Seluk Seluk Bioskop

Kebangkitan Film & Bioskop Tergantung Moviegoers

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Senin, 22/12/2014 21:45 WIB
Kebangkitan Film & Bioskop Tergantung Moviegoers Apresiasi moviegoers mempengaruhi keberlangsungan bioskop dan produksi film. (Bet_Noire)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kegemaran menonton film di bioskop boleh dikatakan belum surut. Terbukti, bioskop-bioskop masih ramai dijejali moviegoers, terutama bila film yang ditayangkan mendapat ulasan positif di media massa.

Kabar baiknya, sebuah eksekutor tertua bioskop modern Indonesia siap membangun bioskop-bioskop baru di beberapa kota, seperti Palu, Tanjung Pinang, Mataram, Singkawang, Padang, dan Karawang. Kesempatan memirsa film layar lebar pun semakin meluas.

(Baca Juga: Bioskop Membanyak, Edukasi Budaya Meluas)


Lamanya penayangan film di bioskop ditentukan oleh jumlah penonton. Jika jumlah penonton sedikit, maka pihak eksekutor bioskop modern terpaksa mengurangi jatah penayangannya. Semisal, semula dua studio, dikurangi menjadi satu studio saja.

"Untuk film Indonesia, jika penontonnya sedikit, kami pantau dahulu selama lima hari, jika masih belum berubah, maka akan kami kurangi, bukan langsung dihilangkan," ujar Catherine Keng, mewakili sebuah eksekutor tertua bioskop modern Indonesia.

“Meskipun jumlah penonton film Indonesia hanya belasan di satu studio, tetap kami pertahankan, meskipun secara hitungan ekonomi rugi," katanya kepada CNN Indonesia (22/12). "Tetapi untuk film asing, jika tidak laku, akan langsung kami cabut.”
 
Untuk menyiasati kerugian, pihaknya mengandalkan keuntungan yang didapat dari film-film box office dan film Indonesia yang memang memiliki jumlah penonton yang banyak. Sayangnya, tidak semua film Indonesia dapat sukses secara nasional.  

Ada kalanya, unsur lokalitas menentukan keberhasilan suatu film. Salah satunya, 3 Nafas Likas yang mengisahkan kehidupan wanita keturunan Batak. Film yang meraih nominasi piala Citra 2014 ini merajai layar bioskop di Medan, Sumatra Utara.

Demi meningkatkan jumlah penonton film Indonesia, pihak eksekutor bioskop modern menjalin kerja sama dengan pihak produser. Atau, film diserahkan ke salah satu pihak, baik produser maupun bioskop.

Pihak eksekutor bioskop modern memang bukan satu-satunya yang bertanggung jawab atas kondisi perfilman Indonesia, namun tak jarang menjadi sasaran kesalahan bila film Indonesia masih tertinggal dibandingkan film Barat ataupun Asia lainnya.

“Ada kalanya, pihak produser melontarkan protes jika studio atau layar yang digunakan untuk menayangkan film Indonesia dikurangi,” kata Catherine yang menjabat corporate secretary sebuah eksekutor tertua bioskop modern.

“Namun kami punya alasan dan bukti jika tindakan tersebut harus dan terpaksa kami lakukan.” Yang jelas pihaknya telah memberikan proteksi dan kesempatan bagi film negeri sendiri, namun perkara kuantitas penonton memang sulit diprediksi.

Eksekutor bioskop modern pasti membuka pintu selebar-lebarnya untuk kebangkitan film nasional. Nah, sekarang tergantung pada moviegoers: apakah masih peduli dengan film Indonesia ataukan membiarkannya diputar di bioskop tanpa ada yang menonton?

(Baca Juga: Dilema Bioskop Indonesia dalam Gempuran Pesaing)