Rumah Film Indonesia Buka Pintu bagi Para Pelawan Arus

Vega Probo, CNN Indonesia | Jumat, 30/01/2015 21:20 WIB
Rumah Film Indonesia Buka Pintu bagi Para Pelawan Arus Nia Dinata berkesempatan memutar filmnya, Kebaya Pengantin, di Rumah Film Indonesia. (CNNIndonesia/Endro Priherdityo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Peresmian Rumah Film Indonesia disambut baik oleh sineas Indonesia, khususnya oleh pembuat film dengan genre tak biasa yang kerap kali "tersisihkan" di jagat layar lebar film Indonesia. Di antaranya, film pendek dan film dokumenter.

"Ya kita memang perlu Rumah Film Indonesia atau arthouse cinema yang enggak hanya memikirkan komersial tetapi juga film-film yang jarang atau bahkan tidak pernah diputar di bioskop," kata Nia Dinata, ditemui usai menghadiri pembukaan Rumah Film Indonesia di Pacific Place, Jumat (30/1).

Sutradara film pendek Kebaya Pengantin yang menjadi salah satu film pembuka yang diputar di Rumah Film Indonesia tersebut mengaku senang dengan dibukanya Rumah Film Indonesia.


Menurutnya, memang sudah saatnya Indonesia memiliki arthouse cinema selayaknya di negara-negara lain. "Saran aku sih, mungkin proses kurasinya harus dipikirkan dengan baik. Memang harus strategis programnya, harus dipikirkan oleh yang mengelola," kata Nia memberikan saran.

Dia mencontohkan, Rumah Film Indonesia juga dapat merencanakan program omnibus atau gabungan film pendek dengan tema-tema serupa untuk diputar bersama-sama. "Atau di setiap film panjang yang diputar selalu diawali film pendek sehingga film pendek dapat ruang juga," tuturnya.

Ima Puspita Sari, sutradara muda Indonesia juga menyampaikan hal senada. Sutradara film dokumenter berjudul Nyalon yang juga menjadi film pembuka Rumah Film Indonesia ini juga mengaku senang.

"Dokumenter selama ini menjadi anak bawang di mana pun. Padahal banyak orang yang menjadi profesor karena buat penelitian dengan film dokumenter, sayang di Indonesia fokusnya belum begitu besar," kata Ima.

Ima menuturkan, dijadikannya film dokumenter sebagai film pembuka Rumah Film Indonesia merupakan berkah bagi seluruh pembuat film dokumenter di Indonesia.

"Selama ini film dokumenter akhirnya hanya ditonton oleh kita sendiri, diputar di komunitas, kemudian dibuat DVD yang dibeli oleh teman-teman kita juga," tutur Ima.

Seperti seniornya Nia, Ima juga menyarankan agar proses kurasi film di Rumah Film Indonesia diperhatikan dengan baik. Ima berpendapat, walaupun Rumah Film Indonesia ditujukan sebagai ruang bagi film-film dengan genre tertentu yang jarang diputar di layar lebar, tidak semua film dapat ditayangkan sesukanya.

"Ingin ada standar supaya ini jangan sampai kelasnya di bawah bioskop lain," tandas Ima.

Dia mengatakan, Rumah Film Indonesia harus memiliki standar kurasi agar bisa menjadi pilihan masyarakat yang ingin menonton film dengan estetika gambar, cara tutur, dan subjek yang berbeda dengan film layar lebar pada umumnya.

(vga/vga)