Film tentang Pembantaian 1965 di Indonesia Dipuji di Swedia

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Selasa, 03/02/2015 20:00 WIB
Film tentang Pembantaian 1965 di Indonesia Dipuji di Swedia Poster publikasi pemutaran dan diskusi film Senyap alias Look of Silence. (Dokumentasi: LPPM Sintesa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Film yang berkisah soal sejarah kelam pembantaian Partai Komunis Indonesia (PKI) menuai pujian di dunia. Setelah berhasil memenangi penghargaan tertinggi dari juri di Festival Film Venesia, kini giliran ajang film di Swedia yang terkagum-kagum akan The Look of Silence, alias film Senyap.

Film garapan sutradara Joshua Oppenheimer itu mendapat penghargaan Film Dokumenter Terbaik di Goteborg Film Festival, Swedia, Senin (2/2). The Look of Silence merupakan sekuel film Oppenheimer sebelumnya, yang berjudul The Act of Killing alias Jagal.

Kalau The Act of Killing bercerita dari sisi Anwar Ko Go yang mewakili masyarakat pembantai para terduga PKI, The Look of Silence lebih humanis.


Oppenheimer "meminjam" sudut pandang Adi Rukun, seorang ahli kaca mata di Deli Serdang yang kakaknya menjadi korban keganasan Negara pada PKI. Adi menemui satu per satu pembantai kakaknya, menjemput detik demi detik nyawa sang kakak dalam memori mereka.

"Sampai sekarang yang mendapat stigma negatif tetap korbannya, tapi saya tidak mau anak saya berpandangan negatif terhadap PKI," ujar Adi dalam pemutaran perdana film The Look of Silence di Taman Ismail Marzuki, tahun lalu.

Ia ingin meluruskan sejarah yang diputarbalikkan selama sekian lama oleh Orde Baru. Sekaligus ingin membuka mata masyarakat bahwa pembantai PKI 1965 yang disebut-sebut sebagai pembela negara sejatinya telah "dicuci otak" dengan tujuan tertentu.

Oppenheimer, sutradara asal Amerika menggarap The Look of Silence bersama sekelompok kru Indonesia yang hanya mau disebut anonim. Riset dan pendekatannya tidak singkat.

Oppenheimer pernah mengatakan, kedua filmnya bertujuan membuka sejarah agar pemerintah sekarang menyadari kesalahannya dan meminta maaf, bukan sekadar mengorek luka lama dan menyebarkannya ke mata dunia.

Di Indonesia sendiri, The Look of Silence bisa diputar secara terbatas. Namun, beberapa kali pemutaran terpaksa batal karena mendapat serangan, seperti di Malang dan Yogyakarta.

Sayang, tak seperti The Act of Killing yang berhasil masuk nominasi Academy Awards untuk Fikm Dokumenter Terbaik, The Look of Silence hanya berjaya di festival-festival. The Act of Killing juga tak berhasil membawa pulang Piala Oscar tahun lalu, karena dikalahkan oleh film lain, 20 Feet from Stardom.

The Look of Silence bukan satu-satunya film dengan isu serius dan mendalam yang memenangi Goteborg Film Festival. Dalam festival yang berlangsung 23 Januari hingga 2 Februari 2015 itu, In Your Arms menjadi Film Terbaik. Film garapan sutradara berdarah Denmark, Samanou Acheche Sahlstroma itu berkisah soal euthanasia atau suntik mati.

Mengutip Variety, kemenangan membuatnya layak atas hadiah sebesar US$ 120 ribu. Sedangkan Ingmar Bergman International Debut Award jatuh kepada film The Lesson, yang bercerita soal guru di provinsi di Bulgaria yang terbelit utang.

In the Crosswind, film garapan Martti Helde menjadi Film Fitur Terbaik. Besutan sutradara asak Estonia itu bercerita soal penduduk di Baltik yang pada musim panas 1941 telah dideportasi ke Siberia. Mereka juga mendapat titah untuk dibunuh dari pemimpin Soviet, Joseph Stalin.

Sementara itu, The Swedish Church’s Angelos Award diberikan kepada film yang digarap Magnus Gertten, Every Face Has a Name. Film itu menggunakan cuplikan sesungguhnya dari arsip sejarah tentang kamp konsentrasi Jerman yang datang ke Malmo tahun 1945.

Penghargaan lainnya, Sven Nykvist Cinematography Award diberikan kepada film drama remaja, They Have Escaped. Penghargaan juri jatuh je tangan sutradara John Skoog untuk film Swedia, Reduit (Redoubt), sementara penghargaan publik diperuntukkan bagi film garapan Amanda Kernell, Northern Great Mountain.

Akhirnya, Mai Zetterling Scholarship diberikan kepada sutradara Swedia, Mans Mansson lewat filmnya Stranded in Canton.

(rsa/vga)