Film Hijab

Ada 'FPI' di Film Terbaru Hanung Bramantyo

Rahmi Suci Ramadhani, CNN Indonesia | Rabu, 14/01/2015 12:15 WIB
Ada 'FPI' di Film Terbaru Hanung Bramantyo Konferensi pers film Hijab di Kuningan, Jakarta, Selasa (13/1) (CNN Indonesia/Rahmi Suci Ramadhani)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sutradara Hanung Bramantyo bukan hanya identik dengan film besar. Karyanya juga kerap menuai kontroversi. Lihat saja film ? dan Cinta Tapi Beda yang pernah didemo pegiat Front Pembela Islam. Karya terakhirnya, Soekarno: Indonesia Merdeka juga ribut sampai ke meja hijau.

Kini, Hanung bersama istri, Zaskia Adya Mecca merilis film baru yang dekat dengan persoalan agama. Hijab. Ditemui saat pemutaran perdana film di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (13/1) Zaskia menuturkan, film itu mengisahkan para istri yang beraktualisasi diri di luar. Kebetulan, mereka berbisnis hijab.

Lagi-lagi, film garapan Hanung mengundang kontroversi. Ia bahkan dengan berani menampilkan 'FPI' di dalamnya. Itu terjadi saat adegan Dion Wiyoko yang memerankan seorang sutradara, merilis film kontroversial. Filmnya berkisah soal perempuan yang memilih hidup bersama babi ketimbang kambing. Dion pun didemo. Salah satu pendemo, terlihat membawa poster Hanung.


Bukan itu saja, para istri di film itu yang dimainkan Zaskia, Tika Bravani, Carissa Putri, dan Natasha Rizky juga ditampilkan berhijab dengan aneka model. Tidak semua syari. Ditanya apakah khawatir itu menimbulkan protes dari kalangan Muslim, Hanung dan Zaskia menampik.

Meski saat konferensi pers Hanung menyiapkan pengacara, ia menolak disebut sengaja membuat film kontroversial demi menggaet penonton.

"Bagi saya film-film box office itu yang di atas dua juta penontonnya. Box office juga enggak selalu kontroversial, lihat saja AADC, 5 CM. Jadi kalau dikatakan film kontroversi dijadikan medium untuk promosi, saya tidak pernah membuat itu," ujarnya menegaskan.

Hanung mengaku membuat film yang idenya didapat dari Zaskia itu, karena tertarik mengamati fenomena unik di Indonesia. Menurutnya, di negeri ini hijab bukan sekadar busana. Lebih dari itu, penutup kepala dan busana longgar yang dikenakan perempuan Muslim juga merupakan identitas kultural sekaligus ketakwaan.

"Tapi di balik itu semua, kita temukan fenomena yang lucu, satire," ucapnya. Ia melanjutkan, "Kita tidak memfilmkan bahwa hijab itu wajib atau bagaimana, tapi hanya memotret realitas, bahwa ini lho, ada hijab yang turban, ada yang syari, dan lain-lain."

(rsa/vga)