realita kebobrokan sistem dan mewabahnya budaya korupsi di Indonesia.

Saat ditanya perihal reaksinya saat merebak kasus flu unggas, pada 2004, Laksmi mengaku anaknya malah memelihara banyak unggas. "Sepasang ayam jago dan betina bernama Bailey dan Dahlia. Si Bailey gagah, keren dan suka mematuk tamu. Sementara Dahlia sangat 'seksi,'" kata Laksmi yang juga memelihara sepasang burung merpati, Maximus dan Sharlinda.

Atas permintaan keluarga besarnya, unggas-unggas ini terpaksa diungsikan. Sedih, Laksmi pun melakukan semacam 'silent protest,' tetap menyantap masakan ayam, bebek dan burung puyuh. Begitulah Laksmi, memang sulit dipisahkan dari makanan. Akhir November nanti, ia siap tampil di sebuah festival di Kemang yang berfokus pada sastra dan kuliner. Berikutnya, ia juga berencana membuat Festival Mie besar-besaran di Jakarta.